NASIONALNEWS.ID, Jakarta – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Badan Bahasa Kemendikdasmen) terus melakukan Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang berfokus bagi generasi muda.
Dari langkah itu telah dilakukan terhadap 120 bahasa daerah di 38 provinsi melalui kerjasama dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah (pemda), satuan pendidikan, dan masyarakat sampai 2025.
Langkah ini sebagai bentuk menjaga keberlanjutan bahasa dan identitas bangsa.
“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda,” kata Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin.
Pernyataan ini disampaikannya dalam ‘Gelar Wicara Hari Bahasa Ibu Internasional 2026’ bertajuk ‘Peran Generasi Muda dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa’, di Jakarta pada Rabu (18/2/2026).
Berdasarkan pemetaan vitalitas bahasa sejak 2019 menyebutkan Indonesia memiliki 718 bahasa daerah.
Kondisi ini membuat Indonesia menjadi negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia.
Namun, sebagian bahasa tersebut kini berstatus rentan, terancam punah, hingga kritis saat arus globalisasi.
Bahasa ibu tidak hanya sebagai alat komunikasi, tapi jembatan yang menghubungkan hati.
Selain itu menghidupkan sejarah dan membawa nilai budaya dan karakter bangsa.
“Ketika sebuah bahasa daerah hilang, maka hilang pula sebagian jati diri kita,” ujarnya.
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia Untuk UNICEF (KNIU), Ananto Kusuma Seta menambahkan sejarah kelahiran peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional berakar dari perjuangan bahasa di Bangladesh.
Pemuda merupakan pencipta bersama pendidikan masa depan. Bahasa ibu merupakan fondasi literasi dan pendidikan multibahasa.
“Bahasa ibu memuat tata krama dan nilai-nilai kemanusiaan. Bahasa daerah menguatkan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Di saat yang sama, generasi muda juga perlu menguasai bahasa asing untuk berdaya saing global tanpa kehilangan identitas nasional,” tuturnya
Perwakilan UNESCO Indonesia, Gunawan Zakki, menanggapi generasi muda berperan melestarikan bahasa daerah.
Pemuda memiliki kemampuan berbagi, berjejaring, dan berkreasi, serta konten digital yang dapat menyisipkan bahasa daerah.
Bupati Kabupaten Sumba Timur, Umbu Lili, mengutarakan literasi yang rendah menjadi salah satu faktor tingginya angka putus sekolah saat transisi dari SD ke SMP.
Dengan kerja sama Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia, pemda memiliki kebijakan melalui pembelajaran di kelas awal dengan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar.
“Hasilnya signifikan. Anak-anak yang sebelumnya belum lancar membaca kini menunjukkan peningkatan kemampuan literasi,” ucapnya
“Karena itu, kami menginstruksikan penggunaan bahasa daerah di kelas awal dengan dukungan guru senior yang menguasai bahasa setempat.”
Kepala SDN Aebowo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Maria Ugha, mengungkapkan mayoritas peserta didik kelas awal belum memahami bahasa Indonesia.
Pasalnya, sehari-hari menggunakan bahasa ibu.
Ketika pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, siswa tidak merespons, merasa stres dan mengalami kesulitan memahami materi.
Kondisi ini mendorong sekolah melakukan penyesuaian dengan menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas awal.
Melalui pelatihan bersama INOVASI, guru sebagai fasilitator diberikan pendampingan dalam menerapkan strategi pembelajaran berbahasa daerah di kelas awal.
Langkah ini dilakukan dengan metode bermain, bernyanyi, penggunaan kartu huruf, membaca gambar, hingga menulis secara bertahap.
Hasilnya, suasana kelas menjadi lebih aktif dan menyenangkan serta kemampuan literasi dasar siswa meningkat.
Sementara itu Duta Bahasa Provinsi Bali 2025, Ida Ayu Alit Srilaksmi, memperkenalkan inovasi aplikasi PARASALI (Pelindungan Bahasa dan Sastra Bali).
Aplikasi berbasis edutainment ini memadukan kamus, permainan, dan nyanyian dalam bahasa Bali untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap aksara dan sastra Bali.
Sampai 2026 aplikasi PARASALI telah digunakan oleh 61.628 pengguna.






