NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, menjadi wakil Kabupaten Sleman dalam penilaian Program Kampung Iklim (PROKLIM) Lestari 2026.
Rekam jejaknya dalam menjaga lingkungan sekaligus membina kampung lain menjadi modal kuat dalam menghadapi verifikasi tingkat nasional.
Tim verifikator lapangan dari Kementerian Lingkungan Hidup RI hadir di Sangurejo, Kamis (20/8/2026). Kedatangan tim disambut Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa di Pendopo Embung Kaliaji.
Danang mengatakan, kehadiran tim verifikator menjadi kehormatan sekaligus suntikan semangat bagi masyarakat Sangurejo.
Menurutnya, warga setempat secara konsisten dan bergotong royong menjalankan berbagai aksi nyata untuk menghadapi dampak perubahan iklim.
Ia juga mengapresiasi kepedulian masyarakat Sangurejo yang telah dibangun sejak lama. Sejak 2022, padukuhan tersebut telah meraih sedikitnya 20 penghargaan tingkat provinsi dan nasional.
Bahkan pada 2025, Sangurejo dipercaya menjadi lokasi pembelajaran aksi iklim berskala internasional bagi Asian Youth Academy, ECOSOC PBB, hingga Universiti Putra Malaysia.
“Saya menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Sangurejo. Padukuhan ini telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi, pelestarian budaya, pendidikan, hingga pengembangan pariwisata berbasis masyarakat,” ujar Danang.
Menurutnya, keberhasilan PROKLIM Sangurejo selaras dengan filosofi Jawa hamemayu hayuning bawana, yakni kewajiban menjaga, memperindah, dan menyejahterakan bumi.
Prinsip tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari pengelolaan sampah dari sumbernya, konservasi mata air, pemanfaatan energi ramah lingkungan, hingga penguatan ketahanan pangan keluarga.
“Pemkab Sleman memandang verifikasi ini bukan sekadar penilaian untuk meraih penghargaan, melainkan momentum untuk membangkitkan kepedulian kolektif,” katanya.
Danang berharap kiprah Sangurejo dapat menjadi inspirasi bagi padukuhan lain di Sleman agar gerakan PROKLIM semakin meluas dan menjadi investasi lingkungan bagi generasi mendatang.
Sementara itu, perwakilan tim verifikator PROKLIM dari Kementerian Lingkungan Hidup RI menilai Sangurejo memiliki rekam jejak kuat. Tidak hanya menjalankan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di wilayahnya, Sangurejo juga aktif membina wilayah lain.
Tercatat, Sangurejo telah membina 12 lokasi PROKLIM di sekitarnya. Dua di antaranya, yakni Padukuhan Kuwang dan Padukuhan Gondangan, bahkan telah berhasil meraih tropi PROKLIM Utama.
Menurut tim verifikator, aspek penting dalam kategori PROKLIM Lestari bukan semata keberhasilan menjalankan program di satu wilayah, tetapi kemampuan melakukan pembinaan atau replikasi serta mendorong perubahan perilaku masyarakat di tingkat tapak.
Karena itu, Kabupaten Sleman diharapkan terus memperluas gerakan PROKLIM secara kawasan. Program tersebut tidak hanya berhenti pada tingkat padukuhan, tetapi dapat berkembang hingga kalurahan dan kapanewon.
Langkah itu dinilai penting agar upaya menghadapi risiko dan dampak perubahan iklim dapat dilakukan secara lebih luas, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dengan rekam jejak penghargaan, pembinaan 12 lokasi PROKLIM, serta keterlibatan dalam forum pembelajaran internasional, Sangurejo kini tidak sekadar menjadi wakil Sleman.
Padukuhan tersebut menunjukkan bahwa aksi lingkungan dari tingkat kampung dapat berkembang menjadi gerakan yang memberi pengaruh lebih luas. (Jat)











