NASIONALNEWS.ID BANYUMAS-Kematian mendadak Sutrimo (42), warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, yang disebut bekerja sebagai Kepala Rumah Tangga (Karumga) di kediaman mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, masih menyisakan tanda tanya. Di tengah beredarnya berbagai spekulasi, keluarga, pemerintah desa, hingga warga mengaku tidak mengetahui secara pasti aktivitas maupun detail pekerjaan korban selama berada di Jakarta.
Kasus ini kini menjadi perhatian setelah Polda Metro Jaya memastikan penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.
Di kampung halamannya, kabar wafatnya Sutrimo mengejutkan warga. Sebab, hanya beberapa jam sebelum dikabarkan meninggal, korban masih sempat berkomunikasi dengan kerabat melalui panggilan video WhatsApp.
“Menurut cerita dari tetangga terdekat, almarhum sempat video call sedang makan enak. Tidak lama kemudian, sekitar satu jam setelah itu, muncul kabar beliau meninggal dunia,” ujar Khusnul, warga Desa Wlahar, Senin (27/7/2026).
Menurut warga, sekitar sepekan sebelum meninggal, Sutrimo sempat pulang ke Banyumas untuk mudik. Namun, ia kemudian mendapat panggilan agar segera kembali ke Jakarta.
Di tengah duka keluarga, beredar berbagai isu di masyarakat, termasuk dugaan bahwa nama Sutrimo digunakan sebagai pemilik rumah tempat ia bekerja. Hingga kini, informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
Sekretaris Desa Wlahar, Abas Supriyadi, mengatakan pemerintah desa tidak mengetahui pekerjaan rinci korban karena Sutrimo dikenal jarang berinteraksi dengan masyarakat.
“Kami tidak tahu beliau bekerja sebagai apa. Almarhum memang jarang bersosialisasi dengan warga,” katanya.
Abas mengaku baru mengetahui nama Sutrimo menjadi sorotan publik setelah jenazah dipulangkan dan dimakamkan pada Kamis (23/7/2026) malam.
“Kami juga kaget setelah namanya ramai diberitakan. Soal isu-isu yang berkembang di masyarakat, kami sama sekali tidak mengetahui dan masih menunggu hasil penyelidikan resmi,” ujarnya.
Keluarga korban pun mengaku tidak banyak mengetahui aktivitas Sutrimo selama bekerja di Jakarta. Soim, adik ipar korban, mengatakan Sutrimo merupakan pribadi tertutup dan hampir tidak pernah menceritakan pekerjaannya.
“Kalau pulang kampung yang dibicarakan ya keluarga dan anak. Soal pekerjaannya hampir tidak pernah diceritakan,” kata Soim.
Komunikasi terakhir dengan keluarga juga berlangsung normal. Beberapa jam sebelum meninggal, Sutrimo sempat menghubungi istrinya melalui WhatsApp dan hanya menanyakan apakah anak mereka sudah tidur. Setelah sang istri mengirimkan foto anaknya, komunikasi terputus.
Tak lama kemudian, keluarga menerima kabar bahwa Sutrimo meninggal dunia. Informasi awal yang diterima keluarga menyebut korban diduga mengalami “angin duduk”. Namun, keluarga menyatakan selama ini korban tidak memiliki riwayat penyakit berat.
Jenazah kemudian dipulangkan ke Banyumas untuk dimakamkan pada malam hari. Keluarga juga mengaku menerima bantuan biaya pemakaman sekitar Rp20 juta, tetapi tidak mengetahui pihak yang memberikan bantuan tersebut.
Sementara itu, Kepala Desa Wlahar menyebut Sutrimo dikenal sebagai warga yang baik dan tidak pernah memiliki persoalan dengan lingkungan sekitar. Pemerintah desa mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai berbagai kabar yang belum terverifikasi.
Di Jakarta, Polda Metro Jaya memastikan penyelidikan masih berjalan. Sebelumnya, Sutrimo ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di halaman sebuah klinik di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebelum dibawa menggunakan ambulans ke RS Muhammadiyah Taman Puring.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyatakan korban tiba di rumah sakit dalam keadaan telah meninggal dunia.
Menurutnya, penyidik saat ini masih mengumpulkan berbagai keterangan dari keluarga, pengemudi ambulans, tenaga medis, serta pihak lain yang mengetahui peristiwa tersebut. Polisi juga mendalami rekam medis korban, riwayat pemesanan ambulans, lokasi awal korban ditemukan, serta seluruh rangkaian kejadian sebelum kematian.
Kepolisian menegaskan belum menyimpulkan penyebab kematian Sutrimo dan meminta masyarakat tidak membangun spekulasi sebelum proses penyelidikan selesai. Di tengah derasnya berbagai isu yang berkembang, hasil penyelidikan menjadi satu-satunya dasar yang dapat menjawab berbagai pertanyaan mengenai kematian pria asal Banyumas tersebut.
(Widhiantoro)











