Pelanggan Keluhkan Tagihan Air Perumdam TKR Naik Drastis

oleh -
perumdam tkr

NASIONALNEWS.ID KOTA TANGERANG – Pelanggan air bersih merasa haknya sebagai konsumen diabaikan. Warga Kota Tangerang keluhkan kenaikan tagihan air dari Perusahaan Umum Air Minum Daerah Tirta Kerta Raharja (Perumdam TKR) Kabupaten Tangerang.

Warga Perumahan Pondok Arum, Andri Juliansyah mengatakan, bahwa tagihan air bersih dari Perumdam TKR melonjak signifikan dari biasanya tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Tagihan air dari Perumdam TKR naik berlipat-lipat tidak seperti biasanya,” keluh Andri kepada Nasional News, Senin (15/2/2021).

Menurutnya, seharusnya Perumdam TKR taat pada Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ia dan beberapa tetangganya mengalami nasib yang sama, merasa hak sebagai konsumen dirampas.

“Saya sebagai konsumen merasa diabaikan, seharusnya Perumdam TKR patuh pada Undang-Undang Perlindungan Konsumen,” pungkasnya.

Hal serupa dirasakan warga Keroncong Permai, Mauldi Fahrian mengaku kaget saat dia membayar retribusi air, adanya tagihan air yang melonjak cukup tinggi, yang biasanya membayar rata-rata Rp80 ribu menjadi Rp425 ribu.

“Ini benar-benar parah, naiknya parah banget tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,” keluhnya.

Fahrian mengaku sudah komplain kepada pihak Perumdam TKR beberapa hari lalu, katanya tarif tersebut naik berdasarkan pemakaian yang terhitung melalui meteran saat petugas melakukan pengecekan di bulan Januari-Febuari 2021.

“Mereka juga menyatakan kalau tingginya tarif bukan karena kenaikan harga. Namun tidak bisa menjelaskan secara detail alasannya apa, sehingga hanya berasumsi bahwa itu murni pemakaian pelanggan di bulan Januari-Februari,” ungkap Fahrian.

Dirinya membeberkan jika dari bulan Maret-Desember 2020 pemakaian rata-rata 22 kubikasi dengan tarif Rp 80 ribu. Anehnya, ketika di bulan Januari-Febuari 2021 menurut keterangan dari petugas yang sudah mengecek pemakaian air 101 kubikasi.

“Itu tidak logis, kecuali saya menampung puluhan tower air di rumah saya, atau saya punya empang di bawah rumah saya,” ujarnya.

Menurutnya, perhitungan tersebut justru di luar ketentuan yang sudah diterapkan Perumdam TKR sendiri. Di mana, Perumdam TKR menghitung pemakaian selama pandemi berdasarkan rata-rata pemakaian pada 3 bulan sebelumnya sejak Maret 2020.

“Kondisi itu hanya ada 2 kemungkinan, meterannya bisa disetting oleh petugas, atau meterannya rusak. Jadi janganlah Perumdam TKR mencari keuntungan semata di tengah pandemi. Apalagi dengan membuat sistem untuk mengelabui pelanggannya,” tandasnya. (Yuyu)

No More Posts Available.

No more pages to load.