Forpetab Wadah Untuk Generasi Muda Tambora.

oleh -
Img 20200619 180522

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Forpetab sendiri berdiri atas dasar kepedulian para pemuda dari 11 Kelurahan yang ada di Kecamatan Tambora Jakarta Barat, dan bertujuan untuk menjalin silaturahmi dan membangun potensi para pemuda Tambora yang akan bersinergi dengan tokoh masyarakat dan unsur tiga pilar.

Forpetab yang di ketuai Fery Riyan dan juga aktivis muda kelahiran Angke, mengajak para anggota untuk wisata religi berjiarah kemakam pendiri Tambora yang ada di Kelurahan Tambora Kecamatan Tambora, Jakarta Barat pada Kamis (18/6/20) malam.

Menurut Ferry Riyan tujuan dari wisata religi ke makam KH.Moestoyieb dan Ki Daeng sebagai perwujudan penghormatan atas jasa dalam menciptakan nama Tambora sebagai salah satu Kecamatan di wilayah Jakarta Barat.

Menurut sejarah K.H. Moestoyib dan ki Daeng berasal dari Makasar dan lama tinggal di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat tepatnya di kaki Gunung Tambora, dan pada tahun 1176 H (1756 M) beliau berdua dikirim ke Batavia oleh Kompeni karena menentang dan dihukum kerja paksa selama lima tahun, setelah bebas beliau tidak kembali ke Sumbawa, melainkan menetap di Kampung Angke Duri yang sekarang menjadi Tambora

“Kami ajak rekan rekan kesini sebagai wujud penghormatan pada pendiri wilayah Tambora, juga mencari ridho Allah serta keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat, kita belajar mati sebelum menempuh hidup yang hakikih,” ujar Peri Ryan pada awak Media.

Wisata religi ini selain diikuti oleh anggota Forpetab, juga diikuti pula oleh Remaja Islam Baitul Ikhsan (RISBI) yang dipandu oleh KH. Haerudin Syahroni, dan rombongan wisata religi ini diikuti kurang lebih 15 orang.

Menurut Ade Manansyah S.H selaku Kabid Hukum Forpetab, selain mengunjungi Makam KH.Moestoyib dan Ki Daeng, Rombongan melanjutkan kunjungan pada Makam Kramat Angke Pangeran Syarief Hamid Al-Kadrie Bin Sultan Syarief Abdurrahman Al-Kadrie yang berada di Jalan Pangeran Tubagus Angke Gg. Masjid Al Anwar Jakarta Barat, Kemudian diakhiri perjalanan ke Makam Habib Husein Bin Abubakar Alaydrus Luar Batang.

“Kami bisa mengunjungi tiga lokasi makam sekaligus dalam kurun waktu yang singkat karena fokus kami berziarah “, ujar Ade M menambahkan.

Terlepas dari bagaimanapun cara yang digunakan untuk meningkatkan religiusitas, dewasa ini, memang diperlukan dalam sebuah Organisasi. Terlebih lagi dengan adanya krisis integritas yang tengah terjadi di Indonesia. Ada kaitan yang cukup erat antara religiusitas dan integritas.

“Karena dengan tingginya religiusitas maka akan membuat Kita merasa senantiasa diawasi dan dekat dengan Tuhan, sehingga Kita pun enggan untuk berbuat hal buruk. Semoga dengan meningkatnya religiusitas ini para Anggota FORPETAB dan RISBI dapat menunjang perkembangan nilai-nilai Agama dan nilai Budaya,” tutup Ade Manansyah. (BB)