NASIONALNEWS PURWOKERTO-Menjelang pelaksanaan Rembug Agung (RA) II Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Purwokerto (Ikasmansa), alumni angkatan 1990, Henri Rusmanto, menegaskan pentingnya menjaga mekanisme demokrasi dalam forum alumni tersebut, termasuk bila harus ditempuh melalui sistem pemungutan suara.
Henri menanggapi isu yang sempat beredar terkait adanya pihak yang disebut tidak menghendaki sistem voting dalam pemilihan Ketua Umum Ikasmansa. Menurutnya, narasi semacam itu tidak elok dan berpotensi merusak marwah demokrasi di lingkungan alumni Smansa.
“Kalau sampai ke pemungutan suara, saya kira tidak masalah. Itu hal paling baik dalam berdemokrasi,” ujar Henri.
Ia menilai, sebagai alumni SMA Negeri 1 Purwokerto yang memiliki tingkat intelektual dan kapabilitas memadai, seluruh peserta RA seharusnya memberi contoh praktik demokrasi yang adil, jujur, dan terbuka.
Henri menegaskan bahwa konsekuensi voting adalah adanya pihak yang menang dan kalah. Namun hal itu harus diterima sebagai bagian dari kompetisi yang sehat.
“Tidak mungkin semua menang. Tapi setelah selesai, yang menang harus bisa merangkul semuanya untuk kebesaran SMA Negeri 1. Itu tujuannya,” tegasnya.
Ia juga menyebut Rembug Agung bukan sekadar forum memilih pemimpin, melainkan ajang pembelajaran demokrasi bagi alumni, mulai dari memperjuangkan aspirasi angkatan, mengusung delegasi, mengampanyekan program kerja, hingga belajar menerima perbedaan.
“Ini latihan untuk menang, latihan untuk kalah. Yang penting fair play dan menerima apapun yang diputuskan Rembug Agung,” katanya.
Dalam dinamika menjelang RA II, Henri menyoroti munculnya polemik soal domisili calon ketua umum. Ia menilai isu tersebut tidak seharusnya menjadi perdebatan berkepanjangan karena tidak relevan dengan semangat organisasi alumni.
Menurutnya, selama aturan dan tata tertib pencalonan sudah disepakati, maka seluruh calon yang telah mendaftar harus dihormati haknya untuk berkompetisi.
“Kalau memang ada syarat domisili, harusnya dari awal dicoret saat pendaftaran. Jangan dibuat narasi belakangan,” ujarnya.
Henri menegaskan bahwa bekerja atau beraktivitas di luar Purwokerto tidak dapat dijadikan alasan untuk mendiskreditkan kandidat tertentu. Ia mencontohkan bahwa banyak tokoh tetap bisa memimpin meskipun berdomisili atau bekerja di luar daerah.
Ia juga menyinggung salah satu kandidat kuat, Asri Harinto, alumni angkatan 1993, yang disebut telah memperoleh dukungan dari lebih dari 20 angkatan. Menurutnya, Asri memiliki KTP Banyumas namun beraktivitas di Jakarta, dan hal tersebut tidak semestinya dijadikan persoalan.
Henri menegaskan, pemilihan Ketua Umum Ikasmansa harus dipahami sebagai kontestasi program, bukan ajang kompromi kepentingan atau pembagian jabatan.
“Masing-masing calon punya program sendiri. Bukan untuk bagi-bagi posisi. Biarkan demokrasi berjalan apa adanya,” katanya.
Ia berharap seluruh alumni menjaga Rembug Agung II sebagai ruang bermartabat yang menjunjung sportivitas dan persaudaraan.
“Kita semua saudara satu alumni Smansa,” pungkasnya.
(Widhiantoro)






