NASIONALNEWS.ID,CILACAP-Bangunan senilai Rp 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah) terancam pembongkaran dari pihak pemasok material proyek pembangunan Sarana dan Prasarana (Sarpras) Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Patimuan dan Wanareja, Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah lanataran pembayaran yang dilakukan oleh pemenang lelang menggunakan cek bodong. Minggu (23/03/2025)
Rifa’i, pemilik TB. Lancar Jaya selaku pemasok material Proyek Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Cilacap terancam merugi ratusan juta rupiah akibat pembayaran dengan cek giro kosong Bank BRI dan Bank BPD Jateng dari Sdr Wahyu selaku pelaksana proyek, yang kini menghilang tanpa jejak.
Kasus ini bermula ketika CV. Anggun Sejati yang memenangkan dua paket proyek pembangunan Sarpras, dengan total nilai kontrak mencapai Rp1,7 miliar. Saudara Wahyu sebagai pelaksana proyek, menggandeng Rifa’i pemilik TB. Lancar Jaya dan rekan-nya sebagai pemasok material.
Setelah proyek selesai pembayaran material yang dijanjikan tidak kunjung dibayarkan oleh Wahyu. Hingga saat ini Rifa’i hanya menerima cek giro sejumlah 500 juta dari Wahyu selaku pelaksana CV.Anggun sejati yang ternyata kosong saat dicairkan.
Merasa dirugikan, Rifa’i dan rekanannya telah berulang kali berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap. Namun, mediasi dengan pihak CV. Anggun Sejati tidak kunjung membuahkan hasil.
Pihak kontraktor terkesan menghindar dan tidak memberikan respons atas tagihannya alias bungkam.
“Kami sudah sangat dirugikan ! Material yang kami kirim sudah terpasang di bangunan, tetapi pembayaran tidak kunjung diterima,” ungkap Rifa’i dengan nada kecewa dan frustrasi.
Sebagai bentuk protes dan upaya terakhir, Rifa’i mengancam akan membongkar material yang telah terpasang jika tidak ada penyelesaian hingga akhir Maret 2025. Ia juga berencana untuk berkoordinasi dengan pihak berwenang sebelum mengambil tindakan tersebut.
Rifa’i menilai proses lelang proyek Pemerintah di Kabupaten Cilacap semrawut dan menduga ada kontraktor dengan profil fiktif serta kurangnya pengawasan menjadi penyebab utama terjadinya masalah ini.
“Kami berharap pemerintah Kabupaten Cilacap dapat lebih selektif dalam memilih kontraktor dan memperketat pengawasan proyek agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang,” tegas Rifa’i.
Penulis: Buyung>>>> Editor IMAM S






