NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Minimnya prestasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di kancah internasional menjadi sorotan serius, baik publik, mantan pemain nasional juga wasit.
Menurut Anjas Asmara, sebagai sebuah lembaga modern, PSSI mundur seperti tahun 50-an. PSSI, jaman sekarang seperti kerajaan. Siapa yang jadi ketua umum, silahkan boleh mundur, tapi anggota lainnya tetap bertahan, dan menjadi penentu kebijakan.
“PSSI itu organisasi brengsek, dan tidak beretika. Bisanya cuman jadi mafia dan kartel. Menggelar kompetisi nggak beres, mencetak pemain nasional yang becus. Membina dunia kepelatihan yang ada yang pinter jadi pelatih. Trus, mau diapakan PSSI?,” kata Anjas
Asmara, yang pernah menjebol gawang tim nasional Uruguay 1974, di Senayan.
“Ada yang paling parah dalam 30 tahun terakhir. PSSI tidak pernah melahirkan pemain nasional yang memiliki karakter dan intelegensia yang hebat. Dulu, Viel Coerver, pelatih asal Belanda, bisa mendapatkan dan memili pemain yang punya karakter kuat, yang bisa masuk tim nasional. Saat ini, nggak ada yang bisa seperti Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, Nobon, Suhatman, atau pun Junaedi Abdillah,” tegasnya.
Senada diungkapkan Berti Tutuarima, mengapa banyak mantan pemain ogah ikutan nimbrung masuk ke organisasi PSSI? Karena, organisasi PSSI, sudah seperti partai politik. Hanya mereka-mereka yang loyal, yang bisa bergabung.
“Yang kritis dan selalu mengkritik, nggak bakalan masuk ke gerbong mereka,” demikian tutur bek kiri tim nasional
Indonesia, tahun 80-an.
“Saran saya, siapa saja yang mau jadi pengurus PSSI yang baru dalam Kongres Luar Biasa PSSI, nanti. Semua karyawan-karyawan PSSI yang saat ini bekerja di bawah Iwan Bule, juga semuanya dibuang saja,” tegasnya.
“Karyawan PSSI, sudah berbudaya menjadi marketing jual beli klub-klub, sudah menjadi kaki tangan para pengatur skor dan Bandar judi. Ini benar-benar sangat bahaya,” lanjutnya.
Sementara, Fachri Husaini lebih menyoroti bibit muda yang bertalenta yang cenderung diabaikan PSSI.
“Saya bingung dengan pengurus PSSI. Banyak pemain berbakat, bertalenta, dan berkarakter kuat mentalnya, dari Sabang sampai Merauke. Tapi, pengurus PSSI dan para stakeholder dibawahnya, seperti Asprov, Askot dan Askab, nggak peduli dengan bakat-bakat terpendam,” kata Fachri Husaini, yang membawa Indonesia U-16, juara Asia.
“Saya bingung, dari tahun ke tahun, pengurus PSSI saya mohon untuk bisa menggelar kompetisi usia muda berjenjang, juga nggak ditanggapi,” tegasnya.
“Ketika saya ditanya Jokowi, apa yang kamu minta. Saya jawab, tolong Pak Jokowi kasih hadiah kami-kami ini, sebuah wadah menggelar kompetisi amatir berjenjang, yang sudah lama mati, nggak digubris PSSI,” kata Fachri, saat Indonesia U-16 diundang ke Istana Negara.
Ferril Raymond Hattu juga mengatakan, kalau lembaga-lembaga sepak bola di kawasan Asia Tenggara sudah canggih, sudah modern, dan sudah sangat rapi. Saatnya, PSSI juga naik kelas, bisa berpikir dan berpola pikir, menyusun rancangan organisasinya, dengan rapi. Oraganisasi PSSI, harus bernyali, dan berani cari sendiri secara mandiri, sebuah kantor sekaligus pusat database
semua pemain di seluruh Indonesia. PSSI harus bernyali punya lapangan sendiri yang mewah dengan infrastruktur,
sebagai pusat pelatihan semua pemain dari pelatnas U-16 hingga senior, termasuk futsal dan sepak bola wanita.
“Tanpa pernah berpikir maju, dalam membangun organisasinya. Jangan berharap bisa mencetak prestasi. Minimal, seperti di jaman saya,” tutur Ferril Hattu.
Sementara mantan wasit Jimmy Napitupulu berharap cepat atau lambat, Indonesia wajib mengikuti pergaulan dunia sepak bola modern. Salah satunya, adalah memfasilitasi segera memiliki Video Assistant Referee (VAR). Apalagi, Juni 2023 nanti, dipastikan enam (6) stadion sudah dipastikan menjadi
homebase 24 negara-negara yang lolos ke putaran final FIFA U-20 World Cup.
“Saya nggak tahu nanti, enam stadion itu pasti harus menggunakan alat-alat VAR.
dan, saya nggak tahu, apakah ini uang Negara milik Indonesia dari APBN, atau dari FIFA,” tutur Jimmy Napitupulu, mantan wasit FIFA yang sudah pensiun.
Ia juga menambahkan, saat ini, kondisi kompetisi Liga 1, 2 dan 3, selalu yang menjadi biang keladi adalah masalah wasit yang memimpin pertandingan.
Dan, banyak yang akhirnya jadi protes, dan juga terjadi gesekan antar supporter, karena wasit berpihak, entah kepada siapa?
Mantan pemain nasional Ajad Sudrajat juga angkat bicara terkait Naturalisasi. Ia menganggap tidak ada gunanya.
“Jika PSSI bisa menggelar kompetisi berjenjang dari kota-kota manapun. Maka, PSSI akan beruntung menghasilkan bibit-bibit unggul. Dan,
PSSI nggak perlu lagi berpikir untuk membuat program naturalisasi. Naturalisasi itu, terkesan PSSI nggak membuat wadah kompetisi berjenjang pembinaan dari usia muda hingga dewasa. Sehingga, cukup berpikir jangka pendek, dan kemudian berpikir lagi jangka pendek. Padahal, kalau bisa menggelar kompetisi pembinaan. Maka, ambisi-ambisi para pengurus yang ingin duduk terus di PSSI, melakukan jual beli jabatan. Padahal, kalau PSSI berpikir jangka panjang. Maka, otomatis semua stakeholder atau pemilik suara, akan selalu memilih mereka-mereka yang duduk di PSSI tanpa harus membeli suara mereka. Karena, mereka selalu berprestasi menggelar kompetisi. Otomatis, semua anggota PSSI bahagia, senang dan berbondong-bondong ikut berpartisipasi,” ungkap Ajad Sudrajat.
Sementara menurut Joko Malis,
Organisasi PSSI membutuhkan orang-orang sangar pemberani dan memberontak dengan kondisi ketidakadilan yang saat ini dialami sepak bola nasional. Mengapa,
PSSI butuh sosok pemberontak?
Karena, banyak sekali preman-preman Mafioso yang menempel di lembaga
organisasi PSSI, ada di lingkungan Asprov-asprov, ada banyak di klub-klub. Intinya, PSSI saat ini benar-benar sudah bobrok, dan harus ada yang berani merevolusi.
“Saya sebagai mantan pemain, kok sudah bosan mendengar mereka-mereka yang
tidak kompeten ada di kepengurusan. Tapi, masih saja ada di PSSI, dan berita-berita seliweran, bahwa mereka adalah mofioso,” kata Joko Malis.
Menurut Joko Malis, pemerintah Indonesia, tidak perlu turun langsung di organisasi PSSI. Tapi, sebagai konsultan saja. Apa yang wajib segera dibenahi, di mana PSSI tak mampu. Maka, pemerintah langsung turun tangan. Khususnya, masalah infrastruktur stadion-stadion, sarana dan prasarana setiap anggota PSSI, seharusnya segera dibangun.
Dengan banyaknya komentar dari mantan pemain nasional dan wasit menyoroti minimnya prestasi dan kebobrokan PSSI, untuk itu Football Family mengajak ngobrol bareng pada Senin 6 Febuari di PSF Mbau Jakarta.
(Budi Beler)






