NASIONALNEWS.ID PURWOKERTO-Menjelang pelaksanaan Rembug Agung II Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Purwokerto (Ikasmansa), alumni angkatan 1990, Henri Rusmanto, menegaskan bahwa organisasi alumni tidak boleh dipersempit hanya sebagai “kepanjangan tangan komite sekolah”. Ia menyebut penyamaan Ikasmansa dengan komite merupakan kekeliruan mendasar yang berpotensi mengaburkan tujuan utama organisasi alumni.
“Ikasmansa bukan semata-mata mitra komite. Keliru kalau menyebut Ikasmansa itu sama dengan komite, karena tidak ada korelasinya,” kata Henri.
Henri menilai, Ikasmansa semestinya hadir sebagai wadah besar yang mempererat silaturahmi lintas angkatan, bukan sekadar forum yang hanya aktif saat sekolah membutuhkan dukungan pembangunan atau kegiatan tertentu.
Ia mengingatkan bahwa Ketua Umum Ikasmansa ideal bukan ditentukan oleh faktor popularitas semasa sekolah, melainkan oleh kemampuan memimpin dan menjembatani kebutuhan alumni lintas generasi, dari angkatan tua hingga angkatan termuda.
“Ketua alumni SMA itu bukan cuma yang paling populer waktu sekolah. Dia harus jadi jembatan antara alumni, sekolah, dan angkatan-angkatan yang beda zaman,” tegasnya.
Ketua Umum Harus Merangkul Semua Angkatan
Henri menekankan, tugas utama Ketua Umum Ikasmansa adalah merangkul seluruh angkatan untuk membangun jejaring yang kuat, sehat, dan produktif. Jejaring itu menurutnya harus diarahkan untuk memperkuat solidaritas alumni, bukan hanya untuk kebutuhan administratif sekolah atau kepentingan komite.
Ia menyebut, apabila seluruh angkatan bisa dirangkul, maka akan terbentuk jaringan sosial yang mampu bergerak secara mandiri dan berkelanjutan.
“Kalau semua angkatan sudah bisa dirangkul, otomatis terbentuk jejaring yang kuat. Jejaring ini bukan hanya sebagai jembatan untuk komite saja,” ujarnya.
Dalam pandangannya, hubungan Ikasmansa dengan komite sekolah bukan sesuatu yang harus selalu digembar-gemborkan, apalagi dijadikan ukuran utama dalam menentukan sosok ketua umum.
“Jangan seolah-olah ketua Ikasmansa itu harus orang yang bisa bekerja sama dengan komite. Itu gagal paham,” katanya.
Dorong Program Sosial untuk Alumni Kurang Beruntung
Henri juga mengkritisi kecenderungan sebagian pihak yang selalu menarik peran Ikasmansa ke ranah pembangunan sekolah. Ia menilai, fokus utama organisasi alumni justru harus menyentuh aspek sosial di internal alumni.
Menurutnya, masih banyak alumni lintas angkatan yang belum memiliki kondisi sosial ekonomi yang baik, sehingga organisasi alumni perlu hadir sebagai ruang kepedulian dan pemberdayaan.
“Banyak teman-teman alumni yang kondisinya belum baik secara ekonomi. Itu yang perlu dipikirkan bagaimana caranya memberdayakan mereka,” ujar Henri.
Ia menegaskan bahwa pemberdayaan tidak selalu berarti bantuan materi secara penuh, namun bisa dimulai dengan kepedulian konkret melalui forum rembug, program anjangsana, jejaring kerja, hingga skema pendampingan sosial.
Henri berharap Ketua Umum Ikasmansa mendatang memiliki formula yang jelas dan strategi yang terukur untuk memastikan alumni yang belum beruntung tidak terpinggirkan dalam dinamika organisasi.
“Saya berharap ketua umum terpilih nanti punya formula dan rencana khusus yang jitu agar teman-teman kita yang belum beruntung bisa diberdayakan,” katanya.
Tolak Tarikan Politik dan Kepentingan Kelompok
Dalam pernyataannya, Henri juga mewanti-wanti agar Rembug Agung II tidak diseret ke kepentingan politik praktis maupun dikaitkan dengan organisasi tertentu.
Ia menilai, alumni merupakan ruang besar yang beragam dan tidak boleh dipersempit oleh agenda kelompok yang justru berpotensi memecah solidaritas.
“Rembug Agung II ini tolong jangan ditarik-tarik ke masalah politik. Jangan ditarik-tarik ke masalah ormas tertentu. Tidak ada korelasinya,” tegasnya.
Kriteria Ketua Umum: Punya Waktu, Netral, dan Berintegritas
Henri merumuskan sejumlah kriteria penting yang menurutnya harus dimiliki calon Ketua Umum Ikasmansa. Di antaranya adalah komitmen waktu dan konsistensi, kemampuan komunikasi lintas generasi, integritas, rekam jejak bersih, serta kesediaan bekerja sosial tanpa motif panggung.
Ia menilai, menjadi Ketua Umum Ikasmansa bukan sekadar jabatan simbolik, tetapi tanggung jawab sosial yang menuntut kehadiran nyata dalam berbagai aktivitas alumni, mulai dari pertemuan organisasi hingga kepedulian pada guru maupun alumni yang sedang mengalami kesulitan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pemimpin alumni yang netral dan tidak membawa agenda politik, agama, maupun “geng” tertentu yang justru dapat memecah ikatan kebersamaan.
Henri juga menilai, ketua ideal harus memiliki visi yang jelas, tidak hanya sebatas menggelar reuni, namun juga membangun database alumni, program mentoring karier, kegiatan sosial rutin, hingga beasiswa.
Fit and Proper Test Jadi Usulan Seleksi
Sebagai langkah praktis, Henri mengusulkan agar setiap angkatan diberi ruang mengusulkan kandidat, kemudian dilakukan semacam uji kelayakan sederhana melalui presentasi visi-misi.
Menurutnya, ketua yang layak bukan selalu yang paling kaya atau paling terkenal, tetapi yang paling siap mengabdi dan mendapat dukungan luas lintas generasi.
“Yang kepilih biasanya bukan yang paling kaya atau paling terkenal, tapi yang paling ikhlas dan didukung banyak alumni,” ujarnya.
Pernyataan Henri menegaskan bahwa arah Ikasmansa ke depan semestinya tidak terjebak dalam persepsi sempit sebagai “mitra komite sekolah”, melainkan menjadi rumah besar alumni yang memelihara solidaritas, memperkuat jejaring, dan menghadirkan manfaat sosial nyata bagi seluruh angkatan.
(Widhiantoro)






