NASIONALNEWS.id YOGYAKARTA – Masjid Sultan Agung Yogyakarta kembali bersiap menjadi pusat perhatian selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Masjid yang berlokasi di Dusun Babadan Baru Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta itu tercatat sebagai bangunan situs budaya dan tercatat dalam sejarah kelam tentang kekejaman Bala Tentara Dai Nippon mengusir semua warga berikut bangunan rumah termasuk masjid demi kepentingan penjajah.
“Seperti Ramadan sebelumnya, siar Islam kembali memancar dari masjid yang punya sejarah tersendiri ini,” kata H. Heri Sutanto bendahara Takmir Masjid Sultan Agung kepada NasionalNews.id Rabu (18/2/2026).
Seperti kegiatan yang berlangsung dihampir semua masjid selama bulan puasa umumnya meliputi shalat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an, kajian keislaman (kultum/buka puasa).
“Selain itu selama puasa kita siapkan hidangan berbuka puasa gratis yang setiap hari disumbangkan para jamaah,” ujarnya.
Termasuk acara itikaf di 10 malam terakhir, serta pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah juga merupakan kegiatan rutin selama bulan puasa.
Masjid Sultan Agung Babadan Baru Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta tercatat sebagai bangunan situs budaya dan tercatat dalam sejarah kelam tentang kekejaman Bala Tentara Dai Nippon mengusir semua warga berikut bangunan rumah termasuk masjid demi kepentingan penjajah.
Pada zaman penjajahan Jepang yakni pada tahun 1940, Masjid Ad-Darojat dan masyarakat Babadan dipindah ke Desa Babadan Baru jalan Kaliurang, Kentungan, Sleman.
Perpindahan ini dikarenakan saat itu daerah Babadan Lama dijadikan gudang mesiu oleh pemerintah Jepang pada zaman penjajahan Jepang yakni pada tahun 1940, Masjid Ad-Darojat dan masyarakat Babadan Lama dipindah ke Desa Babadan Baru jalan Kaliurang, Kentungan, Sleman.
“Beberapa peninggalan sisa bangunan masjid Ad Darojat sampai sekarang masih bisa kita temukan dan dipasang di masjid Sultan Agung hanya itu yang saya ketahui,” kata Haji Heri Sutanto.
Sisa bangunan yang belum sempat dibawa kembali ke Masjid Ad Darojat antara 4 tiang Soko guru, bedug besar dan kentongan dan beberapa barang lainnya seperti lampu gantung yang antik yang biasa dipasang di tengah tengah ruang masjid yang raib digondol orang yang tidak bertanggung jawab beberapa tahun lalu.
Masjid Sultan Agung di Babadan Baru Condong Catur Depok Sleman dibangun para leluhur, warga secara gotong-royong bersama dengan dibangun kembali masjid di Babadan Lama Gedong kuning Banguntapan Bantul.
Warga Babadan Baru, Ibu Nur mengatakan, hubungan persaudaraan antara warga Babadan Baru dengan warga Babadan Lama sampai saat ini tetap terjalin akrab.
“Hubungan perseduluran tetap terjalin baik dan sudah merupakan kebiasaan menjelang tibanya bulan puasa kami berziarah ke makam leluhur yang dimakamkan di belakang masjid Babadan Lama begitu juga sebaliknya warga babadan lama berziarah kemakam keluarga dan kerabatnya dikomplek pemakaman kampung Babadan Baru yang dikenal dengan nama Makam Kolombo,” pungkas ibu Nur. (Ridar)






