IKAMABA Bangkitkan Sejarah Babadan Baru Lewat Karnaval

oleh -
semarak

NASIONALNEWS.ID, YOGYAKARTA – Karnaval kemerdekaan di Kampung Babadan Baru, Condongcatur, Depok, Sleman, Minggu (9/8/2026), bukan sekadar parade kostum dan hiburan.

Di balik kemeriahannya, para pemuda yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Babadan Baru (IKAMABA) membawa pesan tentang kebersamaan sekaligus menghidupkan kembali sejarah kampung yang lahir dari peristiwa bedol desa pada masa pendudukan Jepang.

Ratusan warga tumpah menyambut jalan sehat dan karnaval yang digelar dalam rangka menyongsong HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Parade dimulai dari depan Masjid Sultan Agung Babadan Baru dan bergerak menyusuri jalan-jalan kampung sebelum berakhir kembali di halaman masjid.

jalan sehat

Peserta tampil dengan beragam kostum dan kreasi. Busana zaman dulu, karakter punakawan, kesenian tradisional hingga pasukan bergaya prajurit Kerajaan Mataram membuat parade berlangsung semarak.

Masing-masing wilayah RT mengirimkan peserta dengan kreasi berbeda. Sepanjang rute, warga berdiri di pinggir jalan menyaksikan rombongan yang melintas.

Suasana semakin meriah dengan pembagian doorprize bagi peserta dan warga.

Ketua RW 51 sekaligus sesepuh Kampung Babadan Baru, H. Heri Sutanto, menilai kegiatan tersebut menunjukkan semakin kuatnya peran generasi muda dalam menggerakkan kehidupan sosial kampung.

“Selaku warga, kami menyambut baik peran pemuda Babadan Baru yang menginspirasi kegiatan ini. Kami salut dan berharap kegiatan seperti ini terus berlangsung dan menjadi tradisi kampung,” ujar Heri.

Menurutnya, kegiatan yang digagas pemuda IKAMABA di bawah kepemimpinan M Gandi tersebut tidak berhenti pada perayaan kemerdekaan.

Momentum itu sekaligus menjadi ruang memperkuat persaudaraan antarwarga dan mengenalkan potensi Kampung Babadan Baru.

Babadan Baru memiliki cerita sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari masa pendudukan Jepang.

jjs

Kampung tersebut lahir dari peristiwa bedol desa sekitar 1942–1943. Ketika itu, warga Babadan di Banguntapan, Bantul, bersama bangunan Masjid Pathok Negara Babadan dipindahkan ke wilayah utara di Kentungan, yang kini dikenal sebagai Babadan Baru, Sleman.

Pemindahan dilakukan karena kawasan Babadan lama akan digunakan Jepang sebagai pangkalan udara dan gudang senjata.

Masjid yang ikut berpindah kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Babadan Baru.

Masjid Sultan Agung Babadan Baru hingga kini menjadi salah satu titik penting kehidupan sosial dan keagamaan warga.

Keberadaan bedug di depan masjid juga menjadi salah satu penanda tradisi keislaman yang berkembang di tengah masyarakat setempat dan keterkaitannya dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Karena itu, karnaval tahun ini memiliki makna tersendiri. Kostum tradisional dan berbagai kreasi budaya yang ditampilkan generasi muda seolah menjadi jembatan antara sejarah masa lalu dengan kehidupan kampung hari ini.

Bagi IKAMABA, kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan kemeriahan, tetapi juga dengan menjaga ikatan sosial dan identitas kampung.

Semangat itulah yang terlihat dalam jalan sehat dan karnaval Babadan Baru. Pemuda bergerak, warga bersatu, sementara sejarah kampung kembali mendapat ruang untuk diceritakan kepada generasi berikutnya. (Ridar)

No More Posts Available.

No more pages to load.