NASIONALNEWS.ID PURWOKERTO– Kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tengah diguncang isu panas.
Aliansi Soedirman Melawan: resmi menyatakan perang terhadap segala bentuk kekerasan seksual dan penganiayaan yang mencoreng nama baik almamater mereka. Lewat pernyataan sikap tegas, aliansi ini mendesak Polresta Banyumas untuk tidak “main mata” dalam mengusut tuntas kasus yang kini menjadi sorotan publik.
Melawan Bias, Fokus pada Korban
Aliansi menyoroti derasnya informasi simpang siur yang berisiko menciptakan opini publik yang berat sebelah. Mereka menegaskan bahwa baik kekerasan seksual maupun penganiayaan adalah kejahatan serius yang tidak punya tempat di ruang akademik.
“Kami mengajak publik untuk tetap objektif. Jangan menggiring opini yang justru merugikan proses hukum dan mengabaikan keadilan bagi korban,” tulis mereka melalui akun @soedirmanmelawan
7 Tuntutan Harga Mati untuk Polresta Banyumas
Tak main-main, Aliansi Soedirman Melawan melayangkan tujuh poin tuntutan yang ditujukan langsung kepada aparat penegak hukum. Intinya? Mereka ingin proses yang cepat, bersih, dan berpihak pada korban. Berikut poin-poin utamanya:
1. Hentikan Intervensi: Usut tuntas kasus tanpa tekanan dari kekuasaan manapun.
2. Lindungi Korban: Jamin keamanan, kerahasiaan identitas, dan pemulihan psikologis tanpa reviktimisasi.
3. Bongkar Bukti: Ungkap kebenaran materiil melalui bukti digital dan non-digital secara menyeluruh.
4. Equality Before the Law: Junjung asas praduga tak bersalah namun tetap tegas.
5. Segerakan Tersangka: Jangan tunda penetapan tersangka jika alat bukti sudah sah.
6. Buka Suara: Polisi wajib melakukan konferensi pers transparan sebagai bentuk akuntabilitas publik.
7. Keamanan Saksi: Lindungi saksi dari ancaman kriminalisasi dan intimidasi sosial.
Kampus Bukan Arena Kekerasan
Kasus ini kini bukan lagi sekadar urusan internal Unsoed. Tekanan publik terus menguat, menuntut kampus kembali menjadi ruang aman (safe space), bukan tempat tumbuhnya budaya bungkam.
Dengan seruan CiptakanRuangAman, aliansi ini mengingatkan bahwa kegaduhan informasi tanpa verifikasi hanya akan memperparah luka korban. Perjuangan mereka jelas: memastikan hukum tegak seadil-adilnya bagi siapapun yang terlibat.
Hidup Mahasiswa! Hidup Perempuan yang Melawan! sebuah penutup lantang yang menandai bahwa perlawanan di Purwokerto baru saja dimulai.
(Widhiantoro)
Editor: IMAM











