NASIONALNEWS.ID TANGERANG SELATAN – Yayasan Pendidikan Pakualam (YAPIPA) Kota Tangerang Selatan menggelar Buka bersama (Bukber) dan berbagi bingkisan dengan mengusung tema, “Ramadhan mengajarkan kita tentang kesabaran, dan bukber mengajarkan kita tentang arti berbagi.” yang dilaksanakan dihalaman Yayasan YAPIPA , Pakualam, Serpong Utara Tangerang Selatan pada Sabtu, (14/03/2026) sore
Acara yang digelar dengan cukup sederhana itu dihadiri Ketua Yayasan YAPIPA, Drs H. Suwardi, MM, Kepala Sekolah, SMK , Mujianto, Kepala Sekolah SMP , Junaedi, Kepala Sekolah MI Ianatul Huda, H. Saefullah, S.Pd.I, Dewan Guru, Ustad Sadeli sekaligus pengisi tausiah, Wali Murid dan Tokoh Masyarakat setempat.
Ketua Yayasan YAPIPA, Drs. H. Suwardi, MM, dalam sambutannya mengatakan, acara yang rutin dilakukan setiap bulan suci Ramadahan itu merupakan ajang silaturahim antara pengurus yayasan dengan dewan guru, wali murid dan tokoh masyarakat agar selalu terjalin kebersamaan. Menurutnya buka bersama bukan sekedar menyantap makanan, bukan sekedar kumpul- kumpul melainkan untuk menumbuhkan semangat agar selalu besrsinergi antara pengurus yayasan dan dewan guru.
“Dari kegiatan ini yang paling utama adalah tujuannya untuk bersilaturahim antara pengurus yayasan dan dewan guru, wali murid dan tokoh masyarakat. Dengan kita bersilaaturahim, berkumpul tiada lain adalah untuk memunculkan rasa kebersamaan kita. Kalau sudah ada kebersamaan, biasanya akan muncul semagat yang sama, Dan jika sudah ada semangat yang sama, apa yang kita cita-citakan mudah tercapai,” ungkapnya.
Sementara Ustad Sadeli dalam ceramahnya mengatakan, disetiap akhir puasa biasanya orang tidak lagi memikirkan bagaimana agar puasa mendapat kesempurnaan, akan tetapi sudah sibuk dengan dunianya masing masing. Masjid jamahnya sudah mulai mengurucut, tidak seperti pada awal puasa masjid selalu penuh. Menurutnya tradisi sudah membentuk mereka menjadikan lupa akan kewajibannya, dan hanya memikirkan bagaimana harus bias pulang kampung. Padahal kampung yang sesungguhnya adalah kampunng akherat.

“Bicara soal puasa, biasanya masjid pada malam pertama taraweh, jamaah penuh ampe luber keluar, tetapi diakhir mulai deh mengerucut makin sedikit. Kenapa? Karena biasanya mereka pada sibuk memikirkan untuk menyambut hari raya Idul Fitri dan pulang kampung. Mereka sibuk untuk belanja. Padahal Kampung yang sesungguhnya adalah kampong Akhirat,” tuturnya.
Ustad Sadeli juga menambahkan, jika manusia hidupnya ingin lebih baik harus menjalankan lima perkara, pertama istikomah dalam ibadah, yang kedua ikhlas, namun untuk perkara ketiga, keempat dan kelima belum sempat dijelaskan karena waktu berbuka puasa sudah tiba. Acara diakhiri dengan doa.
Adek Sukarsin







