Maulid di Babadan Baru, Shalawat Menguatkan Ukhuwah

oleh -
shalawat

NASIONALNEWS.ID, YOGYAKARTA – Senin malam, 24 Agustus 2026, Masjid Sultan Agung Babadan Baru terasa lebih hidup. Bukan karena hiruk-pikuk, melainkan oleh lantunan shalawat yang perlahan memenuhi ruang masjid.

Jamaah datang, duduk bersisian, lalu bersama-sama menghidupkan tradisi Maulid Al-Barzanji. Dalam suasana khidmat itu, nama Nabi Muhammad SAW disebut dengan penuh cinta. Ayat, shalawat, dan doa mengalir menjadi satu, menghadirkan kehangatan yang barangkali sederhana, tetapi menyentuh hati.

Maulid Nabi bagi jamaah Masjid Sultan Agung bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi ruang untuk kembali mengingat sosok Rasulullah SAW, perjalanan perjuangannya, sekaligus akhlak mulia yang diwariskannya kepada umat.

Pembacaan Maulid Al-Barzanji dipimpin Ketua Takmir Masjid Sultan Agung, H. M Suryadi. Sementara doa dipanjatkan KH Zaenal Fata.

barzanji

Di antara lantunan shalawat, terselip pesan sederhana: kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup berhenti di bibir. Ia harus menjelma menjadi perilaku—menjadi kesabaran ketika menghadapi persoalan, kasih sayang kepada sesama, kejujuran dalam kehidupan, dan kesediaan untuk terus menebar kebaikan.

Karena itulah, malam Maulid menjadi semacam jeda bagi jamaah untuk bercermin. Sejauh mana akhlak Rasulullah hadir dalam kehidupan sehari-hari?

Masjid pun menjadi tempat bertemunya banyak hati. Jamaah dan masyarakat sekitar duduk dalam satu majelis tanpa sekat. Mereka bershalawat bersama, berdoa bersama, dan merawat kembali ikatan ukhuwah Islamiyah.

Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, kebersamaan semacam itu terasa penting. Sebab terkadang, untuk menguatkan persaudaraan, manusia hanya membutuhkan satu ruang untuk duduk bersama dan mengingat kebaikan.

Semangat itulah yang hendak dirawat melalui Maulid Nabi.

“Mari kita perbanyak shalawat, kuatkan ukhuwah, dan hadirkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan kita,” menjadi pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Shalawat Berujung Kebersamaan

Usai rangkaian pembacaan Maulid Al-Barzanji dan doa, suasana khidmat berganti menjadi kehangatan kebersamaan. Para jamaah mendapat hidangan nasi kebuli.

Aroma rempah yang kuat segera menyambut. Hidangan nasi berbumbu itu disajikan bersama daging kambing, kismis, dan bawang goreng. Nasi kebuli menjadi penutup yang sederhana sekaligus istimewa setelah jamaah bersama-sama melantunkan shalawat.

Sedikitnya 300 porsi nasi kebuli disiapkan untuk jamaah yang hadir.

“Sedikitnya kita siapkan sekitar tiga ratus nasi kebuli,” ujar Bendahara Masjid Sultan Agung, H Heri Sutanto, di penghujung acara.

Nasi kebuli itu akhirnya bukan sekadar hidangan. Ia menjadi bagian kecil dari cerita tentang sebuah malam ketika warga berkumpul, bershalawat, berdoa, lalu duduk bersama menikmati hidangan.

Di situlah barangkali makna Maulid menemukan bentuknya yang paling sederhana.

Cinta kepada Rasulullah SAW dikenang dengan shalawat, diwujudkan melalui teladan, dan dirawat lewat persaudaraan.

Dari Masjid Sultan Agung Babadan Baru, pesan itu kembali menggema: mencintai Nabi bukan hanya dengan merayakan kelahirannya, tetapi dengan menghadirkan akhlaknya dalam setiap langkah kehidupan. (Ridar)

No More Posts Available.

No more pages to load.