NASIONALNEWS.ID, KOTA TANGERANG – Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitaran Pasar Sipon mengaku resah, lantaran dalam menjajakan dagangannya mereka diduga dipaksa untuk membayar sejumlah uang kepada salahsatu organisasi masyarakat.
Berdasarkan pantauan dilokasi, anggota ormas yang diduga mengutip sejumlah uang kepada para pedagang kaki lima tersebut berjumlah puluhan orang dengan mengenakan seragam lengkap dengan jabatan diorganisasinya.
Menurut pengakuan salahseorang pedagang di lokasi, BJ menjelaskan, pihaknya tidak dapat menolak permintaan ormas tersebut, lantaran khawatir mereka tidak lagi mendapatkan lahan untuk berjualan disekitar lokasi tersebut.
“Tarif yang mereka tetapkan bervariasi mulai dari 300 ribu sampai 500 ribu perlapaknya, tergantung luasnya,” ungkap BJ kepada wartawan, Selasa (7/5/2019).
Menurut dia, bukan hanya ormas, dirinya juga disetiap harinya harus merogoh kantong lebih dalam agar dapat berjualan disekitar lokasi yang telah ditertibkan oleh pemerintah kota Tangerang beberapa bulan silam.
“Sebelum ada penertiban, kami bayar salaran cuma 10 ribu disetiap harinya, sekarang kami harus membayar 20ribu disetiap harinya kepada jagger kami,” terangnya.
Meski demikian, ia tidak mengetahui setiap rupiah yang dikeluarkan tersebut mengalir kemana lantaran dirinya hanya ingin berjualan dengan aman disekitaran lokasi tersebut.
“Ngga tau kemana, katanya sih buat pengamanan dan kebersihan, dan mereka ngga maksa sih bahasanya kalau ngga mau bayar ya ngga apa-apa paling-paling digaruk,” jelasnya.
Sementara, dihubungi terpisah, Ketua DPD Badan Pembina Potensi Keluarga Besar Banten (BPPKB) H Saeful Milah saat dihubungi via selulernya membantah hal tersebut.
Menurutnya pihaknya tidak akan membebani pedagang terlebih sebagian besar pedagang tersebut pedagang kaki lima.
“Ngga ada itu 300ribu, kami sudah cek ke anggota kami yang di Cipondoh yang bener itu cuma tiga ribu rupiah, itu hanya buat kebersihan saja,” tandas Saeful singkat. (04/*)











