Pedagang Pasar Tradisional Kolombo Usul Pasang Videotron

oleh -
oleh
img 20250820 211656

YOGYAKARTA – Pengunjung pasar tradisional di Yogyakarta mengajukan usul pada Pemda DIY agar disetiap pasar tradisional yang potensial dipasang Videotron.

Tujuannya untuk mengontrol harga pasar agar para pembeli tidak perlu pusing lagi, untuk mengetahui harga resmi harga kebutuhan sembako dan semua jenis barang.

img 20250820 211531

Seperti yang terjadi di Pasar Kolombo sebuah pasar tradisional milik Kelurahan Condong Catur Depok Sleman Yogyakarta.

Menurut beberapa orang konsumen selama ini harga yang ditawarkan antara pedagang yang menempati kios didalam dengan pedagang memiki kios diluar perbedaannya sangat mencolok.

“Kami pandang perlu sudah saatnya di setiap pasar tradisional memiliki Videotron dalam upaya menangkal permainan harga yang tidak wajar,” kata Rusli warga Padukuhan Manukan Condong Catur Depok Sleman, Rabu (20/8/2025).

img 20250820 211821

Menanggapi permintaan konsumen itu AswanTim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY bersama Bank Indonesia dan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) UGM menggelar pelatihan. “Masyarakat dan Pedagang Tanggap Inflasi” di Pasar Kolombo.

Kegiatan yang berlangsung sejak Senin (11/8/2025) ini diikuti oleh 160 pedagang dan pengurus pasar dalam 8 pertemuan setiap Rabu di Balai RW 58 Kolombo Joho, Condongcatur

Tantoha salah seorang pemateri kegiatan. Menanggapi permintaan pemasangan Videotron disemua Pasar Tradisional di Jogjakarta Aswan Tantoha salah seorang pemateri yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Daerah istimewa Yogyakarta.

“Permintaan pemasangan Videotron kami tampung dan akan kami sampaikan guna membantu konsumen mengetahui detail harga disemua pasar”kata Aswan Tantoha Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana (UMB) Jogyakarta hari Rabu (20/8/2025).

Aswan Tantoha seorang pakar ekonomi pendiri Sekolah Pasar adalah salah seorang pemateri acara pelatihan “Masyarakat dan Pedagang Tanggap Inflasi” yang digagas TPID DIY bersama Bank Indonesia dan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) UGM Yogyakarta.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pedagang dalam mengantisipasi dampak inflasi melalui strategi pengelolaan stok barang, transaksi sehat, dan penentuan harga yang Diikuti sebanyak 320 orang pedagang Pasar Kolombo dan Pasar Beringharjo Yogyakarta.

Keberadaan QRIS akan meningkatkan efisiensi transaksi, mendorong efektivitas pelaku transaksi dan mendorong perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM),” ungkapnya.

Selain permintaan pemasangan Videotron dalam acara pelatihan yang berlangsung di Aula Balai RW Kolombo beberapa pedagang tradisional meminta agar Pemda DIY meninjau kembali pemasangan kode QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard) disemua pasar tradisional sebuah terobosan upaya digitalisasi pembayaran untuk pedagang dan konsumen.

“Kami sebagai pedagang kecil yang hanya menjual sayur sepertinya kurang tepat harus menggunakan Qris dan Barcode mohon ditinjau ulang. Karena membuat kami bingung’,kata seorang peserta dalam acara dialog singkat.

Permintaan para pedagang pasar tradisional itu mendapat tanggapan Aswan Tantoha dan tetap menerapkan pedoman ekonomi kerakyatan.

Sistem ini menekankan pada pemerataan ekonomi, partisipasi aktif masyarakat, dan keadilan sosial.

Tujuannya adalah untuk mewujudkan kemandirian ekonomi nasional dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia termasuk pedagang kecil.

“Keberadaan QRIS akan meningkatkan efisiensi transaksi, mendorong efektivitas pelaku transaksi dan mendorong perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM),” pungkasnya. (Ridar)

No More Posts Available.

No more pages to load.