NASIONALNEWS.id YOGYAKARTA–Keluarga besar Bani Kasanpuro menggelar kegiatan syawalan bersama di Aula Masjid K.H. Sudja, Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Acara ini berlangsung pada Minggu, 22 Maret 2026, dimulai pukul 09.00 WIB, dan dihadiri oleh seluruh anggota keluarga dari berbagai generasi. Konsep syawalan untuk tahun 1447 H kali ini lebih menekankan suasana rileks, hangat, serta penuh kekeluargaan, mencerminkan semangat persatuan.
Dalam sambutan singkatnya, KH Syukri Fadholi sebagai sesepuh keluarga menjelaskan bahwa syawalan dalam Islam merupakan tradisi perayaan setelah Idul Fitri yang sarat makna silaturahmi, saling memaafkan, dan peningkatan kualitas ibadah dengan makna harfiah “peningkatan”. Tradisi ini bukan hanya ritual formal, tapi juga momen emosional untuk memperkuat ikatan kekerabatan, kebersamaan, dan ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT. Penutupan acara biasanya dilakukan dengan halal bihalal, yang bertujuan mempererat hubungan antar-keluarga, tetangga, dan masyarakat luas.

Kegiatan syawalan keluarga Bani Kasanpuro telah rutin digelar selama 52 tahun, menjadi warisan budaya yang kokoh. Leluhur utama mereka, Kasanpuro, hidup pada era awal abad ke-19, tepatnya pasca-perang Jawa (sekitar 1800-an). Ia dikenal sebagai abdi suranata (pengurus istana) Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sekaligus abdi santri ulama dan prajurit kerajaan. Makam beliau masih ada hingga kini di kompleks Makam Masjid Ad-Darojat, Babadan Lama, Gedong Kunyir, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, seperti disampaikan oleh M. Zaki Riyanto, penyusun silsilah leluhur Bani Kasanpuro kepada Wartawan NasionalNews.id.
Sejarah kepahlawanan keluarga ini juga tercatat dalam catatan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kisah heroiknya terabadikan dalam konteks pemindahan bangunan Masjid Ad-Darojat salah satu masjid pathok negoro (masjid rahasia) Kraton Ngayogyakarta yang terkait dengan perluasan Bandara Adisucipto dan pembangunan gedung Mesiu Balatentara Dai Nippon pada 1942. Peristiwa ini menunjukkan kontribusi Bani Kasanpuro dalam upaya pelestarian identitas Islam dan nasionalisme di tengah invasi kolonial. (Ridar)











