Tradisi Nyadran Kirab Al Qur’an Kuno di Sleman Yogyakarta

oleh -
oleh
img 20260208 194407

NASIONALNEWS.id YOGYAKARTA – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat diberbagai wilayah di  Jogjakarta  menggelar  tradisi nyadran di makam para leluhur.

Tradisi yang digelar dua pekan sebelum Ramadan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga serta mendoakan para arwah para leluhur.

Sebelum melaksanakan ziarah kemakam leluhur beragam acara yang terkait dengan tradisi dan budaya lokal ikut ditampilkan yang mendapat perhatian tersendiri bagi masyarakat di Jogjakarta.

Seperti yang diselenggarakan masyarakat Dusun Yapah, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta dengan kegiatan mengarak manuskrip Al Qur’an kuno yang telah berusia ratusan tahun peninggalan tokoh ulama setempat.

“Untuk tahun ini hanya dua manuskrip Alquran kuno yang kita kirab. Kami hanya mengikuti saran sesepuh desa dan masyarakat demi menjaga agar al Qur’an jangan sampai rusak” kata Kiai Achmad Nursalim pimpinan Ponpes Assidiqiyah Salafiyah hari Minggu (8/2/2026) ditengah keramaian acara kirab berlangsung.

Prosesi acara kirab diawali dengan dikeluarkannya manuskrip Alquran kuno dan Azimat Gundul Kiai Kanjeng Cokrojoyo yang disimpan dikediaman rumah joglo berusia ratusan tahun, Kiai Achmad Nursalim untuk selanjutnya dibawa kesebuah mushala tua Darutaqwa.

“Seperti acara tahun sebelumnya untuk selanjutnya manuskrip Alquran kuno dan azimat kami serahkan untuk dikirab keliling desa dan berakhir disasono gempol. Dikomplek makam itu disemayamkan Syeh Samsudin” ujarnya.

Di Pondok Pesantren Assidiqiyah Salafiyah, Dusun Yapah Sukoharjo, Kecamatan Ngemplak, Sleman Yogyakarta beberapa manuskrip Alquran kuno dan kitab Al Hikmah Mujarobah, peninggalan Eyang Karyo Santri sampai sekarang masih dapat kita saksikan Al Qur’an kuno berusia ratusan tahun.

“Tidak menutup kemungkinan al Qur’an kuno yang diwariskan leluhur kami salah satu manuskrip Alquran kuno milik Kraton Ngayogyakarta yang selamat dari peristiwa perang sapehi melawan Inggeris, tapi perlu diteliti lebih jauh” ujar Kiai Achmad Nursalim.

Geger Sepehi (Perang Sepoy) adalah penyerbuan dan penjarahan Keraton Yogyakarta oleh pasukan Inggris pada 18–20 Juni 1812. Peristiwa ini dipimpin Thomas Stamford Raffles untuk menggulingkan Sultan Hamengkubuwana II yang menolak tunduk pada kolonial. Disebut “Sepehi” karena Inggris menggunakan tentara Sepoy dari India.

Inggris menjarah harta benda, pusaka, dan naskah berharga keraton selama empat hari. Naskah-naskah berharga dibawa ke Inggris.

“Mungkin saja pada saat perang itu berlangsung wilayah disini (Yapah,red) tidak berhasil dijajah Inggeris karena dijaga para leluhur dan ulamanya,” tambahnya.    (Ridar Harahap)

No More Posts Available.

No more pages to load.