NASIONALNEWS.id YOGYAKARTA – Pedagang lima hari pasaran tradisional merupakan pedagang keliling yang berdagang secara bergiliran mengikuti siklus lima hari (Pancawara) dalam kebudayaan Jawa di Jogjakarta.
Pedagang Pancawara meminta Pemerintah daerah (Pemda) untuk mengambil peran aktif dalam membantu mempromosikan dagangan mereka, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
Langkah ini dinilai krusial untuk bersaing dengan pasar modern dan mengembalikan minat belanja masyarakat
Pedagang Pancawara, Setiawan Andriyanto, mengatakan, Peranan pemerintah daerah sampai sejauh ini di nilai masih kurang. Terkait memperkenalkan tentang kegiatan yang berlangsung dilima hari pasaran.
“Kami dan teman teman harus memperkenalkan barang dagangan. Kami pedagang ternyata harus berjuang sendiri dimedia sosial ” kata Setiawan Andriyanto mewakili ratusan pedagang, Minggu (21/6/2026).
Menurut pedagang batu akik yang memiliki latar belakang alumnus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan marketing itu menjelaskan tentang tradisi Pasaran Jawa dalam Aktivitas Pasar.
Sistem pasaran Jawa terdiri dari lima hari pasaran: Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Di Yogyakarta, pasar-pasar tradisional yang menggunakan sistem ini biasanya mengalami puncak keramaian dan transaksi pada hari pasaran tertentu sesuai namanya.
Menurut Mas Wawan demikian nama bekennya yakin para pedagang akan selalu patuh dan mengikuti konstribusi yang diberikan pada setiap lokasi hari pasaran.
Seperti retribusi yang ditetapkan di pasar hewan Jangkang setiap pedagang dikenakan retribusi masing-masing membayar pada Pemerintah Désa Widodomartani berupa karcis retribusi Pasar Hewan Jangkang sebesar Rp.2.000 termasuk untuk retribusi yang ditarik untuk kas desa sebesar Rp.2.000.
Pasar Wage Jangkang sebuah pasar tradisional yang terletak di Jangkang, Widodomartani, Ngemplak, Sleman. Pasar ini buka setiap hari, tetapi hari Minggu Wage adalah hari pasaran yang paling ramai.
Di Pasar Wage Jangkang kita dapat menemukan berbagai macam barang, seperti hewan ternak, perlengkapan peternakan, sayur-mayur, buah-buahan, dan makanan ringan. Selain itu, pasar ini juga terkenal dengan gerobak sapi hias yang berdatangan dari Sleman dan Klaten.
Setiap Pasaran WAGE khususnya saat hari Libur atau tanggal merah pasar Jangkang akan selalu rame oleh pedagang Klitikan dan Sapi juga Gerobak Sapi yang dihias pernak pernik cat warna-warni.
Pasar Klitikan adalah pusat penjualan barang bekas (loak), antik, dan unik yang sangat populer. Pasar ini terkenal dengan konsep palugada (apa yang lu cari gua ada) dan menyediakan beragam komoditas.
Termasuk buku-buku terbitan lawas salah satu yang menarik minat NasionalNews.id buku tentang H Rosihan Anwar wartawan tiga zaman itu. Yang berjudul Hari ke Hari, Pena pengantar Soegeng Sarjadi buku lawas yang dibanderol dua puluh ribu rupiah. (M Ridar Harahap)







