NASIONALNEWS.id, YOGYAKARTA–Untuk mengatasi darurat sampah di Yogyakarta, pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi kunci utama, kata Ibu Sugiyati (53), warga Desa Jetis, Kelurahan Widodo Martani, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Sebagai pelaku usaha daur ulang botol plastik, ia membuktikan sampah bukan lagi barang menjijikkan, melainkan komoditas bernilai ekonomi tinggi.Empat tahun lalu, setelah suami meninggal, Ibu Sugiyati menghadapi tantangan mendidik empat anak lelakinya dengan modal terbatas. “Saya bingung mau diapakan uang sisa itu, mau dipinjamkan atau didepositokan. Berkat saran kenalan, saya pilih jadi pengumpul botol plastik bekas,” ungkapnya.
Dibimbing PT Sumber Barokah Polymer Jombang, ia belajar memilah, membersihkan label (seset), hingga packing. Botol diperoleh dari lapak-lapak di Jogja dan Muntilan. Usahanya kini mitra strategis pabrik daur ulang PET, termasuk Pabrik Kembar Rizki di Desa Pejogol RT 001 RW 003 kecamtan Cilongok Kabupaten Banyumas dan PT Veolia Service Indonesia di Pasuruan Jawa Timur, di bawah bendera Sumber Barokah Cabang Sleman. Dibantu 13 karyawan lokal—banyak lansia dan janda—ia kirim rata-rata 15-20 ton botol per bulan via truk fuso, senilai Rp50 juta. Sebagai satu-satunya pengolah plastik di UMKM Desa Jetis (mayoritas pengolah makanan), ia tergabung komunitas Persada (Persatuan Pengolah Sampah Yogyakarta).
Meski penutupan pabrik daur ulang di luar negeri akibat isu ekonomi memaksa seleksi ketat, Ibu Sugiyati pantang menyerah. Bukti kesuksesannya: dua anaknya lulus sarjana di UPN Veteran Yogyakarta. “Kami kirim tiga kali sebulan, total 15 ton rata-rata,” tambahnya.
(M Ridar Harahap)






