MWC Nahdatul Ulama Cicurug Gelar Halaqoh Kebangsaan

oleh -
Img 20200224 100233

NASIONALNEWS.ID, SUKABUMI – Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdatul Ulama Cicurug, Sukabumi, menggelar Halaqoh Kebangsaan yang bertajuk “Meneladani Sifat Rahmatan Lil’alamin, Menangkal Segala Bentuk Paham Ekstrimisme, Radikalisme dan Intoleransi Yang Mengancam Kerukunan Umat”. Bertempat di Aula Global Insani Mandiri (GIM), Karangsirna, Nanggerang, Cicurug, Sukabumi, Minggu (23/2/2020).

Hadir pada acara tersebut KH R. Rahmat Fauzi Wakil sekretaris PCNU Kabupaten Sukabumi, yang juga Pengasuh Ponpes Alhasaniyah, Agung Priyaguna Irfan, Budayawan Sukabumi, Edyatna Susila, Kabid. Bina Ideologi, Wasbang & Ormas, Kesbangpol Kabupaten Sukabumi, Kapolsek Cicurug, Simin A. Wibowo, Moch Anwar Saddat, Ketua Tanfidziyah MWC NU Cicurug, KH. Ade M Hudaya, Rois Syuriah MWC NU Cicurug, KH. Dudi Apandi, Pengasuh Ponpes Tarbiyatul Falah Al-Apandiyah, KH. Faishal Ponpes Al-Amin, Iyus Win Praktisi Pendidikan, Bayu Endang Chairul Rijal Sekretaris MWC Cicurug, dan KH. Kholil dan Pengasuh Ponpes Nahdiyatul Ahamiyah.

Ketua Tanfidziyah MWC NU Cicurug, Moch. Anwar Saddat, dalam sambutannya, mengatakan bahwa konsep ke Islaman Indonesia adalah kesepakatan para alim ulama.

“Semoga acara Halaqoh Kebangsaan yang digelar hari ini dapat menjadi modal kita untuk menjaga NKRI. Pancasila adalah ideologi besar,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kapolsek Cicurug Simin A. Wibowo dalam sambutannya menyampaikan, bahwa Polisi Republik Indonesia (Polri) adalah sebagai pengayom masyarakat.
Disegala kesempatan, Polri selalu memperbanyak silaturahim, berupaya harus selalu dekat dengan berbagai kalangan masyarakat.

“Jangan sampai anggota Polri ada yang menyakiti masyarakat, tidak beretika atau berperilaku yang tidak baik,” jelasnya.

Kabid Bina Ideologi, Wasbang & Ormas Kesbangpol Kabupaten Sukabumi, Edyatna Susila SH MM, dalam paparannya mengatakan Kesbangpol adalah organisasi perangkat daerah. Tugas pokok kesbangpol adalah diantaranya menciptakan kondusifitas wilayah, dan melakukan kerjasama dengan instansi lainnya dalam menjalankan tupoksinya. Kemudian bahwa radikalisme merupakah tindakan yang menghendaki perubahan secara cepat.

“Untuk mengantisipasi radikalisme, ekstrimisme, diantaranya adalah dengan bagaimana kita menggunakan forum-forum yang ada untuk menciptakan kondisi dan meminimalisir gesekan-gesekan yang ada di masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, diantara penyebab radikalisme adalah Sifat ego sectoral & intelektual, yaitu sikap yang lebih mengedepankan perbedaan daripada persamaan adalah diantara akar penyebab ekstrimisme radikalisme & intoleransi.

“Masyarakat kita yang beragam, tentu ada perbedaan dalam pendidikan, budaya, agama, yang jika tidak dikelola dengan baik, maka akan timbul gesekan,” tambahnya.

Narasumber lain KHR Rahmat Fauzi dari Pesantren Alhasaniyah, dalam paparannya mengatakan bahwa Agama dalam bahasa sederhana, dapat berarti penghargaan dan penghormatan.

Tujuan atau misi Islam secara garis besar ada dua, yaitu misi tentang ketauhidan (Monotheisme), yang kedua adalah misi alam semesta berikut isinya atau rahmatan lil alamin.

Menurutnya, radikalisme bisa memapar siapa saja, baik kalangan agamawan, aparatur negara (ASN), kaum milenial, masyarakat biasa dan lain-lain.

“Perihal teladan meneladani yaitu kita harus mempelajari kisah kehidupan Nabi. Secara garis besar perjalanan hidup Nabi, terbagi dalam tiga periode, yaitu periode
yang pertama adalah periode Mekah (paradigma Ukhuwah Islamiyah), kedua adalah periode Madinah (paradigma Ukhuwah Wathaniyah), dan periode Haji Wada’ (paradigma Ukhuwah Basyariah/ nilai nilai kemanusiaan). Periode ketiga ini adalah masa dimana berkembangnya nilai-nilai kemanusiaan,” jelasnya.

Kemudian yang dimaksud mu’minin adalah orang orang yang diberi petunjuk dari Allah. Rosulullah mempunyai tugas menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Jika melihat konteks ayat “wama arsalnaaka illa rahmatan lil alamin” ada pendapat yang mengartikan bahwa cakupan rahmat bagi alam seisinya memberikan ruang gerak bagi tumbuhnya masyarakat plural (majemuk) yang senantiasa cinta damai dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan peradaban.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad, merintis kehidupan berbangsa dan bernegara pertama kali 14 abad yang lalu, tahun 622 M di Yastrib.
Madinah adalah pemerintahan yang dibangun atas dasar penghargaan terhadap ke Bhinnekaan Agama, Suku dan Tradisi.
Kemudian prinsip ini tertuang dalam naskah konstitusi Negara Madinah yang dikenal dengan sebutan Piagam Madinah.
Substansi Piagam Madinah merupakan refleksi atas rekonsiliasi antar Etnis dan Agama guna membangun pranata sosial masyarakat yang damai, aman dan sentosa, bebas dari intimidasi, anti penindasan.

Menurut surat Al-Imron ayat 159, Ada 4 kunci utama dalam membangun masyarakat (civil society/masyarakat madani), yaitu: membentuk pranata sosial, sikap pemaaf dalam mengutamakan persatuan dan persaudaraan daripada dendam, perubahan sosial dilandasi kompromi dan rekonsiliasi melalui musyawarah mufakat, dan memiliki landasan moralitas dan agama serta memiliki sifat rohman dan rohim.

Agung Priyaguna Irfan, budayawan paparannya mengatakan bahwa
setiap suku di Indonesia memiliki nilai kearifan lokal yang benang merahnya adalah sama antar satu dengan suku lainnya. Kristalisasi nilai nilai luhur dari budaya setiap suku di Indoensia, menjadi Pancasila.

Kemudian menurutnya bahwa orangtua harus mengetahui pentingnya adab dan keutamaan ilmu, karena adab menjadi salahsatu media untuk turunnya ilmu dari guru ke murid dan mempermudah murid menerima ilmu, pintunya adalah adab.

Selanjutnya radikalisme memapar kalangan yang tidak memiliki Orientasi spritual.
Menurutnya, kita dengan suku lainnya hanya berbeda kemasan saja, sementara nilai-nilai kearifannya adalah sama.
Dalam penelaahan literatur peninggalan leluhur kita, terlihat bahwa leluhur memiliki mental yang kuat dan memiliki orientasi spritual/ keilahian.

“Indonesia adalah bangsa yang beragam dan menyadari keberagamannya. Bukan mengkomparasi. Karena komparasi bertujuan mencari atau menemukan persamaan. Sementara keindahan itu terdiri dari ragam. Keanekaragaman itu mengarah kepada harmoni dan keindahan,” urainya.

Kemudian pencapaian spiritual adalah akhlak.
Konsep siliwangi , silih asah asih dan asuh menuju kesalehan sosial. Radikalisme bisa menyerang siapapun, ASN, agamawan, dan lain-lain.

“Indonesia itu cerminan dari keanekaragaman suku. Dalam wujud sebuah bangsa adalah Indonesia dengan konsep Pancasila dasar toleransi sudah ada, karena kita sadar bahwa kita beragam,” tutupnya. (BB)