NASIONALNEWS.ID, Nganjuk — Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui kebutuhan kedelai nasional masih sangat bergantung dari pasokan luar negeri.
“Kita impor 2,4 juta ton Dari kebutuhan 2,6 sampai 2,7 juta ton nah ini yang paling jauh,” kata Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman.
Pernyataan ini disampaikannya saat panen kedelai bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Heudiati Soeharto dan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Agus Subiyanto di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim) pada Kamis (15/5/2026).
Data Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan kebutuhan kedelai nasional tahun 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton.
Dari jumlah itu sekitar 95% atau 2,6 juta ton masih dipenuhi dari impor.
Rata-rata produksi kedelai nasional selama lima tahun terakhir sekitar 227 ribu ton per tahun dengan luas tanam 136 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton per hektare.
Sampai April 2026 produksi nasional mencapai 4.982 ton dari luas tanam 7.018 hektare.
“Selama ini kita terlalu bergantung pada impor. Padahal lahan kita luas, petani kita mampu, dan teknologinya tersedia. Karena itu kita ingin kebangkitan kedelai nasional dimulai dari daerah-daerah produktif seperti Nganjuk,” ujarnya.
Andi Amran Sulaiman mengemukakan Jatim menjadi salah satu wilayah paling potensial dalam mendukung peningkatan produksi kedelai nasional.
Selama dua tahun terakhir, produksi kedelai Jatim rata-rata mencapai 54 ribu ton dengan luas tanam sekitar 28.100 hektare dan produktivitas 1,7 ton per hektare.
Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra penting dengan produksi rata-rata 8 ribu ton dari luas tanam 3.249 hektare dan produktivitas mencapai 2,2 ton per hektare.
“Produksi ini telah memenuhi sekitar 72% kebutuhan kedelai daerah setempat,” tuturnya.
Kementan, TNI AL, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk bekerja menanam kedelai seluas 2.000 hektare di Kecamatan Rejoso, Wilangan, dan Bagor sejak awal 2026
TNI menyebut total pengembangan kawasan mencapai 2.300 hektare dengan estimasi hasil panen sekitar 3.400 ton.
Untuk mendukung program tersebut, Kementan menyalurkan bantuan benih bersertifikat varietas Grobogan sebanyak 50 kilogram per hektare atau total 100 ton dan bantuan 20 unit traktor roda dua dan bajak singkal guna mempercepat pengolahan lahan.
Selain itu dukungan pasar diperkuat melalui kerja sama dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo).
Langkah itu dilakukan melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada 5 Maret 2026 berupa jaminan pembelian hasil panen petani.
Salah satu tantangan utama pengembangan kedelai, ujar Andi Amran Sulaiman, adalah harga di tingkat petani yang masih rendah, yakni berkisar Rp8.000–Rp9.000 per kilogram (kg).
Kondisi tersebut membuat minat petani menanam kedelai belum optimal.
“Tidak boleh kedelai dibeli di bawah Rp10.000 per kilo. Insyaallah, kami akan keluarkan keputusan dalam waktu singkat,” ujarnya.
Dengan begitu pemerintah mendorong penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) kedelai di kisaran Rp13.500 per kg.
Jadi, petani memperoleb keuntungan yang layak seperti halnya komoditas gabah dan jagung.
“Petani harus untung. Kalau harga bagus dan pasar terjamin, petani pasti semangat menanam kedelai. Negara harus hadir memastikan itu,” ucapnya.
Pemerintah juga memastikan hasil produksi benih yang dikembangkan bersama jajaran TNI akan dibeli dan dibagikan kembali kepada petani.
“Yang Bapak produksi, aku beli, baru dibagikan ke petani kembali,” tuturnya.
Selain itu menyiapkan bantuan benih kedelai untuk kebutuhan tanam seluas 2.000 hektare yang nantinya akan dibagikan gratis kepada petani di Nganjuk.
“Kami bayar nilainya 2.000 hektare, terus 2.000 itu diberikan kembali gratis pada petani Nganjuk,” ucapnya.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto menambahkan produktivitas kedelai di Nganjuk melampaui rata-rata nasional.
“Biasanya di nasional produksi per hektare itu 1,7 sampai 2 ton per hektare. Ini di sini bisa di atas 2 ton per hektare. Jadi bagus sekali,” ucapnya.
Percepatan swasembada kedelai dinilai penting dilakukan karena Indonesia merupakan konsumen besar tahu dan tempe tetapi masih bergantung pada impor.
“Indonesia bangsa yang makan tahu tempe setiap hari, tapi kedelainya harus impor. Kebutuhannya 2,6 juta ton per tahun tapi produksinya cuma 270 ribu ton,” ujarnya.
Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto meneruskan program pengembangan kedelai di Nganjuk harus menjadi model gerakan nyata yang dapat direplikasi secara nasional.
“Kegiatan penanaman kedelai di Nganjuk ini menggunakan varietas Grobogan, merupakan varietas unggul lokal asal Jawa Tengah yang memiliki produktivitas tinggi,” ucapnya.
“Saya berharap kegiatan penanaman kedelai ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tetapi menjadi model gerakan nyata yang dapat direplikasikan di berbagai wilayah di Indonesia,” ujarnya.
Ketua Poktan Rukun Tani Desa Mudikan, Suwito, mengaku bantuan benih dan dukungan pemerintah membuat petani kembali semangat menanam kedelai.
“Harga kedelai sekarang antara 9 sampai 10 ribu termasuk harga yang stabil, harga yang lumayan bagi petani,” ujarnya.
“Karena kemarin kan di bawah 9 ribu, tapi untuk saat ini karena ada program pemerintah seperti ini, harga kedelai bisa terangkat lagi.”






