NASIONALNEWS.id, LAMONGAN – Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kembangbahu Lopang 2 akhirnya buka suara terkait temuan benda yang diduga belatung pada bakso atau pentol serta benda yang disebut menyerupai ulat sayuran dalam makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima Yayasan Pondok Pesantren Al Munawwaroh, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Jumat (21/8/2026).
Temuan tersebut menjadi sorotan karena menyangkut makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat, khususnya siswa. Pihak SPPG mengakui adanya laporan tersebut, namun menilai temuan itu hanya terjadi pada sebagian kecil makanan yang didistribusikan.
Kepala Dapur SPPG Kembangbahu Lopang 2, Ahmad Khoirul Anam, mengaku heran dengan temuan tersebut. Menurutnya, benda yang disebut menyerupai ulat hanya ditemukan pada satu ompreng dari seluruh makanan yang didistribusikan pada hari tersebut.
“Kami merasa aneh atas kejadian ini. Karena hanya ada satu ompreng yang ditemukan ada ulatnya, sedangkan di ompreng lainnya yang dikirim pada hari itu juga tidak ditemukan hal serupa,” ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, pihak dapur langsung melakukan pengecekan dan pembahasan internal setelah menerima laporan tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa temuan pada bakso hanya terdapat pada satu bagian, sementara bahan bakso yang digunakan merupakan produk setengah jadi dari pihak pemasok.
“Yang di dalam bakso itu juga satu saja kami temukan dan itu juga bahan setengah jadi dari pihak supplier kami. Kami juga sudah rapat saat hal itu terjadi,” jelasnya.
Hari Berikutnya Kembali Ada Temuan
Persoalan tersebut tidak berhenti pada temuan pertama. Ahmad menyebut, pada hari berikutnya pihaknya kembali menerima informasi adanya benda yang disebut menyerupai ulat pada sayuran dalam salah satu ompreng.
“Kamis juga mendapat informasi telah ditemukan seperti ulat sayur di satu ompreng lagi. Tidak ditemukan pada makanan yang lain,” tuturnya.
Kondisi tersebut menjadi catatan serius bagi penyelenggara MBG karena kualitas dan keamanan makanan menjadi bagian penting dalam program yang menyasar anak-anak dan penerima manfaat lainnya.
SPPG Klaim Dinkes Lamongan Sudah Dua Kali Berkunjung
Terkait keluhan dari penerima manfaat, Ahmad mengatakan pihak SPPG telah menyediakan mekanisme pengaduan melalui aplikasi.
“Terkait aduan komplain kami sudah menyediakan aplikasi, tidak pada kertas lagi. Dan memang benar dapur kami dikunjungi pihak Dinkes dua kali,” kata Ahmad.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini telah mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan. Namun, pihak SPPG tetap dituntut memastikan setiap tahapan pengolahan makanan benar-benar memenuhi standar keamanan pangan sebelum makanan sampai kepada penerima manfaat.
Supplier Bantah Kirim Bakso Lama, Sebut Ada Kejanggalan
Sementara itu, pihak UMKM yang menjadi pemasok bakso atau pentol, Sonya, juga membantah apabila produk yang dikirim merupakan pentol lama atau tidak segar.
Pihak supplier mengaku produk dibuat dan dikemas dalam kondisi masih hangat sebelum dikirim ke dapur SPPG yang menjadi mitra.
“Kami dari pihak UMKM pensuplai tak pernah kirim pentol bakso yang lama. Pentol bakso kami buat langsung, kami packing dalam keadaan masih hangat, terus langsung kami kirim ke dapur SPPG yang kerja sama dengan kami,” ungkap Sonya.
Ia mengaku heran apabila ditemukan benda yang diduga belatung di dalam satu pentol, terlebih hanya pada satu ompreng.
“Tapi kok aneh ada temuan satu pentol ada belatungnya, apalagi dalam satu ompreng. Seperti ada dugaan sabotase,” cetusnya.
Meski demikian, dugaan tersebut masih sebatas pernyataan dari pihak supplier dan belum dapat disimpulkan sebagai fakta tanpa adanya pemeriksaan atau bukti yang dapat memastikan penyebabnya.
SPPG Janji Perketat Pengawasan
Terlepas dari berbagai dugaan dan bantahan tersebut, pihak SPPG Kembangbahu Lopang 2 menyatakan kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi.
Sanusi, selaku perwakilan pemilik dapur SPPG Kembangbahu Lopang 2, mengatakan pengawasan akan diperketat mulai dari penerimaan bahan baku hingga makanan siap didistribusikan.
“Ke depannya dapur SPPG Kembangbahu Lopang 2 akan lebih memperhatikan dan melakukan pengawasan ketat terhadap hasil makanan yang dibuat dan disuguhkan. Baik bahan maupun hasil menunya, sebelum disuguhkan kepada siswa atau penerima manfaat,” kata Sanusi.
Menurutnya, pemeriksaan akan dilakukan secara lebih menyeluruh, termasuk terhadap bahan yang diterima dari supplier, proses pengolahan, hingga pemeriksaan akhir sebelum makanan dikirim.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah persoalan serupa kembali terjadi. Sebab, meskipun temuan disebut hanya terjadi pada satu atau beberapa ompreng, keamanan pangan dalam program MBG tidak boleh diukur hanya dari jumlah kasus.
Pihak SPPG Kembangbahu Lopang 2 kini dituntut membuktikan komitmennya melalui pengawasan yang lebih ketat dan transparan. Terlebih, makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak yang seharusnya mendapatkan makanan bergizi, higienis, dan aman.
Reporter: SHOLIC




