Enam belas tahun bukan sekadar angka bagi SPS Asparagus II Babadan Baru, Kentungan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Di balik perjalanan panjang itu, ada anak-anak yang tumbuh, para pendidik yang mengabdikan diri, serta orang tua dan masyarakat yang bersama-sama menjaga satu hal penting: masa kecil yang aman, nyaman, dan penuh kegembiraan.
Puncak Milad ke-16 SPS Asparagus II, Rabu (19/8/2026), menjadi ruang untuk mengenang perjalanan sekaligus menatap masa depan. Lembaga pendidikan anak usia dini ini menjadikan momentum tersebut sebagai evaluasi dan pembaruan komitmen untuk menghadirkan layanan pendidikan yang semakin sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Memasuki Tahun Ajaran 2026/2027, SPS Asparagus II melakukan sejumlah penyesuaian dalam penyelenggaraan kegiatan lembaga. Langkah itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus merespons perkembangan dunia pendidikan.
Kepala SPS Asparagus II, Muflichah, S.E., mengatakan usia 16 tahun harus menjadi pijakan untuk terus berbenah. Perubahan zaman, menurutnya, perlu disikapi tanpa meninggalkan kebutuhan dasar anak untuk bermain, belajar, berinteraksi, dan tumbuh dalam lingkungan yang menyenangkan.
“Memasuki usia ke-16, SPS Asparagus II terus melakukan pembenahan dan penyesuaian sesuai kebutuhan perkembangan lembaga, peserta didik, serta tuntutan pendidikan saat ini. Kami ingin menghadirkan layanan pendidikan yang semakin baik dan sesuai dengan perkembangan anak,” kata Muflichah.
Komitmen itu tetap berpijak pada visi lembaga untuk menciptakan generasi yang berakhlak, cerdas, kreatif, sehat, ceria, dan berbudaya.
Karena itu, Milad ke-16 tidak hanya dirayakan dengan seremoni. SPS Asparagus II menghadirkan rangkaian kegiatan yang menyentuh sisi sosial, pendidikan, sekaligus refleksi perjalanan lembaga.
Ada berbagai perlombaan yang memberi ruang bagi anak untuk berekspresi dan bergembira. Ada pula bakti sosial berupa penyerahan paket sembako kepada kaum duafa di sekitar sekolah.
Di tengah perayaan, SPS Asparagus II juga menyempatkan diri berziarah ke makam salah seorang pendidik yang telah wafat. Ziarah tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada sosok yang pernah ikut menanamkan fondasi bagi perjalanan lembaga.
Sebab pendidikan tidak hanya dibangun oleh mereka yang masih hadir di ruang kelas. Ada pula jejak para pendidik terdahulu yang tetap hidup dalam ingatan dan menjadi bagian dari perjalanan generasi berikutnya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat, SPS Asparagus II turut menyampaikan laporan tahunan kepada Pemerintah Kalurahan Condongcatur. Laporan tersebut menjadi dokumentasi pelaksanaan berbagai program dan kegiatan lembaga selama satu tahun.
Puncak milad kemudian berlangsung hangat. Pemotongan tumpeng, penyerahan hadiah perlombaan, dan dongeng bersama Bunda Suci menjadi bagian dari kebersamaan keluarga besar SPS Asparagus II.
Kegiatan mendongeng menjadi lebih dari sekadar hiburan. Cerita menjadi jembatan untuk mengenalkan nilai moral sekaligus membuka ruang imajinasi anak melalui cara yang menyenangkan.
Di sinilah pendidikan anak usia dini menemukan maknanya. Anak tidak harus selalu belajar dengan cara yang serius. Terkadang, nilai kehidupan justru lebih mudah tumbuh melalui cerita, permainan, tawa, dan kebersamaan.
Sekolah dan Keluarga Harus Berjalan Bersama
Pendidikan anak, pada akhirnya, tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah.
Kamituwa Kalurahan Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, S.IP., mengingatkan bahwa keluarga tetap menjadi lingkungan utama dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak.
“Pengasuhan anak jangan hanya dilimpahkan kepada sekolah. Orang tua memiliki peranan yang sangat penting karena keluarga merupakan lingkungan utama bagi tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak,” ujarnya.
Pesan itu semakin penting di tengah derasnya perkembangan teknologi. Gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan anak-anak.
Namun, teknologi membutuhkan pendampingan. Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bermain bersama teman, berbicara dengan orang tua, bergerak, bereksplorasi, dan mengalami dunia secara langsung.
“Orang tua harus bijak dalam mengatur penggunaan gadget pada anak. Teknologi perlu diarahkan agar memberikan manfaat positif bagi perkembangan mereka. Pendampingan orang tua menjadi sangat penting,” katanya.
Menurut Al Thouvik, SPS Asparagus II diharapkan terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman, bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua.
“Semoga di usia ke-16 ini SPS Asparagus II semakin maju, berkembang, semakin bermanfaat bagi masyarakat, serta menjadi salah satu rujukan lembaga pendidikan yang aman dan nyaman bagi anak,” ujarnya.
Dukuh Kentungan, Suhartini, juga memberikan apresiasi atas perjalanan SPS Asparagus II selama 16 tahun. Lembaga tersebut dinilai telah tumbuh bersama masyarakat Babadan Baru dan lingkungan sekitarnya.
Harapan yang sama mengemuka: kolaborasi antara pendidik, orang tua, masyarakat, pemerintah kalurahan, dan berbagai unsur lainnya harus terus diperkuat.
Sebab tumbuh kembang anak tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat semuanya menjadi ruang belajar yang membentuk pengalaman masa kecil.
Milad ke-16 SPS Asparagus II pun menjadi pengingat bahwa membangun generasi tidak pernah menjadi pekerjaan satu pihak.
Menjaga Masa Kecil, Menyiapkan Masa Depan
Bagi Muflichah, usia 16 tahun justru menjadi awal untuk melangkah lebih jauh.
“Harapan kami, SPS Asparagus II semakin maju dan berkembang serta mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak. Kami juga berharap terus mendapatkan dukungan dari orang tua, masyarakat, pemerintah, dan seluruh pihak terkait,” katanya.
Di usia yang semakin matang, SPS Asparagus II membawa satu pesan sederhana: pendidikan anak bukan semata tentang apa yang diketahui anak hari ini, melainkan tentang bagaimana mereka tumbuh menjadi manusia yang sehat, percaya diri, berkarakter, kreatif, dan bahagia.
Enam belas tahun perjalanan menjadi saksi bahwa sebuah lembaga pendidikan dapat tumbuh ketika banyak tangan memilih untuk berjalan bersama.
Di Babadan Baru, perjalanan itu terus berlanjut. Anak-anak datang membawa tawa, rasa ingin tahu, dan mimpi-mimpi kecil. Para pendidik menyambutnya dengan pengetahuan dan kasih sayang. Orang tua menopangnya dari rumah. Masyarakat ikut menjaga.
Dari ruang-ruang sederhana itulah masa depan perlahan dibentuk.
Bukan dengan tergesa-gesa, melainkan dengan kesabaran, satu cerita, satu permainan, satu nasihat, dan satu senyum pada setiap hari masa kecil. (M Ridar Harahap)








