NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Ada cerita sederhana di balik hamparan hijau daun singkong di lereng Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta. Bukan bermula dari proyek besar, melainkan dari kebutuhan sebuah rumah makan Padang yang kesulitan mendapatkan daun singkong.
Bagi Selfiandi, perantau asal Payakumbuh, Sumatera Barat, daun singkong bukan sekadar sayuran pelengkap. Di rumah makan Padang, daun singkong bersama sambal cabai hijau sudah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari hidangan.
“Daun singkong termasuk cabai hijau identik dengan rumah makan Padang. Setiap pelanggan yang datang menanyakan. Tanpa daun singkong, pelanggan tidak mau membeli,” ujar Selfiandi.
Dari persoalan itulah, sekitar tiga tahun lalu, ia mulai membudidayakan singkong di Dusun Kumendung, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Lokasinya berada di kawasan lereng Merapi, sekitar 8 kilometer dari Gunung Merapi.
Awalnya, kebun itu dibuat untuk memenuhi kebutuhan rumah makan miliknya sendiri. Namun, seiring waktu, kebun singkong tersebut berkembang menjadi gagasan yang lebih besar: memanfaatkan lahan yang selama ini kurang produktif sekaligus melibatkan masyarakat sekitar.
Selfiandi kini memiliki tujuh Rumah Makan Padang “Sabana” di Yogyakarta. Kebutuhan daun singkong untuk usaha kulinernya cukup besar. Karena itu, daripada terus bergantung pada pasokan dari luar, ia memilih menanam sendiri.

Di lahan sekitar 1.000 meter persegi, kebun singkong yang dikelolanya mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram daun singkong setiap hari. Yang menarik, aktivitas tersebut tidak dikerjakan sendiri.
Warga setempat ikut terlibat dalam pengelolaan kebun. Bagi Selfiandi, keberadaan kebun bukan hanya soal memenuhi kebutuhan rumah makan, tetapi juga membuka ruang agar masyarakat sekitar dapat ikut merasakan manfaat ekonomi dari lahan di kawasan lereng Merapi.
“Selain mengelola kebun singkong, ke depannya kita juga sudah bermitra dengan sasaran lahan tidur bagian utara Gunung Merapi,” katanya.
Cerita Selfiandi memperlihatkan bagaimana kebutuhan sederhana dari meja makan bisa berkembang menjadi gerakan memanfaatkan lahan.
Singkong sendiri bukan tanaman dengan manfaat terbatas. Tanaman ini dapat menjadi bahan baku berbagai kebutuhan industri, mulai dari tepung mocaf, tapioka, gula cair, bioetanol hingga makanan camilan.
Karena itu, menurut Selfiandi, kesinambungan pasokan menjadi hal penting apabila ingin mengembangkan industri berbasis singkong.
“Agar kebutuhan industri berbasis singkong terpenuhi dalam jumlah besar dan kontinu, penting sekali melakukan budidaya tanaman singkong atau bermitra dengan para petani singkong,” tuturnya.
Pandangan tersebut membuat kebun di Kumendung tidak berhenti sebagai sumber daun singkong untuk rumah makan. Ada mimpi untuk memperluas pola kemitraan dengan petani dan pemilik lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Apalagi, kawasan lereng Merapi memiliki bentang lahan yang tidak semuanya mudah dimanfaatkan. Dalam berbagai kajian dan kategori pemerintah, sebagian kawasan tersebut masuk dalam klasifikasi lahan kritis, sangat kritis, atau lahan yang terdampak aktivitas erupsi. Selfiandi melihat kondisi itu sebagai peluang.
Lahan yang sebelumnya kurang produktif bisa ditanami. Warga bisa dilibatkan. Hasilnya bisa masuk ke rantai usaha kuliner maupun dikembangkan untuk kebutuhan industri berbasis singkong.
Pemandangan kebun singkong di Kumendung menawarkan cerita berbeda tentang lereng Merapi.
Di tengah panorama pegunungan, tanaman yang selama ini dikenal sederhana justru menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi masyarakat.
Bagi Selfiandi, menanam singkong juga memiliki makna yang lebih personal. Ia datang dari Payakumbuh dan membangun usaha di Yogyakarta. Dari kebutuhan rumah makan Padang, ia menemukan cara lain untuk beradaptasi sekaligus membangun hubungan dengan masyarakat setempat.
Ia berharap budidaya tersebut nantinya bisa membantu petani lokal yang tinggal di kawasan lereng Merapi.
Bukan sekadar mengambil hasil dari tanah, tetapi mengajak masyarakat ikut mengelola dan memperoleh manfaat dari lahan yang tersedia.
“Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya,” pungkas Selfiandi mengutip salah satu ayat dalam Al Quran.
Kalimat sederhana itu seolah menjadi penutup dari perjalanan yang bermula dari sepiring nasi Padang.
Dari kebutuhan daun singkong di rumah makan, tumbuh kebun di lereng Merapi. Dari kebun, muncul keterlibatan warga. Dan dari lahan yang sebelumnya kurang produktif, terbuka harapan untuk menghadirkan sumber penghidupan baru.
Di sana, singkong tidak hanya tumbuh sebagai tanaman. Ia tumbuh bersama sebuah gagasan: bahwa lahan yang terlihat biasa pun bisa menjadi awal perubahan ketika ada orang yang mau menanam, mengelola, dan mengajak orang lain tumbuh bersama. (Ridar)











