NASIONALNEWS.id LAMONGAN – Warga yang tinggal di sekitar rel kereta api diminta lebih waspada. Menjelang arus mudik dan balik Lebaran 2026, Satlantas Polres Lamongan menggelar rapat koordinasi keselamatan perlintasan kereta api sebidang di Rupatama Tathya Dharaka, Selasa (3/3/2026).
Rakor dipimpin Kasat Lantas AKP I Made Jata Wiranegara dan dihadiri Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan, perwakilan PT Kereta Api Indonesia (Daop 8), camat, kepala desa sepanjang jalur rel, hingga Satpol PP.
81 Perlintasan, Risiko Nyata di Depan Mata
Data yang dipaparkan cukup mengkhawatirkan.
Di wilayah Kabupaten Lamongan terdapat 81 perlintasan kereta api sebidang:
– 33 berpalang pintu dijaga Dishub
– 29 tanpa palang resmi, dijaga relawan
– 19 sudah ditutup
Namun angka kecelakaan masih tinggi.
– 2024: 8 kejadian, 4 orang meninggal dunia.
– 2025: 8 kejadian, 6 orang meninggal dunia.
– Awal 2026 (Jan–Maret): 4 kejadian, 3 orang meninggal dunia.
Artinya, rata-rata hampir setiap bulan ada kecelakaan di perlintasan rel. Korbannya bukan angka statistik, melainkan warga sendiri.
Tambahan Kereta Malam, Risiko Meningkat
Dari paparan PT KAI Daop 8, selama masa Lebaran akan ada penambahan 11 perjalanan kereta api, termasuk pada jam rawan pukul 22.00–05.00 WIB.
Kondisi ini menjadi perhatian serius, terutama di perlintasan tanpa penjagaan tetap atau hanya mengandalkan swadaya warga. Apalagi terdapat 50 titik yang menjadi fokus pengawasan, dengan sebagian masih minim fasilitas.
Solusi: Tambah Palang atau Tutup
Satlantas memetakan enam faktor penyebab kecelakaan, mulai dari kelalaian pengendara, minimnya palang pintu, hingga akses jalan kecil liar yang langsung tembus ke rel.
Langkah yang direncanakan:
– Pelatihan penjaga perlintasan
– Penambahan petugas dan alat komunikasi
– Penambahan palang pintu
– Penutupan akses jalan kecil berbahaya
– Sosialisasi langsung ke warga sekitar rel
Bahkan ditegaskan, jika tidak ada sumber daya untuk menjaga, perlintasan sebaiknya ditutup pada malam hari demi mencegah korban jiwa.
Warga Diminta Tidak Nekat
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar rel, pesan utamanya sederhana:
Jangan menerobos, jangan mengandalkan insting. Kereta tidak bisa berhenti mendadak.
Dengan lonjakan mobilitas saat Lebaran dan tambahan perjalanan kereta, risiko akan meningkat jika kewaspadaan menurun.
Rakor ini diharapkan bukan sekadar forum diskusi tahunan, melainkan benar-benar menghasilkan tindakan nyata. Sebab jika tidak, angka kecelakaan di perlintasan sebidang di Lamongan bisa terus berulang — dan korban berikutnya bisa saja tetangga sendiri.
(Sholic)






