NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menegaskan pentingnya membangun kesehatan masyarakat sejak awal kehidupan sebagai investasi untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berprestasi.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, M.M.R., di Aula Pangripta Bappeda Sleman, Selasa (18/8).
Mengusung tema “Sehat Sejak Dini, Berprestasi untuk Negeri”, Dinkes Sleman menempatkan kesehatan ibu, bayi, anak, remaja hingga dewasa sebagai rangkaian yang saling berkaitan. Kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan menjadi fondasi bagi tumbuh kembang anak, yang selanjutnya menentukan kualitas generasi pada masa mendatang.
Dokter Yuli menjelaskan, upaya kesehatan tidak semestinya baru dilakukan ketika seseorang mengalami sakit. Intervensi promotif dan preventif perlu diperkuat sejak dini, antara lain melalui pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, imunisasi, pemenuhan gizi, deteksi dini, serta penguatan peran keluarga, sekolah, puskesmas dan posyandu.
Dalam penanganan stunting, data Dinkes Sleman menunjukkan tren prevalensi terus menurun dalam empat tahun terakhir. Prevalensi stunting tercatat 6,88 persen pada 2022, turun menjadi 4,51 persen pada 2023, 4,41 persen pada 2024, dan 4,29 persen pada 2025.
Meski menunjukkan penurunan, intervensi tetap perlu diperkuat, terutama pada kelompok balita. Data tahun 2025 menunjukkan prevalensi stunting pada kelompok usia 24–59 bulan sebesar 4,85 persen, lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 0–23 bulan yang berada di angka 3,13 persen.
Kasus baru stunting juga masih ditemukan di seluruh kapanewon di Sleman. Kasus baru tertinggi pada 2025 tercatat di Ngaglik sebanyak 108 kasus, Kalasan 103 kasus, Mlati 86 kasus, Berbah 78 kasus, dan Seyegan 74 kasus.
“Deteksi dini menjadi sangat penting. Setiap anak yang memiliki risiko harus mendapatkan tindak lanjut yang jelas, baik melalui edukasi, kunjungan, pelayanan kesehatan maupun rujukan,” pesan dr. Yuli.
Selain stunting, perhatian juga diarahkan pada kesehatan ibu, neonatus dan bayi. Hingga Juli 2026 tercatat dua kematian ibu, dengan penyebab berupa preeklampsia.
Sementara itu, jumlah kematian neonatus hingga Juli 2026 tercatat 35 kasus, terdiri atas 22 kasus pada usia 0–6 hari dan 13 kasus pada usia 7–28 hari.
Penyebab terbanyak kematian usia 0–6 hari adalah asfiksia, sedangkan pada usia 7–28 hari didominasi prematuritas dan berat badan lahir rendah.
Untuk kematian bayi usia 29 hari hingga 11 bulan tercatat delapan kasus, dengan penyebab antara lain penyakit jantung bawaan (PJB) dan kelainan kongenital.
“Dengan demikian, total kematian neonatus dan bayi hingga Juli 2026 mencapai 43 kasus,” ungkapnya.
Dinkes Sleman menetapkan sejumlah fokus intervensi, antara lain pencegahan preeklampsia, peningkatan kualitas persalinan dan resusitasi neonatal, serta deteksi dini dan penanganan kelainan kongenital maupun penyakit jantung bawaan.
Di sisi lain, upaya menjaga kesehatan anak juga dilakukan melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
“Program ini merupakan imunisasi lanjutan bagi murid kelas 1, 2 dan 5 SD/MI/sederajat untuk mempertahankan perlindungan terhadap sejumlah penyakit,” terang dr. Yuli.
BIAS bertujuan antara lain mempertahankan eliminasi campak dan rubella, mempertahankan eliminasi tetanus maternal dan neonatal, mengendalikan penyakit difteri, serta mencegah kanker leher rahim sejak dini.
Pada BIAS 2026, sasaran kelas 1 mencapai 15.728 siswa, terdiri atas 8.139 laki-laki dan 7.598 perempuan. Sasaran kelas 2 sebanyak 15.749 siswa, terdiri atas 8.070 laki-laki dan 7.679 perempuan.
Sedangkan sasaran kelas 5 mencapai 16.291 siswa, terdiri atas 8.345 laki-laki dan 7.946 perempuan.
Pelaksanaan BIAS dilakukan pada Agustus dan November. Pada Agustus, kelas 1 mendapatkan imunisasi MR, kelas 2 imunisasi Td, dan kelas 5 imunisasi HPV. Sementara pada November, kelas 1 mendapatkan imunisasi DT dan kelas 5 imunisasi Td.
Menurut dr. Yuli, keberhasilan membangun generasi sehat membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Keluarga menjadi fondasi utama melalui pola makan beragam, aktivitas fisik, tidur cukup, perilaku hidup bersih, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Sekolah, puskesmas, kader posyandu, kapanewon, kalurahan, organisasi profesi, sektor swasta dan masyarakat juga perlu bergerak bersama agar deteksi, intervensi dan rujukan dapat berjalan tanpa terputus.
Dengan pendekatan tersebut, Dinkes Sleman mendorong agar kesehatan tidak hanya dipandang sebagai urusan pelayanan ketika masyarakat sakit, tetapi menjadi investasi jangka panjang sejak masa kehamilan hingga seseorang memasuki usia produktif.
“Keluarga kuat, masyarakat sehat, Sleman hebat,” menjadi pesan yang ditekankan dalam upaya bersama mewujudkan generasi Sleman yang sehat, cerdas dan berdaya. (Jat)









