NASIONALNEWS.id, YOGYAKARTA–Group Tari Angguk dari Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, DIY, sukses memikat hati ribuan wisatawan nusantara (Wisnu) dan mancanegara (Wisman) yang memadati kawasan wisata Malioboro. Penampilan memukau ini menjadi bagian dari rangkaian Malioboro Culture Vibes 2025 yang digelar pada 1-2 Desember 2025, atas inisiatif Dinas Kebudayaan DIY, PHRI, PPKI, dan BP2KY.
Di bawah pimpinan Ndani Sanjaya group tari ini membawakan Tari Angguk yang kaya kekhasan, dimulai dengan lagu pembuka, dilanjutkan Ponco Darmo, Atas Pisang, Asola bernuansa irama padang pasir, serta Manten Ayu yang sarat nuansa sakral. Penari-penari muda tampil energik dengan iringan bedug, rebana, kendang, dan marakas, menciptakan suasana magis di tengah keramaian Malioboro.
“Kegiatan sanggar seni Tari Angguk yang saya bina diharapkan menjadi pemantik semangat generasi muda dalam mencintai dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa. Hanya itu tujuan saya mempertahankan seni tari ini,” ujar Ndani Sanjaya, Senin (1/12/2025) usai penampilan. Ia menambahkan, semua penari adalah generasi muda dan pelajar yang dilatih selama satu bulan dengan empat kali sesi latihan. “Kami tampil di setiap acara serupa, khususnya di Kulon Progo,” pungkasnya.
Tari Angguk merupakan kesenian khas Kelurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap. Uniknya, di Desa Wisata Hargomulyo, tari ini tidak hanya diperagakan perempuan seperti di wilayah Kulon Progo lainnya, tetapi juga oleh penari laki-laki. Wisatawan pun bisa merasakan pengalaman edukatif dengan mengenakan kostum langsung.
Asal-usul dan Nilai Filosofis
Kesenian Angguk diyakini muncul sekitar tahun 1900, terinspirasi dari pesta dansa tentara dan opsir Belanda di Purworejo, Jawa Tengah. Kesenian ini pertama kali berkembang di Kelurahan Hargomulyo yang berbatasan langsung dengan Purworejo.
Sebagai seni rakyat masyarakat agraris Kulon Progo, Tari Angguk sarat filosofi:
Media ekspresi pertanian Setiap pementasan diawali doa dan sesaji khas agraris seperti jenang abang-putih, nasi tumpeng, pisang raja, bunga melati-mawar, air kendi, klowoan berisi air-telur, lawe, minyak wangi, daun dadap srep, janur kuning, dan kelapa muda, sebagai mohon keselamatan kepada Tuhan YME.
Media dakwah Islam Melalui syair, sholawat, dan tembang yang mengajak kebajikan serta menjauhi perilaku menyimpang.
Penampilan ini tak hanya menghibur, tapi juga memperkuat pelestarian budaya lokal di tengah geliat pariwisata Yogyakarta.
**Penulis: RIDAR**






