NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Perpustakaan di Kabupaten Sleman tak lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku. Layanan perpustakaan terus diperluas agar semakin dekat dengan masyarakat, termasuk lewat perpustakaan keliling yang dalam setahun terakhir menjangkau sekitar 128.000 pengunjung.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Anton Sujarwa, dalam peringatan Hari Kunjung Perpustakaan Kabupaten Sleman di Pendopo Parasamya Sleman, Senin (14/9).
Menurut Anton, perpustakaan memiliki peran penting sebagai ruang belajar sepanjang hayat. Karena itu, layanan tidak hanya berpusat di gedung perpustakaan, tetapi juga dibawa lebih dekat kepada masyarakat.
“Dalam satu tahun terakhir, layanan perpustakaan tercatat telah dikunjungi 12.472 pengunjung, sementara layanan perpustakaan keliling menjangkau sekitar 128.000 pengunjung,” kata Anton.
Ia mengatakan, Hari Kunjung Perpustakaan menjadi momentum untuk kembali mengajak masyarakat meningkatkan minat baca. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan dan memperluas budaya membaca di Sleman.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan budaya literasi semakin penting di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi.
Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya bisa membaca. Kemampuan memahami, memilah, mengolah, hingga menyampaikan informasi secara bijak juga menjadi bagian penting dari literasi.
“Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, literasi menjadi semakin penting,” ujar Danang.
Dalam acara tersebut, Danang menyerahkan penghargaan kepada tiga pemustaka yang dinilai aktif memanfaatkan layanan perpustakaan. Penghargaan diberikan untuk kategori Pemustaka Penggerak Literasi, Pemustaka Berdampak, dan Pemustaka Cendekia.
Penghargaan juga diberikan kepada pemilik naskah kuno sebagai bentuk apresiasi atas upaya menjaga dan melestarikan naskah sebagai sumber pengetahuan sekaligus warisan budaya.
Danang juga menerima buku berjudul Simponi Lereng Merapi: Keajaiban Punglor Sleman, terbitan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. Buku tersebut mengangkat kekhasan yang dimiliki Kabupaten Sleman.
Danang mengajak masyarakat menjadikan perpustakaan sebagai rumah pengetahuan sekaligus ruang kreativitas dan tempat tumbuh bersama.
Ia juga melihat berkembangnya kafe buku di Sleman sebagai hal positif. Ruang semacam itu, menurutnya, bisa menjadi alternatif bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk membangun kebiasaan membaca.
“Mari kita bangun generasi yang tidak hanya cerdas membaca, tetapi juga cerdas berpikir, cerdas berbicara dan cerdas menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat,” katanya.
Sementara itu, Bunda Literasi Sleman Parmilah Harda Kiswaya menilai pegiat literasi tidak cukup hanya gemar membaca. Mereka juga perlu mampu membagikan pengetahuan, mengajak, menginspirasi, dan menggerakkan masyarakat.
Menurut Parmilah, kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan bisa terus dilatih.
“Berbicara adalah keterampilan yang bisa dilatih. Tidak harus langsung hebat, yang penting berani memulai,” ungkapnya.
Ia berharap gerakan literasi di Sleman semakin mampu membentuk masyarakat yang kritis, kreatif, dan mandiri serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.(Jat)










