NASIONALNEWS.ID, Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendukung Transformasi Budaya Kerja dan Gerakan Hemat Energi guna memperkuat ketahanan nasional.
Hal ini mendorong efisiensi, adaptivitas birokrasi, dan memastikan layanan pendidikan tetap berjalan optimal dan bermutu bagi seluruh masyarakat.
Transformasinya mengacu pada tiga pilar utama. Pilar pertama, mencakup pemerataan akses dan keadilan layanan.
Transformasi kerja tidak mengurangi layanan—justru memastikan layanan tetap hadir untuk semua.
Pelaksanaan kebijakan dan program pendidikan tetap berjalan tanpa henti dengan dukungan berbagai kanal layanan yang mudah diakses masyarakat.
Pilar kedua, mencakup relevansi dan masa depan di mana cara kerja baru merupakan bagian dari kesiapan pendidikan dalam menghadapi masa depan.
Digitalisasi layanan dan penguatan budaya kerja adaptif menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem pendidikan yang tangguh dan inovatif.
Pilar ketiga, partisipasi semesta. Pemerintah meyakini, perubahan hanya akan berhasil jika dilakukan bersama.
Aparatur Sipil Negara (ASN) harus menjadi teladan dalam penerapan budaya kerja baru, satuan pendidikan didorong mengembangkan praktik baik dalam kebiasaan hemat energi, dan masyarakat menjadi bagian aktif dalam gerakan ini.
Perubahan cara kerja dan gaya hidup hemat energi merupakan bagian dari upaya kolektif untuk membangun masa depan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Langkah ini tanpa mengurangi kualitas layanan publik terutama sektor pendidikan.
Kebijakannya bertumpu pada beberapa arah strategis, antara lain penerapan Work From Home (WFH) bagi ASN selama satu hari kerja setiap pekan atau hari Jumat.
Kemudian, efisiensi penggunaan kendaraan dinas, pengurangan perjalanan dinas, dan penguatan program hemat energi termasuk optimalisasi transportasi publik dan perluasan Car Free Day (CFD).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu`ti mengatakan transformasi budaya kerja dan gerakan hemat energi ini hadir sebagai langkah bersama untuk bekerja lebih cerdas, lebih efisien, dan tetap dekat melayani masyarakat.
“Work From Home bukan berarti libur—ASN tetap bekerja penuh tanggung jawab, hanya saja dari lokasi yang berbeda, sementara layanan kepada masyarakat tetap berjalan dan mudah diakses,” katanya di Jakarta.
Kebijakan WFH berlaku mulai 1 April 2026 dan akan dilakukan evaluasi secara komprehensif setelah dua bulan pelaksanaan.
Pada sektor pendidikan, Unit Layanan Terpadu (ULT) tetap berjalan dan responsif melalui berbagai kanal, termasuk layanan tatap muka, posel, WhatsApp, dan telepon.
Abdul Mu`ti menilai layanan ini penting untuk menampung aspirasi masyarakat dan harus direspon dengan cepat.
“Layanan publik seperti Unit Layanan Terpadu (ULT) akan tetap dibuka dan diselenggarakan,” ujarnya.
“Selain itu guru tetap harus masuk jika muridnya masuk ke sekolah. Ada pengecualian pada beberapa konteks, seperti yang tercantum dalam aturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.”
Momentum transformasi budaya kerja ini sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI).
“Kami ingin memastikan bahwa perubahan ini justru memperkuat kualitas layanan pendidikan, bukan menguranginya,” tuturnya.
“Di saat yang sama, ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk mulai dari hal-hal sederhana—menghemat energi, menggunakan transportasi publik, dan membangun kebiasaan baru yang lebih baik.”
Abdul Mu`ti mengajak masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum, bersepeda, atau jalan kaki untuk menuju dan pulang dari sekolah.
Orang tua juga dihimbau untuk tidak mengantarkan anaknya dengan kendaraan pribadi yang berlebihan.
Selain itu mendorong pemerintah daerah (pemda) memfasilitasi jalur bagi pengendara sepeda.
Hal lainnya mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran akan pentingnya hemat energi.
Gerakan Indonesia ASRI di sekolah diharapkan mampu membangun kebiasaan positif seperti menjaga kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, penghijauan, serta penggunaan sumber daya secara efisien.
Lingkungan sekolah yang aman dan sehat tidak hanya mendukung proses pembelajaran yang optimal, tetapi juga membentuk karakter murid yang peduli terhadap lingkungan dan kualitas hidup.
“Kami percaya, dengan semangat gotong royong, ASN, satuan pendidikan, dan masyarakat bisa bergerak bersama,” ujarnya.
“Inilah transformasi menuju masa depan-di mana kita tetap produktif, layanan tetap hadir, dan pendidikan bermutu dapat dirasakan semua orang.”






