NASIONALNEWS.ID, Cebu – Presiden Prabowo Subianto mengatakan pengembangan energi baru terbarukan berpotensi sangat besar di subkawasan mulai tenaga air, surya, dan angin, hingga lahan subur yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Hal ini merupakan salah satu modal utama dalam mendukung transisi energi di subkawasan.
“Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” katanya
Pernyataan ini disampaikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Filipina pada Kamis (7/5/2026) waktu setempat.
Dengan begitu langkah konkret negara anggota forum didorongnya untuk mempercepat pengembangan energi bersih di kawasan ASEAN.
Beberapa kebijakan yang disoroti antara lain pengembangan tenaga air di Borneo (Kalimantan).
Kemudian, perluasan proyek energi surya di Palawan, serta pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir.
Prabowo Subianto mengungkapkan sejumlah langkah sedang dijalankan Indonesia dalam mempercepat pengembangan energi surya.
“Transisi energi kita sedang melaju dengan kecepatan penuh. Kita tengah membangun (pembangkit listrik) tenaga surya 100 GW. Bersama-sama kita tingkatkan infrastruktur energi kita. BIMP-EAGA memiliki potensi yang besar,” ucapnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menambahkan konferensi ini mengesahkan dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035.
Hal ini merupakan kerangka strategis yang diadopsi pada KTT ke-16 Mei 2025 untuk menjadikan kawasan Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina lebih tangguh, inklusif, berkelanjutan, dan kompetitif.
Visi ini berfokus pada penguatan konektivitas, transformasi pariwisata, dan pembangunan ekonomi.
Untuk mewujudkan visi tersebut, empat negara BIMP-EAGA juga membuat klaster-klaster yang berfokus pada sektor pembangunan tertentu.
Salah satunya ialah Power and Energy Infrastructure Cluster (PEIC), dimana Indonesia menjadi Ketua PEIC untuk periode 2022-2025, yang selanjutnya diketuai oleh Malaysia untuk periode 2026-2029.
Hasil dari klaster ini meliputi proyek interkoneksi jaringan listrik, proyek energi terbarukan, elektrifikasi pedesaan, dan program efisiensi energi serta konservasi energi.
“Program ini akan memperkuat kolaborasi subregional, sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau untuk kesejahteraan yang lebih baik,” ucapnya.
Bahlil Lahadalia meneruska. Kementerian ESDM telah menjalankan sesuai dengan arahan Bapak Presiden dalam transisi energi.
Hal yang dimaksud meningkatkan bauran energi baru terbarukan; memanfaatkan sumber energi baru seperti hidrogen, nuklir, dan ammonia
Selain itu melakukan elektrifikasi dengan kendaraan listrik (EV) dan kompor induksi, efisiensi energi, moratorium PLTU baru, dan dengan CCS/CCUS.
“Kita juga sedang mendorong pemanfaatan tenaga surya untuk menjadi PLTS 100 GW untuk mengurangi pemakaian fosil. Tentu ini memerlukan kolaborasi dari banyak pihak untuk menyelesaikan tugas tersebut,” tuturnya.
Pembangunan infrastruktur energi kawasan, ucap Bahlil Lahadalia, harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kerja sama subregional tidak hanya berfokus pada konektivitas antarnegara.
Namun, ini juga harus mampu memberikan akses listrik yang merata, andal, dan terjangkau hingga ke daerah paling terpencil.
“Pertemuan ini merupakan inisiatif kerja sama ekonomi subregional yang dibentuk pada tahun 1994 untuk mendorong pembangunan di daerah 3T bagi empat negara anggota,” ujarnya.
Forum BIMP-EAGA menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat sinergi pembangunan kelistrikan lintas kawasan
Langkah ini juga dilakukan melalui proyek interkoneksi energi, elektrifikasi pedesaan, hingga pengembangan energi baru terbarukan.
Upayanya agar masyarakat di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terpencil memperoleh akses energi yang lebih baik.
Jadi, ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Sinergi ini akan memperkuat kolaborasi sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau untuk kesejahteraan yang lebih baik,” ujarnya.
Kementerian ESDM optimis pondasi kerja sama empat negara akan semakin kokoh untuk bersinergi dalam membangun infrastruktur energi.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mengamankan rantai pasok masing-masing negara.
Hal lainnya mengakselerasi Asia Tenggara sebagai poros pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.
Prabowo Subianto dalam pidato di KTT tersebut mengutarakan BIMP-EAGA harus terus berkembang agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat di kawasan secara lebih nyata.
Kerja sama subkawasan tersebut harus menjadi lebih adaptif, berdampak, dan responsif terhadap dinamika global yang terus berubah.
“Dengan semangat itu, BIMP-EAGA harus terus berkembang. BIMP-EAGA harus lebih adaptif, lebih berdampak, dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat kita,” ujarnya.
Prioritas utama negara-negara anggota saat ini adalah melindungi keselamatan dan kehidupan masyarakat. P
Prabowo Subianto menyebut bvisi BIMP-EAGA 2035 telah memberikan arah yang jelas, namun tantangan selanjutnya adalah memastikan implementasi yang nyata.
“Prioritas kita jelas, melindungi keselamatan dan mata pencaharian rakyat kita. Visi BIMP-EAGA 2035 telah memberi kita arah yang jelas. Sekarang tugasnya adalah mewujudkannya,” ucapnya.
Penguatan konektivitas subkawasan, ucap Prabowo Subianton, termasuk peningkatan kapasitas jaringan listrik Trans Borneo Power Grid.
Langkah ini distribusi energi dapat berjalan lebih efisien di kawasan.
Seluruh agenda tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan, keahlian teknis, serta kemitraan yang lebih erat dengan para mitra pembangunan regional.
“Semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan yang tepat. Kita perlu mengamankan pendanaan, memobilisasi keahlian teknis; dan memperdalam kemitraan dengan penasihat regional dan Mitra Pembangunan kita,” ucapnya
Solidaritas dan kerja sama kawasan menjadi kunci utama bagi ASEAN untuk tetap tangguh menghadapi dinamika dunia yang semakin kompleks.
