Jadi Keynote Speaker, Ombudsman RI Ajak Masyarakat Ikut Berperan Jaga Objek Vital Nasional

oleh -
img 20220326 wa0065

NASIOANALNEWS.ID, BALIKPAPAN – Anggota Ombudsman RI Hery Susanto mengajak masyarakat untuk ikut berperan dalam menjaga objek vital nasional.

Hal itu disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam dialog publik dengan tema “Peran serta dan Kepedulian Masyarakat Balikpapan dalam Menjaga Kilang Minyak Pertamina sebagai Objek Vital Nasional” di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (26/3/2022).

Diketahui, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balikpapan ditetapkan sebagai objek vital nasional dengan Keputusan Presiden RI Nomor 63 Tahun 2004 tentang Pengamanan Obyek Vital Nasional serta Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor 202.K/HK.02/MEM.S/2021 tahun 2021 tentang Objek Vital Nasional Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Hery Susanto menyampaikan bahwa objek vital nasional menyangkut hajat hidup orang banyak, kepentingan negara dan sumber pendapatan negara yang bersifat strategis.

“Salah satunya adalah kilang minyak Balikpapan yang dimiliki dan dikelola Pertamina dalam rangka penyediaan BBM bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya di depan audien.

Hery juga mengatakan, Pertamina sebagai penyelenggara pelayanan publik perlu mengikutsertakan elemen pemerintah, akademisi, praktisi, komunitas bisnis, media, dan masyarakat untuk turut menjaga eksistensi kilang minyak Pertamina sebagai obvitnas yang aman.

“Ini dimaksud untuk kepekaan terhadap ancaman keamanan yang mengganggu obvitnas. Agar terhindar dari resiko ledakan/kebakaran maupun bahaya lainnya yang mengganggu eksistensi obvitnas,” kata Hery.

Lebih lanjut, Hery mengingatkan bahwa umur kilang minyak ada yang sudah berumur ratusan tahun.

“Kilang Plaju sejak 1904-118 tahun, Kilang Dumai (pengolahan unit II) 1971 – 51 tahun, Kilang Plaju (pengolahan unit III) berdiri pada 1935- 87th, Kilang Cilacap (pengolahan unit IV), berdiri pada 1974 – 48 tahun, Kilang Balikpapan (unit pengolahan V) 1992 – 30 tahun, Kilang Balongan (unit pengolahan VI) 1994 – 28 tahun, Kilang Kasim, Sorong (unit pengolahan VII), yang berdiri pada 1997 – 25 tahun,” jelasnya.

“Perlu dilakukan revitalisasi aset dengan anggaran yang dikhususkan untuk kilang minyak, terutama untuk pemeliharaan kilang minyak. Mengingat umur kilang minyak banyak yang sudah tua dan fungsi dari kilang minyak sangat berpengaruh dalam produksi BBM dan pendistribusian BBM kepada masyarakat,” tambahnya.

Ia juga menyarankan Pertamina untuk dapat lebih jeli dalam menentukan kuota distribusi BBM kepada masyarakat pada masa peralihan PPKM menuju situasi normal.

“Pertamina harus jeli dalam menentukan kuota pendistribusian BBM karena ketika PPKM beralih kembali normal akan terjadi lonjakan kebutuhan BBM di masyarakat, ini harus diantisipasi agar tidak menimbulkan antrian masyarakat di SPBU,” tegasnya.

Diakhir paparannya, Hery mengajak masyarakat Balikpapan untuk ikutserta dalam menjaga kilang minyak sebagai objek vital nasional.

“Mari kita jaga kilang minyak sebagai objek vital nasional untuk kebaikan bersama,” tutup Hery.

Turut hadir dalam diskusi, Ketua Dewan Pembina Lingkar Muda Indonesia (Muhaimin), Staff Ahli Walikota Balikpapan (Doortje Sorta Susani Marpaung), Manager Komrel RU V Kalimantan Timur (Ely Chandra Perangin Angin), Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Universitas Balikpapan dan Pemerhati Kota Balikpapan (Rendy Susiswo Ismail) dan Perwakilan Kapolresta Balikpapan (Kabagops Kompol Sarbini).

Diketahui, saat ini anggaran untuk mengupgrade kilang minyak di Indonesia dengan budget Rp 600 triliun untuk target hingga tahun 2027. Pengembangan kilang Pertamina adalah:
1. Biorefinery Cilacap (Jawa Tengah)
2. Biorefinery Plaju (Sumatera Selatan)
3. RDMP Dumai (Riau)
4. RDMP Plaju (Sumatera Selatan
5. RDMP Cilacap
6. RDMP Balikpapan (Kalimantan Timur)
7. Petrokimia Balongan
8. Olefin TPPI
9. Revamp TPPI
10. GRR Kilang Tuban (kilang baru).

Reporter: Kholisin

No More Posts Available.

No more pages to load.