NASIONALNEWS.id YOGYAKARTA – Menjelang Bulan Suci Ramadhan 2026, masyarakat di Jogjakarta biasanya menggelar tradisi padusan. Tradisi ini menjadi simbol penyucian diri yang sarat makna spiritual bagi masyarakat Jawa Tengah umumnya dan Jogjakarta khususnya.

Padusan sendirian salah satu tradisi unik di Indonesia dalam menyambut bulan Ramadan adalah padusan, yang berasal dari budaya masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta. Padusan berasal dari kata adus yang berarti mandi, tradisi ini merupakan bentuk penyucian diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan Ramadan.
Biasanya, masyarakat melakukan padusan dengan mandi atau berendam di sumur atau sumber mata air alami. Tradisi ini dilakukan warga Yogyakarta secara turun-temurun sebagai simbol pembersihan diri sebelum menjalankan ibadah puasa.
Di Yogyakarta salah satu tempat favorit untuk acara padusan adalah Umbul Pajangan yang berada di Dusun Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DIY. Namun kebanyakan orang mengenal umbul ini dengan sebutan Umbul Pajangan.
“Menurut cerita yang saya dengar kolam selatan umbul itu sengaja dibangun oleh orang Belanda sebagai tempat pemandian yang sumber mata airnya dari mata air yang tidak pernah berhenti mengalir” kata Sri Widodo salah seorang warga.
Kolam pemandian yang dibangun kolonial Belanda itu berukuran 100m x 70m terbuat dari dinding beton. Pasokan air yang mengisi kolam selain dialirkan ke kolam pemandian juga dialirkan ke wilayah desa sekitar untuk pengairan sawah.
Pada masa penjajahan wilayah Sleman termasuk daerah yang paling dikuasai Belanda. Tanah-tanah dan belantara hutan di Kecamatan Ngemplak dijadikan perkebunan tebu oleh Vrenigde Ost Company (VOC).
“Saya sejak kecil sudah menjalani padusan sampai sekarang setiap tibanya bulan puasa ikut mandi padusan,” kata Ibu Sumi (50) warga Saren, ibu paruh baya itu juga menyertakan dua orang cucunya ikut acara padusan.
Salah satu anggota Karang Taruna Desa Pajangan, Agus mengatakan, saat acara diguyur hujan lebat namun tidak mengurungkan niat warga mengikuti kegiatan padusan seperti yang berlangsung di Umbul Pajangan, Pengunjung tetap ramai sejak pagi tadi baik yang datang dari dalam dan luar kota.
“Saya bertugas sebagai tukang parkir désa pajangan dan wonosari mendapat tugas dibagian selatan .Bagian utara umbul dikelola parkirnya pemuda Desa Saren,” ujar Agus kepada NasionalNews.id di lokasi.
Umbul Saren Jogja merupakan tempat wisata yang murah meriah, lanjut Agus, untuk masuk tidak ada biaya tiket yang dibebankan alias gratis, warga hanya membayar uang parkir saja sebesar Rp 3000. Meskipun gratis, namun di sini sudah ada beberapa fasilitas utama yang bisa digunakan, seperti toilet yang cukup bersih dan nyaman.
“Untuk jam bukanya pun tidak ada batasan, alias buka selama 24 jam penuh setiap harinya. Meski begitu, lebih disarankan untuk datang pada pagi hingga sore saja. Sebab, pada malam hari biasanya tempat ini akan lebih sunyi,” tuturnya.
Menurutnya, Jogja memang terkenal sebagai salah satu kota yang kaya akan tempat wisata. Mulai dari wisata edukasi, wisata alam, hingga tempat wisata yang memiliki sejarah bahkan tempat yang dulunya sakral seperti Umbul Saren Jogja.
“Umbul Saren Jogja merupakan tempat pemandian sakral bagi para bangsawan Keraton pada zaman Belanda. Namun, karena dianggap memiliki potensi yang cukup menarik, maka akhirnya tempat ini dijadikan sebagai tempat wisata dan masih terus ramai dikunjungi hingga saat ini,” ungkapnya.
Sekitar tahun 1977 area ini direncanakan dijadikan pemasok sumber air PDAM oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, kata Agus, tetapi proyek tersebut ditolak oleh masyarakat setempat sehingga tidak dilanjutkan.
“Lama menjadi proyek mangkrak, akhirnya pada tahun 2012 warga setempat berinisiatif untuk membersihkan dan bergotong royong membuat jalan menuju tempat pemandian. Lama kelamaan, semakin banyak orang yang mendatangi tempat ini hingga akhirnya menjadi salah satu wisata alam sederhana,” pungkasnya.
(Ridar)











