Nasionalnews.id, Jakarta – MUSEUM sering kal Bui dianggap sebagai ruang penyimpanan statis yang hanya bisa memajang artefak bisu.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bersama Museum Manusia Purba Sangiran menginisiasi sebuah terobosan melalui seminar ilmiah dan eksibisi karya berlabel “Menghidupkan Fosil Manusia Purba Menggunakan Bit Arrangement” yang digelar di Teater Luwes IKJ, Jumat (6/3) sore.
Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan. Ada Damar Rizal Marzuki, S.Sn., Dr. Dra. Ika Yuni Purnama, Pipit Meilinda, M.Sc, Retno Setiowati serta Jose Rizal Manua, S,Sn.,M.Sn yang didaulat sebagai pembanding dari presentasi seminar yang dibawakan oleh Dr Sudibjo, S.Sn.,M.Sn tersebut.
Menanggapi acara yang ada, Ketua Panitia sekaligus Kaprodi Teater IKJ, Damar Rizal Marzuki, S.Sn., M.Sn dalam sambutannya menyenut bahwa tema ini adalah dialog antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan praktik seni pertunjukan. Menurutnya, konsep bit arrangement memiliki kedekatan yang kuat dalam proses kreatif seni peran dan penyutradaraan.
Ia menegaskan agar kegiatan ini menjadi momentum penting pergeseran paradigma museologi di Indonesia, yang dari sekadar memamerkan benda sejarah menjadi ruang yang menawarkan pengalaman intelektual dan emosional bagi pengunjung.
Nah, bagaimana cara mengubah pemandangan fosil menjadi sesuatu yang hidup dan menyenangkan dibahas tuntas Dr Sudibjo, S.Sn.,M.Sn dalam seminarnya.
Selain sebagai seorang peneliti, dosen seni pertunjukan dan komunikasi radio & televisi IKJ ini juga merupakan seorang sutradara film yang cukup komprehensif.

Menurut Sudibjo, inisiatif menggelar acara ini lahir dari keinginan untuk membuat warisan masa lalu tetap relevan bagi generasi muda.
Sejalan dengan hal tersebut, Sudibjo dalam pemaparan materinya menyebut secara teknis bahwa, bit—yang dalam dunia teater merupakan satuan terkecil dari aksi—adalah kunci untuk “membangunkan” sejarah.
Sudibyo menawarkan model komunikasi museum yang menggabungkan seni pertunjukan realis dengan teknologi digital imersif, termasuk film tiga dimensi yang diproyeksikan dalam format bioskop 4D. Pendekatan ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih hidup bagi pengunjung museum.
Menurut Sudibyo, selama ini penyajian informasi di museum masih didominasi oleh tampilan artefak dan penjelasan tekstual. Melalui pendekatan baru tersebut, fosil manusia purba tidak hanya dipandang sebagai objek penelitian, tetapi juga direkonstruksi menjadi tokoh naratif yang hidup melalui rangkaian aksi dramatik.
Metode bit arrangement merupakan teknik dramaturgi yang membangun karakter melalui unit-unit tindakan dramatis. Teknik tersebut memungkinkan fosil manusia purba ditampilkan dalam alur cerita yang memiliki tujuan karakter dan narasi performatif.
Konsep tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk film imersif yang diproyeksikan di ruang pertunjukan museum.
”Fosil akan menjadi hidup jika memiliki bit. Tanpa itu, ia hanyalah robot. Bit arrangement adalah ilmu yang mengatur susunan aksi agar fosil yang tadinya hanya tulang, dapat ‘berdaging’ dan bercerita kembali melalui logika ruang, waktu, dan peristiwa,” Imbuh Sudibjo
Pelaksanaan dari konsep ini tentu akan diarahkan untuk memperkuat peran Museum Arkeologi Sangiran sebagai living museum, sebuah ruang pembelajaran – bukan hanya menyimpan artefak saja,- yang bisa menghadirkan pengalaman edukatif dalam menghubungkan pengetahuan ilmiah dan imajinasi publik.
Musium sebagai ruang dialog
Para pemangku kepentingan yang hadir menilai dan menyepakati kalau acara ini menjadi sesuatu hal yang penting dalam integrasi lintas disiplin.
Pada kesempatan itu, Ika Yuni Purnama dari rektorat IKJ menekankan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya menunggu cara baru untuk diceritakan kembali. Baginya, seni adalah alat penerjemah pengetahuan yang paling efektif.
Anggapan Ika diddukung oleh perwakilan Museum Manusia Purba Sangiran, Pipit Meilinda, M.Sc., yang berharap integrasi antara seni dan sains ini menjadi masa depan pengembangan museum di Indonesia.
“Kami ingin Sangiran tidak hanya menjadi pusat penyimpanan koleksi, tetapi menjadi ruang dialog yang dinamis antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.” Tegasnya seraya mengamini konsep yang diajukan Sudibjo.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Retno Setiowati, memberikan apresiasi tinggi atas terobosan ini. Ia menilai pendekatan bit arrangement sebagai jembatan yang menyegarkan antara presisi arkeologi dan kreativitas digital.
“Inovasi ini membuktikan bahwa fosil yang berusia ribuan tahun dapat dihidupkan kembali, memantik imajinasi, dan menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap warisan leluhurnya,” tutur Retno saat membuka acara secara resmi.
Sebelum diskusi dimulai, acara ini juga menampilkan keynot speaker Dr. Widyo Nugroho, M.M dari universitas Gunadarma yang ikut membawakan tema materi Dari Fosil ke Kesadaran.
Dr. Widyo Nugroho menekankan bahwa menghidupkan fosil bukan sekadar tugas teknis atau digital, melainkan upaya menghadirkan kembali kehidupan itu sendiri.
“Seni peran berfungsi sebagai jembatan antara data ilmiah dan pengalaman kemanusiaan. Teknologi tanpa kesadaran hanya melahirkan simulasi, tetapi teknologi yang berpadu dengan seni peran melahirkan pengalaman yang bermakna.” Imbuh Dr. Widyo yang juga memberikan rekomendasi strategis berupa riset integratif, standarisasi metodelogi, musium sebagai ruang hidup dan etika representasi diacara tersebut.
Diskusi dan Harapan ke Depan
Pada sesi diskusi suasana berjalan lancar. Dari penyajian materi yang dibawakan Sudibjo terdapat beberapa dialog dan sesi tanya jawab. Jose Rizal Manua yang mendampingi Sudibjo memberikan beberapa perbandingan dari isi materi diskusi dengan pengalaman-pengalaman yang dimilikinya.

Sementara Pipit Meilinda yang juga dihadirkan sebagai penyerta diskusi mampu memberikan banyak informasi tentang apa saja yang terkait dengan musium fosil Sangiran yang dikelolanya.
Secara umum beberapa pandangan menyebut kalau metode eksplorasi deskriptif di seminar ini berhasil merumuskan bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang mati. Dengan menggunakan sistem dramaturgi Stanislavski, pengunjung museum tidak lagi hanya menjadi pengamat pasif, melainkan terlibat dalam performance sejarah yang hidup.
Dari para akademisi, praktisi seni, dan peneliti yang hadir berharap kegiatan ini bukan sekadar menjadi pertemuan ilmiah satu kali, melainkan menjadi titik awal kolaborasi berkelanjutan antara dunia pendidikan, pemerintah, dan komunitas kreatif dalam merawat sekaligus memaknai peradaban manusia melalui kacamata seni.
—————————– Abie Mujib






