Sekolah Induk Diminta Tak Cuma Tekan Angka ATS, Kemdikdasmen: Bagaimana Membentuk Karakter Kuat

oleh -
img 20260425 wa0660

NASIONALNEWS.ID, Kabupaten Tangerang – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) mengaku suatu persoalan dihadapi dalam bagaimana mengintegrasikan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dengan Pembelajaran Mendalam.

Karena, implementasi ini berkaitan dengan Pembelajaran Mendalam yang tidak hanya berfokus pada proses transfer dan transformasi pengetahuan semata.

Namun, ini juga perlu keterlibatan proses mental, kognitif, dan aspek pembelajaran lainnya yang terintegrasi secara utuh.

“Sekolah induk dan sekolah mitra terpilih memiliki peran penting bukan hanya sekadar menekan angka ATS (Anak Tidak Sekolah), melainkan juga bagaimana membentuk karakter mereka dan mengembangkan kompetensi yang kuat,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Kabupaten Tangerang pada Kamis (23/4/2026).

“Semoga program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan berkualitas.”

Kemendikdasmen terus memperluas akses PJJ guna membantu murid yang terkendala berbagai faktor seperti geografis dan ekonomi agar bisa tetap bersekolah, memperoleh layanan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan adil.

Pelaksanaan PJJ pada jenjang pendidikan menengah sebagai satuan pendidikan bisa memanfaatkan super aplikasi Rumah Pendidikan untuk sarana pembelajaran digital.

Platform ini ditujukan bagi guru dan murid supaya bisa mengakses beragam materi pembelajaran secara mudah dan fleksibel.

Guru pengampu PJJ dan tutor juga dapat mengunggah materi pembelajaran.

Jadi, para murid memiliki akses yang lebih luas untuk mengunduh, mempelajari, dan memperdalam materi secara mandiri kapan pun dan di mana pun.

PJJ jenjang pendidikan menengah ditujukan bagi ATS berusia 16 sampai 18 tahun.

Sementara itu Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Malaysia mengungkapkan program PJJ bisa memberikan solusi bagi ratusan murid Indonesia di wilayah Sabah, Malaysia, yang mengalami kendala untuk melanjutkan pendidikan.

“Dari sekitar 1.700 lulusan tingkat SMP setiap tahun, program PJJ akan mampu menampung lebih dari separuh murid yang sebelumnya tidak terakomodasi dalam program pendidikan formal reguler,” ucap Kepala Tata Usaha SIKK, Malaysia, Sukma Sabdani.

“PJJ bisa mengatasi mereka yang tinggal di wilayah terpencil, termasuk anak-anak Indonesia yang berada di kawasan perkebunan dengan jarak hingga ratusan kilometer dari pusat kota maupun SIKK.”

PJJ juga dinilai membuat murid tetap belajar di tengah aktivitas sehari-hari, termasuk membantu orang tua bekerja di perkebunan maupun di tempat lain.

“Ke depan, SIKK berencana untuk terus mengembangkan cakupan program PJJ agar dapat menjangkau lebih banyak murid, termasuk mereka yang telah bekerja, tetapi belum menyelesaikan pendidikan,” tuturnya.

“Semoga program ini dapat terus berlanjut dan mendapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah.”

Sementara itu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Ternate, Maluku Utara (Malut) mengemukakan sekolahnya telah melakukan berbagai persiapan untuk mendukung implementasi program PJJ.

SMAN 1 Ternate telah ditunjuk sebagai sekolah induk yang akan bekerjasama dengan tiga sekolah mitra, yakni SMAN 1 Halmahera Utara, SMAN 1 Pulau Morotai, dan SMAN 2 Halmahera Timur.

Kerjasama ini bertujuan memberikan layanan pendidikan yang lebih luas dan merata bagi anak-anak yang tidak dapat mengakses pendidikan formal.

“Program ini menjadi peluang besar untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum mendapatkan akses pendidikan, khususnya di daerah kami, Maluku Utara,” ucapnya.

“Melalui kolaborasi yang kuat dan dukungan pemerintah daerah, kami optimis dapat memberikan layanan pendidikan yang maksimal guna menekan ATS dan mewujudkan pendidikan yang bermutu.”

SMAN 2 Padalarang, Jawa Barat (Jabar) juga mendukung implementasi PJJ sebagai upaya memperluas akses pendidikan kepada murid yang tidak dapat mengikuti pembelajaran tatap muka secara langsung.

Sekolah ini telah memiliki pengalaman serupa dengan menyelenggarakan program SMA Terbuka.

Hal ini modal penting dalam mengelola pembelajaran PJJ.

SMAN 2 Padalarang sudah berkoordinasi dengan dinas pendidikan (disdik) dan berbagai sekolah di Jabar untuk memperkuat kesiapan implementasi PJJ.

“Program ini sangat membantu karena memfasilitasi murid yang tidak dapat hadir langsung di sekolah. Fokus PJJ saat ini juga diarahkan kepada anak-anak yang sempat berhenti sekolah agar dapat kembali melanjutkan pendidikan,” ujar Kepala SMAN 2 Padalarang, Kicky Eceu Wardani,

“Semoga implementasi PJJ ini berjalan baik dan membawa harapan baru untuk para ATS di wilayah Jawa Barat.”

No More Posts Available.

No more pages to load.