BPBD Sleman Ingatkan Warga Siaga, Musim Hujan Mulai November

oleh -
bambang
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, A.P., M.Si. (Foto: Prokompim Sleman)

NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengingatkan masyarakat agar mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan 2026/2027.

Pasalnya, hujan diperkirakan mulai mengguyur wilayah Sleman pada akhir November ini, dengan puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, A.P., M.Si., menyampaikan hal tersebut dalam jumpa pers di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan di Kabupaten Sleman diperkirakan berlangsung pada dasarian III November 2026.

Sementara itu, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027. Adapun musim hujan diperkirakan berakhir secara bertahap pada April 2027.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Sleman meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan pemerintah ketika bencana terjadi. Kesiapsiagaan justru harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan masyarakat sekitar.

Bambang menjelaskan, langkah kesiapsiagaan tersebut mengacu pada Surat Edaran Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2026 tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana.

BPBD Sleman mendorong masyarakat menerapkan delapan langkah kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko bencana selama musim hujan.

Pertama, warga diminta mengenali potensi bahaya di lingkungan masing-masing, terutama ancaman banjir dan tanah longsor. Masyarakat juga bisa memanfaatkan aplikasi InaRISK untuk mengetahui potensi risiko bencana di wilayah tempat tinggal.

Kedua, setiap keluarga perlu menyiapkan Tas Siaga Bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, dan perlengkapan darurat lainnya. Persediaan makanan dan air bersih juga harus dipastikan mencukupi.

Ketiga, masyarakat diminta aktif memantau perkembangan cuaca melalui aplikasi resmi BMKG, terutama informasi hujan lebat dan potensi kenaikan debit air.

Keempat, koordinasi lingkungan harus diperkuat. Pengurus RT dan RW didorong memanfaatkan grup WhatsApp untuk mempercepat penyebaran informasi serta menunjuk penanggung jawab evakuasi di setiap RT.

Kelima, setiap keluarga perlu memiliki rencana evakuasi mandiri. Simulasi juga perlu dilakukan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga, terutama untuk memastikan keselamatan anak-anak dan kelompok lanjut usia.

Keenam, sistem peringatan dini di lingkungan masyarakat perlu diaktifkan kembali. Kentongan, alarm lingkungan, serta pengumuman melalui masjid dan musala bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi bahaya.

Ketujuh, warga diminta melakukan tindakan pencegahan secara langsung, seperti membersihkan selokan, memangkas dahan pohon yang membahayakan, serta memperbaiki tanggul dan saluran air yang rusak.

Kedelapan, masyarakat harus segera melaporkan kondisi darurat kepada pengurus RT/RW atau posko desa terdekat. Warga juga diminta saling membantu, terutama lansia dan penyandang disabilitas, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Bambang menegaskan, keberhasilan menghadapi musim hujan tidak hanya bergantung pada kesiapan pemerintah dan petugas kebencanaan. Peran aktif masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak bencana.

Karena itu, BPBD Sleman mengajak seluruh masyarakat membangun budaya tanggap bencana dengan mengedepankan prinsip Tanggap, Tangkas, dan Tangguh.

“Kesiapsiagaan harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri dan keluarga. Mari bersama-sama kita bersihkan lingkungan, pantau informasi resmi BMKG, dan tingkatkan koordinasi di level RT/RW agar kita dapat melewati musim hujan ini dengan aman dan minim risiko,” demikian imbauan Bambang.

Dengan persiapan sejak dini, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana hidrometeorologi selama musim hujan 2026/2027. (Jat)

No More Posts Available.

No more pages to load.