SBT Diproyeksi Naik Didukung Sektor Pertanian, Mentan Arman Klaim Sebagai Pengerak Ekonomi Nasional

oleh -
img 20260418 wa0190

NASIONALNEWS.ID, Jakarta – Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada triwulan I 2026 menyebutkan kegiatan dunia usaha dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,11%.

Angka ini turun dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 10,61%.

“Hasil SKDU mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2026 terjaga,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono.

Mayoritas lapangan usaha menunjukkan kinerja positif terutama sektor jasa keuangan, pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan, serta perdagangan besar dan eceran.

Kondisi ini didorong oleh kenaikan permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan nasional seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah, yang beriringan dengan musim panen.

Dari sisi operasional, kapasitas produksi terpakai pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 73,33% atau naik dari 73,15% dibandingkan pada triwulan sebelumnya.

Peningkatan ini didukung sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta industri pengolahan.

Kondisi keuangan dunia usaha juga dinilai baik dari likuiditas, rentabilitas, dan akses pembiayaan yang relatif lebih mudah.

Memasuki triwulan II 2026, dunia usaha diperkirakan akan mencapai peningkatan kinerja.

BI memproyeksikan SBT mencapai 14,8% didorong oleh sektor pertanian seiring musim panen komoditas pangan dan tanaman perkebunan.

“Responden memprakirakan kegiatan usaha pada triwulan II 2026 meningkat dengan SBT sebesar 14,8 persen,” ujar Anton Pitono.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman merespon capaian ini menjadi bukti sektor pertanian semakin kuat dan berperan sebagai fondasi utama ekonomi nasional.

“Pertanian hari ini bukan hanya penyangga, tetapi menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Ketika sektor lain mengalami tekanan, pertanian justru hadir sebagai solusi dan penopang utama,” ucapnya.

Penguatan sektor pertanian tidak terlepas dari berbagai langkah strategis yang telah dijalankan pemerintah, mulai dari percepatan tanam, optimalisasi lahan, pompanisasi, hingga perbaikan irigasi dan distribusi pupuk.

“Ini adalah kerja terstruktur dan berkelanjutan. Kita pastikan produksi meningkat, petani terlindungi, dan pangan tetap tersedia. Hasilnya sekarang mulai terlihat dan diakui oleh berbagai pihak,” ucapnya.

Berdasarkan nilai ekspor sektor pertanian (segar dan olahan) mengalami kenaikan sebesar Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26%.

Sementara itu impor turun sebesar Rp41,68 triliun atau terkoreksi 9,66%.

Kinerjanya memperlihatkan sektor pertanian Indonesia semakin kompetitif di pasar global.

Selain itu mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.

Beberapa saat lalu Arman Sulaiman mengemukakan capaian ini merupakan hasil dari strategi besar yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri,” tuturnya.

Pada sisi produksi komoditas utama seperti padi dan jagung mencapai peningkatan, cadangan beras pemerintah (CBP) dalam kondisi sangat aman.

CBP bergerak menyentuh bangka 5 juta ton.

“Cadangan kita tertinggi sepanjang sejarah. Ini bukan hanya soal angka, tapi soal rasa aman bagi rakyat Indonesia. 4,8 juta ton, akhir April 5 juta ton ini sudah terlihat. Kita pastikan stok cukup, harga stabil, dan petani tetap untung,” ucapnya.

Kinerja positif juga terlihat dari sisi kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35 tertinggi dalam 34 tahun terakhir.

Sementara itusektor pertanian juga mencatat pertumbuhan ekonomi. PDB sektor pertanian pada 2025 tumbuh 5,74%, tertinggi dalam 25 tahun terakhir.

No More Posts Available.

No more pages to load.