Pilih Dampingi Tamu Ketimbang Temui Rakyat, Absennya Bupati Sadewo di Aksi May Day Tuai Kekecewaan

oleh -
oleh
plt kadindik mewakili bupati banyumas saat menemui masa demo may day
PLT Kadindik (Amrin Ma'ruf) saat Mewakili Bupati Banyumas menemui Masa Demo May Day. Jumat (01/05/)

NASIONALNEWS.ID PURWOKERTO–Kekecewaan mendalam menyelimuti ratusan massa aksi gabungan mahasiswa dan elemen rakyat yang memadati halaman Pendopo Si Panji, Jumat (1/5/2026). Harapan untuk berdialog langsung dengan Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, dalam momentum Hari Buruh dan Hardiknas, berakhir dengan rasa hampa.

Massa yang membawa isu-isu krusial, mulai dari jeritan guru honorer hingga membengkaknya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Banyumas, merasa aspirasi mereka tidak menjadi prioritas utama bagi orang nomor satu di kabupaten tersebut.

Ditinggal demi Kunjungan ke TPST Ketegangan sempat memuncak saat massa memberikan ultimatum agar bupati segera keluar menemui mereka. Namun, atmosfer berubah menjadi rasa kecewa setelah Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspem), Nungky Harry Rachmat, naik ke mimbar memberikan penjelasan.

Nungky menyampaikan bahwa Bupati Sadewo tidak dapat menemui pendemo karena sedang mendampingi Walikota Magelang melakukan kunjungan kerja ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Banyumas.

“Kami sangat kecewa. Di tengah ribuan nasib buruh dan masa depan pendidikan yang sedang dipertaruhkan, Bupati justru lebih memilih mendampingi tamu ke tempat sampah daripada menemui rakyatnya yang berdiri di depan kantornya sendiri,” cetus salah satu orator dengan nada kecewa.

Tanda Tangan Pejabat Dinilai “Hanya Formalitas” Meski tuntutan akhirnya ditandatangani oleh Plt. Kadindik Amrin Ma’ruf dan Kepala Dinakerkop UKM Wahyu Dewanto, massa menilai hal tersebut belum cukup tanpa komitmen langsung dari kepala daerah. Baginya, kehadiran bupati secara fisik adalah simbol keseriusan pemerintah dalam menjawab krisis kesejahteraan di Banyumas.

Adapun beberapa poin mendesak yang dituntut massa meliputi:

  • Upah Layak & Tolak Omnibus Law: Mendesak perlindungan konkret bagi buruh lokal.

  • Krisis Pendidikan: Menuntut solusi nyata atas 15 ribu anak tidak sekolah dan kesejahteraan guru honorer.

  • Keadilan Agraria: Audit transparan terhadap pemanfaatan tanah di Banyumas.

Bubarkan Diri dengan Catatan Menjelang adzan Magrib pukul 17.40 WIB, massa mulai membubarkan diri dengan tertib namun membawa catatan hitam atas ketidakhadiran bupati. Kekecewaan ini disebut akan menjadi bahan evaluasi gerakan rakyat untuk aksi-aksi selanjutnya.

“Penandatanganan ini kami terima, tapi ketidakhadiran Bupati adalah luka bagi demokrasi di Banyumas hari ini. Kami akan terus menagih janji dan mengawal setiap poin ini hingga tuntas,” pungkas perwakilan massa aksi sebelum meninggalkan lokasi.

(Widhiantoro)

Editor: IMAM S

No More Posts Available.

No more pages to load.