NASIONALNEWS.ID, Sleman – Visual Story Teller sekaligus Mantan fotografer Reuters, Bea Wiharta mengatakan seorang jurnalis mesti mempelajari budaya suatu daerah konflik.
“Karena, setiap daerah mempunyai budaya yang spesifik, tapi tetap menjunjung tinggi keluhuran budi beragam suku yang bermukim di Indonesia,” katanya.
Pernyataan ini disampaikannya dalam pelatihan bertajuk ‘Survival and Proteksi adalah Kunci Keselamatan Jurnalis’ di Kalasan, Sleman, Yogyakarta pada Sabtu (22/11/2025).
Acaranya digagas Pers Siber Indonesia (PSI) dan Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Daerah Istimewa Yogyakarta (MPW PP DIY).
Bea Wiharta adalah fotografer yang berpengalaman meliput berbagai peristiwa seperti Reformasi 1998, konflik Aceh, dan perang di Timur Tengah.
Dari sekian fotonya adalah tentang tewasnya Reporter Senior, Ersa Siregar pada 22 tahun lalu atau tepatnya pada 29 Desember 2003.
Berita kematian itu menjadi mimpi buruk bagi pers Indonesia.
Saat itu Ersa Siregar menjadi sandera Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Dia diculik oleh GAM sejak 29 Juni 2003.
Mobil yang ditumpangi Ersa saat meliput di daerah konflik dari Langsa menuju Lhokseumawe, disabotase, dan ditawan oleh GAM.
Meninggalnya Ersa Siregar gegara memberikan tumpangan untuk dua isteri tentara yang mau menghindari daerah konflik.
“Setiap kita melaksanakan tugas liputan jangan sesekali membantu seseorang apalagi orang tidak kita kenal,” ujarnya.
Bea Wiharta mengaku dia pernah bertugas di Papua.
“Saya sudah diwanti-wanti bila berbelanja bawalah uang pas kebiasaan pedagang di sana yang menyimpan uang yang tidak lazim,” tuturnya.
“Jangan menggunakan telunjuk niscaya jari telunjuk Anda akan hilang. Kalau ditempat lain memilih dagangan dengan menggunakan kaki sudah biasa tapi kalau di Jawa jelas kurang sopan,” tuturnya.
Sementara itu sekarang dinilai sebagai zaman keemasan fotografi, karena semua orang bisa memotret.
“Semua orang bisa menjadi fotografer,” ucapnya.
Sebelumnya, fotografi menggunakan analog, sehingga kini zaman digital diprediksi jurnalisme akan memudar, karena orang akan beralih ke video.
Berikutnya, saat era smarphone tiba orang malas membaca berita, namun lebih suka melihat visual.
Jadi, sejak saat itu fotografer Reuters diharuskan membuat foto series untuk menceritakan sebuah peristiwa.
“Sudah tidak jamannya reporter hanya mengirim satu foto tunggal,” tuturnya.
“Sejalan dengan hal itu, maka semua fotografer dipaksa bisa menulis dan dikasih target per tahun berapa tulisan.”
Fotografer harus bisa bercerita melalui foto-fotonya.
Selanjutnya, jaman ‘The Power of Citizen Journalism’ yang berarti semua orang sudah bisa memotret baik memakai smartphone atau kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) atay mirrorless.
“Foto tunggal akan diproduksi oleh semua orang,” ucapnya.
Reuters harus memprodukso foto series karena ranah foto tunggal sudah dikuasai oleh citizen.
“Dewasa ini fotografi bukan hanya urusan komunikasi media sosial dan media mainstream, namun juga alat untuk berjualan,” ucapnya.
“Fotografi sudah menjadi kebutuhan primer saat ini dan mengalami jaman keemasannya di mana orang bisa eksis.”






