Pemerintah Kota Yogyakarta Gerak Cepat Atasi Calon Pengantin Kurang Energi

oleh -
oleh
img 20250712 192938

NASIONALNEWS.ID YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta terus bergerak menurunkan angka stunting yang selama ini menghantui generasi muda. Belasan calon pengantin (catin) di Kota Yogyakarta diketahui mengalami masalah Kurang Energi Kronis (KEK).

Kondisi ini langsung memicu langkah cepat pemerintah agar anak-anak yang lahir nanti tidak terjebak dalam lingkaran stunting.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menjelaskan bahwa per 7 Juli 2025, pihaknya telah mendata sebanyak 545 calon pengantin yang berdomisili di Kota Yogyakarta.

Dari jumlah tersebut, 518 catin dinyatakan sehat, 13 catin mengalami KEK, 8 catin menderita anemia, dan 5 catin memiliki KEK plus anemia.

“Kami langsung melakukan intervensi untuk 26 satin yang berisiko. Kami berikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan tablet tambah darah selama tiga bulan. Setiap bulan, petugas memantau perkembangan mereka agar status gizinya membaik sebelum menikah dan hamil,” tegas Emma Rahmi Aryani.

Pemerintah Kota Yogyakarta menilai bahwa pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, termasuk dari calon pengantin.

Data terbaru juga menunjukkan adanya 9 ibu hamil, 443 baduta (bayi di bawah dua tahun), dan 161 keluarga baru yang masuk dalam kategori Keluarga Berisiko Stunting.

Sekretaris DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Sarmin, mengungkapkan bahwa pihaknya menyalurkan intervensi kepada keluarga berisiko stunting melalui pemberian makanan tambahan.

Pemerintah menggunakan anggaran dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Dana Keistimewaan (Danais), serta dukungan dari BKKBN, guna memastikan seluruh sasaran mendapatkan perlindungan gizi.

“Kami ingin memastikan bayi lahir sehat dan keluarga memiliki ketahanan gizi. Stunting bukan hanya urusan baduta, tapi juga calon pengantin dan ibu hamil,” ujar Sarmin dengan nada serius.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat deteksi dini dan pendampingan bagi kelompok sasaran pencegahan stunting.

Ia menyebut bahwa Tim Pendamping Keluarga di setiap kelurahan bekerja ekstra dengan sistem by name by address untuk mendata dan memantau kondisi masyarakat.

“Data menjadi sangat penting. Kami terus memperbarui data untuk mengetahui kondisi real time siapa saja yang berisiko stunting. Pencegahan kami lakukan sejak calon pengantin, ibu hamil, ibu bersalin, hingga bayi di bawah dua tahun,” tegas Hasto pada Jumat, 11 Juli 2025 di Ruang Bima Balai Kota.

Ia juga menginstruksikan seluruh jajaran, termasuk Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, puskesmas, kemantren, dan kelurahan untuk memperkuat koordinasi lapangan.

Program Satu Kampung Satu Bidan digadang-gadang sebagai ujung tombak agar pemberian makanan tambahan tepat sasaran dan intervensi berjalan optimal sebelum stunting terjadi.

“Kami ingin menurunkan prevalensi stunting secepat mungkin. Tahun 2024, angka stunting sudah turun menjadi 14,8 persen dari sebelumnya 16,8 persen pada 2023. Kami yakin jika semua pihak bergerak bersama, angka ini bisa terus turun. Generasi kita tidak boleh kalah dengan stunting,” tandas Hasto dengan nada penuh tekad.

Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen untuk memastikan bahwa calon pengantin, ibu hamil, dan bayi memperoleh hak gizi terbaik mereka.

Pemerintah tidak ingin generasi masa depan tumbuh dengan tubuh pendek dan rentan penyakit hanya karena gagal mencegah stunting sejak awal kehidupan.

(Ridar)

No More Posts Available.

No more pages to load.