NASIONALNEWS.ID, BANTUL – Malam di Pedukuhan Wanujoyo Kidul, Kelurahan Srimartani, Kecamatan Piyungan, Bantul, terasa lebih hidup dari biasanya. Ratusan warga berkumpul dengan penuh semangat untuk menghadiri tradisi tahunan Sedekah Bumi atau Merti Dusun, sebuah warisan budaya yang telah dijalankan turun-temurun.
Acara ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi, rezeki, dan keselamatan yang telah diberikan. Masyarakat Wanujoyo Kidul bersama Wanujoyo Lor kompak bergotong royong menyiapkan serangkaian kegiatan budaya, mulai dari arak-arakan gunungan, kirab budaya, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Kirab Gunungan dan Sendratari
Sebelum pementasan wayang, acara diawali dengan kirab budaya. Empat gunungan yang berisi hasil bumi diarak keliling kampung, lalu diperebutkan warga sebagai simbol keberkahan dan doa kemakmuran. Suasana kirab berlangsung meriah, dipenuhi warna-warni pakaian tradisional dan iringan musik gamelan.
Tak hanya itu, warga Wanujoyo juga menampilkan sendratari Ramayana yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi desa. Penampilan ini menjadi bukti bahwa masyarakat masih menjaga semangat pelestarian budaya, sekaligus memberikan hiburan yang mendidik bagi pengunjung.
Wayang Kulit: Lakon Kresna Duta
Puncak acara adalah pagelaran wayang kulit dengan lakon Kresna Duta. Dalam kisah ini, Sri Kresna menjadi utusan Pandawa untuk menuntut kembali hak-hak mereka yang direbut oleh Kurawa. Lakon ini sarat makna filosofis, karena menjadi penentu terjadinya perang besar Baratayudha yang melambangkan pertarungan antara kebenaran melawan kebatilan.
Pertunjukan ini dibawakan oleh dalang muda, Ki Gondo Suharno, S.Sn., bekerja sama dengan Sanggar Kademangan. Baginya, tampil sebagai dalang utama di hadapan masyarakat adalah sebuah kebanggaan sekaligus tantangan besar.Ujarnya saat di temui di Wanujoyo kidul Srimartani Piyungan Bantul, Senin (15/9/2025) malam.
“Tradisi ini sudah ada sejak zaman kakek buyut kami. Dulu almarhum Mbah Timbul menjadi dalang, kemudian dilanjutkan Pak Surono. Kini giliran saya yang dipercaya. Semoga masyarakat bisa menerima dan saya dapat mengemban amanah ini dengan baik,” ungkap Ki Gondo Suharno.
Ia menambahkan, kehadirannya sebagai dalang baru bukan sekadar mengisi panggung, melainkan juga bentuk pengabdian untuk menjaga warisan budaya.
“Saya mohon doa agar pentas malam ini sukses, diberikan kemantapan lahir batin, dan bisa mengikat hati masyarakat. Harapannya, ke depan saya bisa terus dipercaya tampil dalam acara seperti ini,” harapnya.
Kehadiran Bupati Bantul
Acara Merti Dusun ini juga mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, hadir langsung untuk menyerahkan simbolis lakon wayang kepada dalang.

Bupati Bantul dalam sambutannya, mengapresiasi kekompakan masyarakat Wanujoyo yang menjaga tradisi leluhur sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan.
Menurutnya, kegiatan seperti ini layak dijadikan contoh karena mampu memperkuat identitas budaya desa. “Semoga Wanujoyo bisa menjadi desa budaya mandiri yang guyub, rukun, dan penuh semangat gotong royong,” pesannya.
Antusiasme Warga dan Wisata Budaya
Ribuan pengunjung memenuhi area pertunjukan, termasuk para pedagang kaki lima yang menambah suasana ramai. Tidak hanya warga sekitar, banyak penonton dari luar desa yang datang untuk menyaksikan tradisi ini. Antusiasme yang tinggi menunjukkan bahwa Sedekah Bumi Wanujoyo tidak hanya menjadi agenda ritual, tetapi juga daya tarik wisata budaya.
Warisan yang Terus Hidup
Tradisi Sedekah Bumi di Wanujoyo membuktikan bahwa nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur masih terjaga dengan baik. Lebih dari sekadar hiburan rakyat, acara ini menjadi pengikat persaudaraan, doa bersama, sekaligus wujud nyata pelestarian budaya Jawa.
Dengan semangat generasi muda, seperti Ki Gondo Suharno yang siap melanjutkan estafet para dalang terdahulu, masyarakat percaya bahwa tradisi ini akan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Satrio)








