NASIONALNEWS.ID PURWOKERTO – Alumni SMA Negeri 1 Purwokerto (Smansa) terus menyoroti pentingnya kualitas kepemimpinan dalam pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni SMA Negeri 1 (IKASMANSa) periode 2026–2030. Henri Rusmanto, alumni Smansa angkatan 1990, menegaskan bahwa sosok calon ketua umum tidak seharusnya dinilai hanya dari panjangnya gelar akademik atau tingginya jabatan struktural.
Menurut Henri, IKASMANSa bukan institusi kerja yang berjalan dengan sistem komando, hirarki jabatan, atau relasi atasan-bawahan sebagaimana budaya organisasi formal di kantor. IKASMANSa, kata dia, adalah rumah besar alumni yang dihuni ribuan orang dari latar belakang pendidikan, ekonomi, profesi, dan generasi yang sangat beragam.

“Ketua alumni harus bisa merangkul semua angkatan, dari yang paling senior sampai yang termuda. Ini bukan pekerjaan mudah,” ujar Henri.
Ia menilai, organisasi dengan rentang puluhan angkatan membutuhkan figur pemimpin yang mampu mengayomi, mendengar, serta bersedia mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran secara tulus untuk kepentingan bersama.
Dalam pandangannya, kriteria tersebut tercermin pada sosok Asri Harinto, alumni 1993. Henri menyebut Asri sebagai figur yang aktif lintas angkatan, konsisten hadir dalam berbagai agenda alumni, serta memiliki kontribusi nyata baik secara materi, tenaga, maupun gagasan.
“Beliau bukan tipe yang datang saat momentum pencalonan saja, tapi sudah hadir jauh sebelum itu,” katanya.
Henri juga mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu menunjukkan jabatan tinggi tidak otomatis menjadi jaminan kepemimpinan yang bersih, kuat, dan efektif. IKASMANSa, lanjutnya, membutuhkan kerja kolektif berbasis tim dan jaringan, bukan sekadar figur simbolik.
Ia menilai Asri Harinto memiliki jejaring luas, bahkan hingga tingkat pusat, serta dikenal oleh berbagai generasi alumni. Hal tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memimpin organisasi sebesar IKASMANSa.
Henri berharap proses pemilihan Ketua Umum IKASMANSa berjalan secara terbuka, jujur, dan tidak ditarik pada kepentingan politik tertentu yang berpotensi merusak marwah organisasi alumni.
“IKASMANSa harus melahirkan pemimpin yang elegan, bermartabat, dan mampu memperkuat soliditas alumni,” tegasnya.
Pendaftaran bakal calon Ketua Umum IKASMANSa periode 2026–2030 resmi ditutup pada 30 April 2026. Sebanyak 11 kandidat dari lintas angkatan, mulai alumni tahun 1990 hingga 2007, tercatat mendaftar dalam proses penjaringan.
Adapun 11 bakal calon Ketua Umum IKASMANSa yang mendaftar adalah Norman Arie Prayogo (2000), Prianto Budi Saptono (1990), Brili Agung Zaky Pradika (2007), Yohan Handriyanto (1992), Nugroho Eko Priamoko (1992), Asri Harinto (1993), Ali Hasbullah (1992), Puji Rahayu (1992), Sigit Purwanto (1992), Santi Dwi Astuti (1996), dan Sigit Yugoharto (1991).
Ketua Panitia Pemilihan IKASMANSa, Mikhael Anton Hanibal, menyampaikan bahwa tahapan saat ini memasuki verifikasi berkas pada 1–3 Mei 2026. Penetapan calon definitif dijadwalkan pada 5 Mei 2026.
“Berkasnya hanya CV dan kopi ijazah untuk membuktikan bahwa dia alumni SMA 1,” kata Mikhael.
Setelah penetapan, tahapan berikutnya meliputi masa kampanye pada 12 Mei 2026, Pra-Rembug Ageng pada 15 Mei 2026, dan puncak pemilihan melalui Rembug Ageng pada 16 Mei 2026.
Mikhael menjelaskan, mekanisme pemilihan IKASMANSa berbeda dari organisasi lain yang menggunakan Munas. IKASMANSa memakai forum khas bernama Rembug Ageng. Setiap angkatan memiliki hak mengirim maksimal tiga delegasi dengan hak suara dan hak bicara. Selain itu, pengurus periode sebelumnya memiliki satu hak suara.
Dengan total 67 angkatan, jumlah suara maksimal dapat mencapai 202 suara, meskipun panitia mengakui partisipasi angkatan muda tidak selalu penuh.
Pemilihan Ketua Umum IKASMANSa periode 2026–2030 diharapkan menjadi momentum konsolidasi besar alumni, sekaligus melahirkan pemimpin yang mampu membawa organisasi lebih solid, lebih kuat, dan semakin bermanfaat bagi alumni maupun masyarakat luas.
(Widhiantoro)











