NASIONALNES.ID, SOLO – Saat seseorang datang ke rumah sakit, perhatian biasanya tertuju pada dokter dan perawat yang memberikan pelayanan medis. Namun, ada sosok-sosok yang bekerja tanpa banyak sorotan, tetapi memiliki kontribusi besar dalam menciptakan rasa nyaman dan aman bagi setiap pasien.
Mereka adalah para tenaga layanan pendukung atau support services. Mulai dari petugas cleaning service, bellboy, gardener, engineering, petugas kantin, hingga glass cleaner. Pekerjaan mereka mungkin terlihat sederhana, tetapi hasil kerja mereka menjadi bagian penting dari pengalaman setiap orang yang datang ke rumah sakit.
Lantai yang bersih, taman yang tertata rapi, kaca yang bening, fasilitas yang berfungsi dengan baik, makanan yang higienis, hingga sambutan yang ramah merupakan rangkaian pelayanan yang tidak bisa dipisahkan dari kualitas sebuah rumah sakit.
Kesadaran itulah yang mendorong PT Azwa Solusi Indonesia menggelar kegiatan Motivasi dan Peningkatan Kompetensi Tenaga Layanan Pendukung di Rumah Sakit JIH Solo, Rabu (22/7/2026).
Sekitar 100 peserta dari berbagai bidang layanan pendukung mengikuti pelatihan yang bertujuan meningkatkan profesionalisme, kualitas pelayanan, sekaligus memperkuat budaya kerja yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.
Bagi Pimpinan PT Azwa Solusi Indonesia, H. Ripno, seluruh tenaga layanan pendukung merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit.
Menurutnya, pelayanan berkualitas bukan hanya lahir dari kemampuan tenaga medis, tetapi juga dari dedikasi setiap orang yang bekerja di balik layar untuk memastikan seluruh lingkungan rumah sakit tetap bersih, nyaman, aman, dan berfungsi sebagaimana mestinya.
“Kualitas pelayanan lahir dari kerja sama seluruh elemen. Setiap profesi memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit,” ujar Ripno.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan sejatinya merupakan hasil kolaborasi. Dokter membutuhkan ruang yang steril.
Perawat membutuhkan fasilitas yang siap digunakan. Pasien membutuhkan lingkungan yang nyaman. Semua itu tidak mungkin terwujud tanpa dukungan para petugas layanan pendukung.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat pembekalan dari motivator profesional Kak Sha atau Saiful Haq, S.Pd., M.Pd., CH., CHt., C.NLP., CT.GP., C.MMH., yang menyampaikan materi bertajuk The Power of Communication and Service Excellence.
Menurutnya, pelayanan prima tidak hanya diukur dari seberapa cepat pekerjaan selesai. Lebih dari itu, kualitas pelayanan tercermin dari sikap, komunikasi, kepedulian, serta kemampuan menghadirkan pengalaman positif bagi setiap pengguna layanan.
“Setiap petugas adalah duta pelayanan rumah sakit. Senyum yang tulus, sapaan yang ramah, respon yang cepat, serta kesungguhan dalam bekerja akan meninggalkan kesan yang mendalam bagi pasien dan pengunjung,” katanya.
Bagi Kak Sha, pekerjaan membersihkan lantai tidak sekadar menghilangkan debu. Merawat taman bukan hanya menjaga keindahan. Membersihkan kaca bukan sekadar membuatnya mengilap.
Semua itu merupakan bentuk pelayanan yang mampu menghadirkan rasa nyaman sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit.
Ketika pekerjaan dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan dipadukan dengan komunikasi yang santun, maka pelayanan tidak lagi sekadar rutinitas, melainkan pengalaman yang akan selalu diingat pelanggan.
Salah satu sesi yang paling menarik adalah ketika Kak Sha mengajak peserta belajar dari kehidupan semut.
Semut dikenal sebagai makhluk kecil yang mampu bekerja secara terorganisasi. Mereka bergerak bersama, saling membantu, saling melindungi, dan tidak sibuk mencari siapa yang paling hebat. Kekuatan mereka justru lahir dari kekompakan.
Analogi sederhana itu menjadi cerminan dunia kerja di rumah sakit.
Cleaning service tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan engineering. Bellboy membutuhkan koordinasi dengan petugas keamanan. Gardener menjaga lingkungan tetap asri, sementara petugas kantin memastikan kebutuhan konsumsi terpenuhi.
Seluruh profesi saling melengkapi dalam satu tujuan yang sama, yakni memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Pelayanan yang unggul bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari kolaborasi lintas profesi.
Selain membahas komunikasi pelayanan, Kak Sha juga mengajak peserta membangun growth mindset, yakni pola pikir untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi terbaik dalam setiap pekerjaan.
Ia menegaskan, tidak ada profesi yang rendah apabila dijalankan dengan integritas, tanggung jawab, dan semangat melayani.
Pesan tersebut mendapat respons positif dari peserta yang mengikuti pelatihan secara interaktif melalui sesi motivasi, refleksi diri, diskusi, simulasi komunikasi pelayanan, hingga praktik menghadapi berbagai situasi yang kerap ditemui di lingkungan kerja.
Pelatihan tidak hanya memperkuat keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap tindakan kecil memiliki dampak besar terhadap citra rumah sakit.
Di akhir sesi, Kak Sha menutup pelatihan dengan pesan yang mengundang refleksi.
“Setiap langkah yang kita lakukan memiliki makna. Membersihkan lantai, merawat taman, memperbaiki fasilitas, menyambut tamu, menyiapkan makanan, hingga menjaga kebersihan kaca adalah bagian dari ibadah pelayanan. Ketika semua dikerjakan dengan hati dan kekompakan, kepuasan pelanggan akan menjadi hasilnya.”
Pesan itu seolah menjadi benang merah dari seluruh rangkaian kegiatan.
Rumah sakit yang baik bukan hanya dikenal karena kecanggihan alat medis atau keahlian dokternya. Kenyamanan pasien juga dibangun oleh tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka mungkin jarang disebut, tetapi kehadirannya selalu dirasakan.
Melalui pelatihan ini, PT Azwa Solusi Indonesia berharap seluruh tenaga layanan pendukung semakin termotivasi menjaga standar pelayanan, memperkuat kolaborasi, serta terus menghadirkan lingkungan rumah sakit yang bersih, aman, nyaman, dan penuh kepedulian.
Pada akhirnya, pelayanan terbaik memang selalu dimulai dari hal-hal sederhana yang dikerjakan dengan sepenuh hati. (Sha)











