Nasionaknews.id, Jogyakarta – Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Anak-anak terutama bayi dan balita termasuk kelompok berisiko tinggi terinfeksi TBC. Apabila tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi TBC berat, yang berisiko menyebabkan kematian atau disabilitas jangka panjang.
Kasus TBC pada anak di Puskesmas Kabupaten Bantul tercatat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2022 terdapat 15 kasus, kemudian pada tahun 2023 mengalami kenaikan menjadi 30 kasus, dan pada tahun 2024 juga mengalami kenaikan menjadi 33 kasus. Oleh karena itu, pada awal tahun 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menjalin kerja sama dengan Susu Ghonamilk dalam penanganan balita penderita tubercolosis (TBC).
Sebagai pilot project, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menetapkan Puskesmas Banguntapan I sebagai lokasi intervensi, karena memiliki jumlah balita penderita TBC terbanyak di antara 26 puskesmas lainnya di wilayah Bantul.
Intervensi dilakukan melalui pemberian Susu Ghonamilk kepada balita penderita TBC selama 4 bulan. Terdapat 4 balita dengan TBC di Puskesmas Banguntapan I yang mendapatkan intervensi Susu Ghonamilk. Dosis yang diberikan adalah 3 kali sehari, 2 sendok makan (20 gram) diseduh dengan 200 ml air hangat.
Sebelum intervensi dimulai, balita dilakukan penimbangan berat badan sebagai data dasar / data awal intervensi. Penimbangan dilakukan untuk mendapatkan data kenaikan berat badan perbulan dan status gizi berat badan berdasarkan usia (BB/U) selama intervensi Susu Ghonamilk tersebut.
Septian Fajar sebagai principal Produk susu Kambing Ghonamilk mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut adalah peduli kesehatan terhadap warga masyarakat.
“Kerjasama dengan Dinas kesehatan Bantul ini wujud dari Susu Ghonamilk peduli kesehatan masyarakat terutama para penderita TBC, tidak menutup kemungkinan bahwa kami dari PT Rajawali Nusindo sebagai penyalur resmi produk Susu Ghonamilk akan bekerjasama dengan Dinas kesehatan di daerah lain untuk mencegah dan menanggulangi penyakit TBC,” ungkapnya.
Sambutan baik juga diungkapkan dari perwakilan Dinas Kesehatan Bantul
“Pendampingan yang dilaksanakan bersama CV. Global Wardhana sentosa sebagai produsen Susu Ghonamilk selama 4 bulan kedepan menyisir pada penderita TBC terutama balita, dan hasilnya positif dilihat dari kenaikan berat badan bayi penderita TBC,” ujarnya.
Sementara Leny bagian P2 Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul.
Berdasarkan hasil pemantauan berat badan selama intervensi Susu Ghonamilk selama 4 bulan, diketahui bahwa semua balita mengalami kenaikan berat badan.
“Rata-rata kenaikan berat badan balita adalah 500 gram per bulan. Terdapat dua anak yang mengalami kenaikan berat badan hingga 700 gram, masing-masing kenaikan pada satu bulan pertama pemberian dan pada bulan kedua pemberian,” ucapnya.
Harapan dari program pendampingan Susu Ghonamilk bersama Dinas kesehatan Bantul terhadap balita penderita gangguan TBC agar angka kematian bayi akibat penyakit TBC dapat ditekan dan mampu mengurangi resiko penderita TBC di wilayah Bantul khususnya pada balita.
Reporter : Rohman arby






