Ziarah Ke Makam Ki Ageng Wonolelo: Tradisi Spiritual di Akhir Ramadhan

oleh -
oleh
img 20260319 wa0006

NASIONALNEWS.id YOGYAKARTA-Di tengah gemerlap ibadah Ramadhan 1447 Hijriah, jamaah Masjid Sultan Agung Yogyakarta melakukan ziarah ke makam Ki Ageng Wonolelo (nama asli: Jumadi Geno), seorang ulama penyebar Islam utama pada era Kerajaan Mataram. Lokasinya berada di Pondok Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY—sebuah situs sakral yang sering dikunjungi peziarah untuk merenung dan berdoa. Tradisi ini tak hanya melanjutkan warisan leluhur, tapi juga memperkuat ikatan spiritual antara generasi.

 

Latar Belakang Ki Ageng Wonolelo

Ki Ageng Wonolelo lahir sebagai keturunan Prabu Brawijaya V, raja Majapahit legendaris, dan dikenal sebagai pahlawan dakwah Islam di tanah Jawa. Ia pernah diutus oleh Sultan Agung Mataram untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang memberontak, sebuah misi yang membuktikan dedikasinya dalam menyebarkan agama samawi. Makamnya kini menjadi simbol perjuangan spiritual, terutama bagi masyarakat Sleman Barat yang mayoritas datang berkumpul di kompleks pemakaman ini. Menurut juru kunci Sampir Widodo, kunjungan mencapai puncaknya sekitar pertengahan Ramadhan, dengan jumlah peziarah yang bertambah signifikan.

 

Ziarah dilakukan secara rutin pada malam-malam ganjil Ramadhan, yang diyakini sebagai waktu mustajab untuk pengampunan dosa. “Tradisi ziarah kemakam para alim ulama sudah melekat sejak lama, diwariskan leluhur kami,” ungkap Muhammad Suryadi, Ketua Takmir Masjid Sultan Agung, saat acara Rabu malam (18 Maret 2026). Ini selaras dengan praktik umum ziarah Wali di Jogja, seperti ke makam Syekh Maulana Maghribi di Parangtritis atau Syekh Jumadil Kubro di Turgo, Merapi, yang menawarkan kedamaian bagi peziarah.

 

Tradisi Saparan Wonolelo: Pengenangan Budaya dan Religi

Menyambut akhir Ramadhan, masyarakat Dusun Pondok Wonolelo gelar *Saparan Wonolelo*, upacara tahunan yang menggabungkan elemen religius dan budaya. Acara ini bertujuan mengenang kontribusi Ki Ageng Wonolelo dalam mendirikan masjid dan menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Kirab pusaka menjadi inti acara, di mana artefak berharga seperti Kitab Suci Al-Qur’an, baju Ontrokusuma, kopiah, bongkahan mustaka masjid, dan tongkat beliau dikirabkan dari Masjid Pondok Wonolelo menuju makam sang ulama sejauh 800 meter. Prosesi ini diwarnai kirab gunungan berisi apem (makanan tradisional) yang diperebutkan warga, serta atraksi tari dan fragmen dramatis tentang keprajuritan.

 

Kirab bukan sekadar ritual, tapi ajang silaturahmi komunal. Peziarah dari berbagai daerah turut hadir, membuat suasana semakin hidup. Haji Heri Susanto, Ketua Rombongan Penziarah, menekankan bahwa acara ini tidak harian, melainkan spesial untuk malam mustajab, sehingga lebih banyak orang datang bersama-sama.

Ziarah ke makam Ki Ageng Wonolelo bukan hanya bentuk penghormatan, tapi juga refleksi nilai-nilai Islam seperti kesederhanaan dan persaudaraan. Di era modern, tradisi ini tetap relevan sebagai cara menjaga identitas lokal sambil mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagi wisatawan religius, lokasi ini ideal untuk meditasi pasca-Ramadhan, dengan fasilitas sederhana tapi autentik di Sleman.

(Ridar)

No More Posts Available.

No more pages to load.