Karya Batik Gen-Z Sleman Laku Sebelum Pelatihan Selesai

oleh -
gen z

NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Karya peserta program Gen-Z Batik Preneur – Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2026 mulai mendapat respons pasar sebelum seluruh rangkaian pelatihan selesai. Dua lembar kain karya peserta bahkan berhasil terjual dalam ajang Jogja Fashion Week (JFW) 2026.

Ketua Dekranasda Kabupaten Sleman, Hj. Parmilah, S.E., mengatakan penjualan tersebut menjadi bukti awal bahwa karya generasi muda memiliki peluang untuk diterima pasar.

Dua lembar kain karya peserta terjual saat mengikuti Jogja Fashion Week pada 13–16 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC). Total nilai penjualan mencapai Rp550.000.

Meski nilai transaksi tersebut masih tergolong awal, pengalaman itu menjadi penting bagi peserta. Mereka dapat merasakan secara langsung bagaimana karya yang dibuat selama proses pembelajaran diperkenalkan kepada publik dan mendapat respons dari calon konsumen.

Pengalaman di JFW juga menunjukkan bahwa proses belajar membatik dapat diarahkan menjadi aktivitas ekonomi. Peserta tidak hanya dituntut menghasilkan produk, tetapi juga memahami bahwa karya yang dibuat perlu bertemu dengan pasar.

Parmilah menekankan, pelestarian batik tidak cukup dilakukan dengan menjaga keberadaan batik sebagai warisan budaya. Generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk mempelajari, mengembangkan, dan menjadikan batik sebagai bagian dari masa depan mereka.

Karena itu, program Gen-Z Batik Preneur dirancang tidak sekadar mengajarkan keterampilan membatik. Peserta mengikuti 250 jam pembelajaran, terdiri atas 70 jam teori dan 180 jam praktik, dengan materi meliputi karakter kewirausahaan, keterampilan teknis, manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pemanfaatan marketplace.

Setelah mendapatkan pengalaman awal dari JFW, sebanyak sembilan alumni Gen-Z Batik Preneur akan kembali membawa karya mereka ke hadapan publik melalui Gelar Karya Produk Peserta pada 9 September 2026 di Grha Kriya Dekranasda Sleman.

Gelar karya tersebut diharapkan menjadi kesempatan berikutnya bagi peserta untuk menguji respons pasar. Masyarakat dapat melihat langsung produk, mengenal pembuatnya, mengetahui cerita di balik karya, sekaligus membeli produk yang mereka hasilkan.

Bagi Dekranasda Sleman, dua produk yang terjual di JFW menjadi langkah awal bahwa regenerasi perajin batik dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kewirausahaan generasi muda. (Jat)

No More Posts Available.

No more pages to load.