Nasionalnews.id, Jakarta Barat – Di usia 56 tahun, Rumini kini hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur. Perempuan yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung keluarganya itu tak lagi leluasa menjalani aktivitas setelah terserang stroke.
Mbak Rum, demikian ia biasa dipanggil, tinggal di rumah petakan di RT 007/07, Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Sehari-hari, ia bekerja sebagai tukang cuci dan gosok pakaian dari rumah ke rumah untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Namun, penyakit yang datang tiba-tiba membuat aktivitas tersebut harus terhenti. Hampir satu bulan sudah Rumini lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur.
Kondisinya membuat keluarga harus menghadapi persoalan baru. Sang suami yang memiliki penghasilan tidak menentu kini harus memikirkan biaya sewa rumah sekaligus kebutuhan sehari-hari dan biaya perawatan istrinya.
Dalam kondisi seperti itu, setiap kebutuhan kecil pun menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan.
Mendengar kondisi Rumini, saya yang mengenalnya karena selama ini ia kerap membantu pekerjaan rumah tangga, mencoba menghubungi sejumlah rekan untuk meminta bantuan.
Saya tidak berbicara tentang kebutuhan besar. Yang terpikir saat itu hanya kebutuhan sehari-hari, terutama sembako.
Sebab, bagi saya, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi ke depan. Jangan sampai sebuah keluarga harus menghadapi duka bukan hanya karena penyakit yang diderita salah satu anggota keluarganya, tetapi juga karena tidak memiliki makanan untuk esok hari.
Alhamdulillah, beberapa rekan merespons dengan baik. Bantuan sembako pun perlahan dapat membantu meringankan beban keluarga Rumini.
Namun, kebutuhan Rumini ternyata tidak berhenti di sana.
Belum lama ini, pihak keluarga datang dan menyampaikan bahwa untuk kebutuhan sembako, alhamdulillah masih ada. Tetapi Rumini membutuhkan popok dewasa karena untuk buang air kecil maupun besar, ia masih membutuhkan bantuan keluarga. Kondisi itu membuat anggota keluarga harus membagi waktu antara merawat Rumini dan bekerja mencari nafkah.
Saya kembali mencoba menghubungi beberapa orang yang saya anggap sebagai teman yang memiliki jabatan strategis di wilayah Kalideres, dan berharap bisa ikut membantu. Ada pesan WhatsApp yang hanya dibaca tanpa jawaban.
Jujur, hal itu sempat membuat saya sedih. Namun, saya tidak berhenti mencoba.
Saya kemudian menyampaikan kondisi Rumini kepada salah satu bawahannya. Dia juga teman biasa satu meja di warung kopi. Di luar dugaan, ia memberikan respons sederhana, tetapi begitu berarti.
“Udah tenang, nanti ada rezeki saya bantu,” katanya singkat.
Saya terdiam. Dalam hati hanya bisa mengucapkan syukur. Tidak lama kemudian, ia menyerahkan sejumlah uang kepada saya seraya berkata agar bantuan tersebut dapat bermanfaat bagi Rumini dan keluarganya.
Dari kejadian itu, saya kembali belajar bahwa orang baik tidak selalu harus datang dengan penampilan mewah. Tidak pula harus memiliki jabatan atau pangkat tinggi.
Kadang, kebaikan justru datang dari orang yang sederhana, tetapi memiliki kepedulian yang luar biasa.
Kini, masih ada satu harapan yang belum terwujud bagi Rumini.
Ia membutuhkan kursi roda atau tongkat penyangga agar perlahan dapat kembali beraktivitas dan memiliki semangat untuk menjalani proses pemulihan.
Memang, pulih dari stroke membutuhkan waktu. Tidak bisa sehari atau dua hari. Dibutuhkan kesabaran, dukungan keluarga, perawatan, serta semangat dari orang-orang di sekitarnya.
Rumini mungkin saat ini hanya bisa terbaring dan menunggu tubuhnya kembali kuat. Tetapi di balik tubuh yang lemah itu, masih ada harapan.
Harapan untuk kembali duduk.
Harapan untuk kembali berdiri.
Harapan untuk kembali berjalan.
Dan yang paling sederhana, harapan untuk kembali menjadi Rumini yang dulu—perempuan pekerja keras yang tidak mudah menyerah demi keluarganya.
Semoga masih ada tangan-tangan baik yang tergerak untuk membantu. Bukan karena Rumini meminta belas kasihan, tetapi karena terkadang sedikit bantuan dari kita dapat menjadi alasan seseorang untuk kembali memiliki harapan.
Sebab, membantu sesama tidak harus menunggu kaya. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah sedikit kepedulian dan kemauan untuk berkata: “Saya ada untuk membantu.”











