Makam SH Dibongkar, Polisi Buru Bukti Kematian

oleh -
oleh
img 20260909 wa0048

NASIONALNEWS.ID BANYUMAS – Makam SH (14), pelajar SMP asal Kecamatan Kembaran, Banyumas, dibongkar polisi untuk mengurai misteri kematiannya. Ekshumasi dan autopsi yang dilakukan tim dokter forensik RSUD Margono Soekarjo Purwokerto, Rabu (9/9/2026), menjadi langkah penting setelah penyidik menemukan indikasi kekerasan berupa dugaan pemukulan menggunakan balok kayu. Temuan autopsi kini ditunggu untuk memastikan apakah luka dan dugaan kekerasan tersebut berkaitan langsung dengan kematian korban.

 

Kasatres PPA-PPO Polresta Banyumas AKBP Sitowati menegaskan, pemeriksaan forensik menjadi kunci untuk memastikan penyebab kematian secara medis.

 

“Ekshumasi dan autopsi ini dikandung maksud untuk mengetahui penyebab meninggalnya korban yang diduga menjadi korban kekerasan.”

 

Penyidik sebelumnya telah melakukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi. Dari penyelidikan sementara, perkara tersebut mengarah pada dugaan kekerasan berupa pemukulan dengan balok kayu.

 

“Dari hasil penyelidikan sementara, kejadian tersebut adalah peristiwa kekerasan, pemukulan menggunakan balok kayu.”

 

Namun polisi belum menarik kesimpulan final mengenai hubungan kekerasan dengan kematian korban.

 

“Apakah itu sebagai penyebab dari kematian korban, sementara ini masih kami cari dan menunggu hasil autopsi.”

 

Kasus tersebut sebelumnya menyeret RM alias U (25), warga Kecamatan Purwokerto Timur, sebagai tersangka. Ia telah ditahan penyidik.

 

Korban diketahui ditemukan tergeletak di tanah depan rumahnya pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 05.00 WIB setelah sebelumnya keluar rumah menggunakan sepeda motor. Kondisinya memburuk hingga tidak sadarkan diri. Keluarga menemukan sejumlah luka, termasuk lebam pada lengan dan tengkuk serta luka di bagian kepala.

 

SH kemudian dibawa ke rumah sakit, tetapi dinyatakan meninggal dunia.

 

Polisi mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan perkara, termasuk balok kayu sepanjang sekitar 1,5 meter, pakaian korban, sepeda motor, dan dokumentasi luka.

 

Kini, hasil autopsi menjadi salah satu bukti penting untuk menguji konstruksi perkara: apakah dugaan pemukulan menggunakan balok kayu benar memiliki hubungan sebab-akibat dengan kematian SH.

 

Ayah korban, SAP, mengatakan keluarga telah memberikan izin meski berat menerima proses ekshumasi.

 

“Tadinya tidak tega, tetapi ini katanya prosedur hukum. Ya mau tidak mau.”

 

Ia berharap penyidikan mengungkap fakta secara utuh dan memberikan keadilan bagi anaknya.

 

“Saya minta keadilan yang seadil-adilnya.”

 

Makam telah dibuka. Bukti forensik kini ditunggu untuk menjawab satu pertanyaan paling krusial: apa yang sebenarnya mengakhiri hidup SH?

 

(Widhiantoro)

No More Posts Available.

No more pages to load.