NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Sejumlah kader dan simpatisan Partai Golkar yang tergabung dalam Gerakan Beringin Satu (GBS) menolak Airlangga Hartato kembali menduduki jabatan sebagai ketua umum Golkar. Lantaran, Airlangga dinilai telah gagal membawa kemajuan terhadap partai Golkar.
Inisiator GBS, Devi Andita mengatakan, bahwa ada beberapa faktor pada penolakan Airlangga untuk kembali menjadi ketua umum. Pertama, adalah gaya kepemimpinan yang otoriter dan tidak memiliki keinginan menegakan asas Demokrasi di dalam tubuh partai.
“Kita lihat contohnya, masa dia memberhentikan ketua Golkar di kabupaten kota tanpa melalui mekanisme yang benar. Kalau partai sudah bergaya otoriter gini mana mungkin bisa berjaya kembali,” terang Devi, Minggu (14/7/2019) di Jakarta Pusat.
Wakil Sekjen era kepemimpinan Aburizal Bakrie ini menduga, kalau Airlangga disinyalir telah melakukan langkah-langkah pembersihan pengurus atau kader yang tidak sepaham dengan dirinya. Airlangga secara perlahan telah menumbuhkan perpecahan di tubuh partai berlambangan pohon beringin ini.
“Langkah ini menjadi embrio perpecahan dalam partai, bukan tidak mungkin sejarah akan terulang adanya dualisme kepengurusan. Maka harus dicegah,” tegasnya.
Faktor kedua yang menyebabkan pihaknya menolak Airlangga, yakni kemerosotan kursi yang diraih partai Golkar di DPR RI.
“Sekarang kita cuma dapat 85 dari 91 kursi di DPR RI. Ini sangat ironis dan berbeda dengan partai partai besar pendukung Jokowi. Mereka kan malah bertambah, kenapa partai Golkar justru berkurang. Ada yang salah dalam mengelola partai,” jelasnya.
Sementara, Ketua GBS, Boston M menambhakan, bahwa kedepan, GBS juga akan melakukan konsolidasi dengan para pengurus Golkar di daerah dalam upaya penolakan terhadap Ketua Umum yang Otoriter. Partai Golkar harus mampu menjadi contoh dan teladan bagi para kadernya, khususnya dan partai partai lain dalam menjunjung tinggi budaya Demokrasi pada umumnya. “Intinya perjuangan kami harus tercapai demi kebaikan partai,” ungkap Boston.
Di lokasi yang sama, Wakil Ketua GBS, Dian Assafri mengatakan, sejumlah petinggi partai saat Ini diduga terlibat kasus hukum yang dapat menghambat kebesaran Partai Golkar kedepan. “Kami selaku kader muda Partai Golkar sangat mendukung gerakan bersih bersih internal,” tandas Dian. (*/04)






