NASIONALNEWS.ID SEMARANG–Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Provinsi Jawa Tengah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) tingkat provinsi bersama para Ketua IPSM Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah di Kota Semarang, Selasa (5/5/2026). Rakor ini menjadi ruang konsolidasi strategis untuk memperkuat arah gerak organisasi Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dalam satu periode kepengurusan ke depan.
Ketua IPSM Provinsi Jawa Tengah, Bambang Edy Wahono, menegaskan bahwa rakor bukan sekadar pertemuan formal, melainkan momentum penting untuk membangun kohesi antarwilayah. Menurutnya, keberadaan PSM harus benar-benar terasa di tengah masyarakat melalui kerja yang terukur dan terintegrasi.
“Waktu pengabdian kita masih panjang. Melalui forum ini, kita harus saling mengenal dan bersinergi agar kehadiran PSM benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” tegas Bambang dalam sambutannya.
Rakor tersebut juga menghadirkan perwakilan Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Mewakili Kepala Dinsos Jateng, Kabid Pemberdayaan Sosial (Dayasos) Adoniati Meyria Widaningtyas Haripangesti memberikan arahan tentang pentingnya menjaga kebanggaan sebagai PSM, sekaligus menekankan perlunya penguatan peran PSM hingga level desa dan kecamatan.
Ia menyampaikan bahwa integrasi PSM dengan Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) menjadi agenda penting yang sedang disiapkan pemerintah provinsi.
“Kami sedang menggodok sistem Puskesos Jawa Tengah dengan rencana study tiru ke Kabupaten Batang, Kota Magelang, dan Kabupaten Wonogiri. Kami ingin PSM menjadi motor penggerak utama di sana,” ujar Adoniati.
Dalam forum tersebut, sejumlah isu strategis menjadi sorotan. Salah satunya adalah agenda rebranding PSM untuk memperkuat citra dan daya jangkau organisasi, yang disebut akan dipuncakkan dalam peringatan HUT PSM mendatang di Kabupaten Brebes.
Selain itu, rakor juga membuka peluang besar bagi kader PSM di Jawa Tengah. Forum menyebutkan adanya 67 kekosongan posisi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) murni yang dapat diisi kader berkompeten melalui mekanisme seleksi.
Rakor juga menegaskan fokus pada penguatan sumber daya manusia. Bidang Dayasos diarahkan menjadi pusat pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi PSKS (Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial) guna mendukung regenerasi serta penyegaran organisasi.
Di sisi advokasi, forum turut melaporkan keberhasilan audiensi dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, serta penguatan jejaring dengan berbagai sentra Kementerian Sosial, seperti Sentra Kartini, Margo Laras, Antasena, dan Satria, sebagai bagian dari upaya memperluas dukungan lintas lembaga.
Meski demikian, rakor juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang dinilai masih menghambat efektivitas kerja PSM di lapangan. Kendala digitalisasi pendataan, seperti persoalan teknis email dan sistem administrasi, menjadi salah satu isu yang mengemuka. Selain itu, forum menyoroti seringnya pergantian pejabat di Dinas Sosial Kabupaten/Kota yang dinilai berpengaruh terhadap kesinambungan koordinasi program.
Ketua IPSM Kabupaten Temanggung, Setyo Sumaryanto, SH, menegaskan bahwa hasil rakor akan segera ditindaklanjuti di daerah. Ia menyebut penguatan data dan regenerasi organisasi menjadi prioritas utama.
“Kami fokus pada penguatan data dan regenerasi. Tantangan birokrasi harus dijawab dengan soliditas organisasi di tingkat akar rumput,” katanya.
Rakor ditutup dengan harapan agar seluruh pengurus IPSM tetap konsisten berada di jalur pengabdian sosial, sekaligus menjaga semangat kolektif dalam menjawab persoalan masyarakat.
“Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi langkah PSM dalam membantu permasalahan masyarakat. Sehat selalu PSM,” tutup forum.
(Widhiantoro)











